Siapa Penumpang Gelap Aksi Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat?

Siapa Penumpang Gelap Aksi Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat?
Jum'at, 24 Mei 2019 02:02 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Aksi protes Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) atas dugaan kecurangan Pemilu Serentak 2019 yang berlangsung di Bawaslu RI pada 21 Mei diduga telah ditunggangi oleh pihak lain dan berujung kerusuhan yang meluas hingga 22 Mei 2019.

Polisi kemudian berhasil mengamankan ratusan orang dan ditersangkakan. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol. Muhammad Iqbal mengungkapkan, dua tersangka rusuh 21-22 Mei telah diidentifikasi terafiliasi dengan kelompok GARIS.

"Dua tersangka (dari) luar Jakarta (terafiliasi, red) dengan kelompok GARIS. Itu singkatan, GARIS," kata Iqbal kepada wartawan, Kamis (23/05/2019).

Iqbal melanjutkan, dari keterangan dua tersangka tersebut diketahui, mereka memang berniat untuk berjihad pada aksi Unras (Unjuk Rasa) tanggal 21 dan 22 Mei 2019. GARIS, juga diduga terafiliasi dengan ISIS Indonesia.

"Hal ini penting saya sampaikan kepada publik bahwa ada kelompok-kelompok penunggang ya, kegiatan unjuk rasa ini, berbagai kelompok ini, kelompok yang diduga kelompok yang terafiliasi pada ISIS," kata Iqbal.

Sebelumnya, lima terduga teroris juga sudah ditangkap oleh petugas gabungan dari Polres Garut, Brimob, dan Kodim 0611 Garut, saat petugas melakukan penjagaan di jalur Malangbong, Garut, Jawa Barat pada Selasa (21/05/2019).

Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna mengatakan pada wartawan, kelima orang tersbebut "Tujuannya mau ke Jakarta. Mereka mau ikut aksi tanggal 22 Mei,".

Sebelum penangkapan di Garut, Polisi juga menangkap Endang (51), terduga jaringan ISIS Indonesia di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. "Barang bukti bahan peledak sangat banyak. Ada juga satu detonator (pemicu ledakan) dan bom panci. Tergetnya, aksi massa 22 Mei di KPU di Jakarta, juga sasarannya pihak kepolisian. Untuk target polisi bisa kapan saja," ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo saat rilis di Bogor, Sabtu (18/05/2019).

Selain itu, para tersangka juga terdiri dari preman-preman bertato yang disebut sebagai perusuh bayaran. Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga mengungkapkan saat konferensi pers bersama Menkopolhukam, Wiranto, pada Rabu (22/5/2019) bahwa "mereka (tersangka, red) mengaku ada yang membayar,".

Unras berunjung kerusuhan ini, telah menelan banyak korban luka dan sedikitnya 8 orang tewas. Sepanjang giat pengamanan Pemilu 2019, polisi juga mengaku telah mengamankan senjata api, senjata tajam, mobil yang diduga terafiliasi dengan entitas politik dan sejumlah uang dalam amplop-amplop.

Pemerintah menegaskan aparat tak akan menggunakan senjata api, tapi ada korban tewas diberitakan meninggal dunia karena kena tembak. Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri pada Kamis (23/05/2019) mengatakan, "Hanya satu yang dinyatakan meninggal terkena peluru tajam, yang lain masih dalam proses autopsi,”.

Lalu siapa sebenarnya penembak yang menewaskan warga negara Indonesia di lokasi demo itu? Dan siapa sebetulnya penumpang gelap di Unras yang berujung huru-hara itu? Tak heran, Ombudman RI seperti disampaikan anggotanya, Ninik Rahayu di Jakarta pada Kamis (23/05/2019), berencana untuk segera meminta penjelasan Polisi.

"Kita tahu kemarin kejadiannya dan perlu kita dengarkan (dari polisi), bagaimana kemudian kalau hanya menggunakan peluru hampa dan karet, kenapa kok jatuh korban?" kata Ninik.

Sementara pengamat intelijen, Khoirul Fahmi, seperti dikutip dari liputan6.com mengatakan, "Kalau memang ada pihak ketiga ya jangan ditutup-tutupi, baik (pihak ketiga) dari peserta aksi atau penegak keamanan (jika, red) ada yang berkepentingan membuat Indonesia menjadi tidak aman. Tapi jangan juga nanti kemudian main tunjuk yang itu mengorbankan prajurit-prajutit di lapangan," ujarnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:DKI Jakarta, Politik, Pemerintahan, Peristiwa, GoNews Group

wwwwww