Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tindaklanjuti Aspirasi 21 Gubernur, DPD RI Gelar FGD Dana Bagi Hasil Sawit
Politik
16 jam yang lalu
Tindaklanjuti Aspirasi 21 Gubernur, DPD RI Gelar FGD Dana Bagi Hasil Sawit
2
LaNyalla Desak Kapolri Usut Kasus Pembunuhan dan Penangkapan Jurnalis di Sulsel
Peristiwa
17 jam yang lalu
LaNyalla Desak Kapolri Usut Kasus Pembunuhan dan Penangkapan Jurnalis di Sulsel
3
Penguatan Identitas Kuliner Lokal, BOPLBF Gelar Pelatihan Makanan Siap Saji dan 'Packaging'
Peristiwa
16 jam yang lalu
Penguatan Identitas Kuliner Lokal, BOPLBF Gelar Pelatihan Makanan Siap Saji dan Packaging
4
PMN Gelontorkan Dana ke Jiwasraya, Fraksi PKS Sebut Menkeu Sakiti Rakyat
DPR RI
16 jam yang lalu
PMN Gelontorkan Dana ke Jiwasraya, Fraksi PKS Sebut Menkeu Sakiti Rakyat
5
Ngobras Bareng Pecinta Satwa, Ketua MPR Dorong Penangkaran dan Pelestarian Satwa
MPR RI
15 jam yang lalu
Ngobras Bareng Pecinta Satwa, Ketua MPR Dorong Penangkaran dan Pelestarian Satwa
6
"Bicara Buku bareng Wakil Rakyat", Dede Yusuf Soroti Isu Kesejahteraan PMI
Peristiwa
15 jam yang lalu
Bicara Buku bareng Wakil Rakyat, Dede Yusuf Soroti Isu Kesejahteraan PMI
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Di Palembang, Sandi Tegaskan Ekonomi Itu Berbeda dengan Politik, Bukan Sekedar Pencitraan

Di Palembang, Sandi Tegaskan Ekonomi Itu Berbeda dengan Politik, Bukan Sekedar Pencitraan
Jum'at, 17 Mei 2019 18:12 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
PALEMBANG - Terpuruknya neraca perdagangan dinilai Calon Wakil Presiden nomor urut 2, Sandiaga Salahudin Uno sebagai bentuk kurang cermatnya pemerintah dalam mengelola keuangan negara. Sebab, berbeda dengan politik yang sarat pencitraan, tata kelola ekonomi dibutuhkan perhitungan yang matang.

Hal tersebut disampaikan oleh Sandi dihadapan ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palembang di Aula Universitas Muhammadiyah, Jalan Jenderal Ahmad Yani 13 Ulu Seberang Ulu II, 13 Ulu, Plaju, Palembang, Sumatera Selatan pada Jumat (17/5/2019).

"Peringatan Ibu Menteri Keuangan tentang tanda tanda ekonomi
Menurun harus kita cermati. Politik bisa saja diurus dengan sekedar membangun persepsi, pencitraan. Tapi mengurus ekonomi ada logika sendiri, matematis dan sangat jelas hubungan sebab akibatnya," ungkap Sandi.

Kondisi tersebut ditunjukkan lewat sejumlah situasi, seperti tidak adanya investasi yang menyebabkan lapangan kerja serta pemasukan negara lewat pajak akan berkurang.

Kondisi serupa terjadi apabila pemerintah tidak menyusun kebijakan yang konsisten, sehingga berujung pada ketidakpastian hukum dan regulasi yang memicu sulitnya investasi masuk ke dalam negeri.

"Bila pemimpin pemerintahan tak mampu membangun stabilitas maka pengusaha akan was-was dan menahan diri untuk berinvestasi. Bila Penerimaan negara menurun, maka belanja akan menurun dan perputaran ekonomi nasional pasti akan terpengaruh," ungkap Sandi.

Begitu juga dengan penyelesaian masalah soal defisit neraca perdagangan yang kini terjadi. Defisit yang tercatat paling buruk sejak Indonesia merdeka itu menurutnya harus diselesaikan dari aspek mendasar, yakni kebijakan pemerintah yang berpihak kepada rakyat.

"Hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi tak mungkin diselesaikan tanpa penanganan aspek fundamental," tegasnya.***


wwwwww