Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
Nasional
19 jam yang lalu
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
2
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
Sepakbola
17 jam yang lalu
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
3
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
Kemenpora
21 jam yang lalu
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
4
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
Kemenpora
20 jam yang lalu
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
5
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
Basket
22 jam yang lalu
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
6
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
DKI Jakarta
19 jam yang lalu
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
Home  /  Berita  /  DKI Jakarta

Idris Laena: Pancasila, Ideologi Jalan Tengah

Idris Laena: Pancasila, Ideologi Jalan Tengah
Minggu, 30 Juni 2019 17:11 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Sekretaris Fraksi Golkar MPR RI, Idris Laena mengungkapkan rasa bangganya pada para pendiri bangsa yang telah mendirikan Indonesia dan membuat Pancasila sebagai falsafah bangsa.

"Bagi sebagian besar orang, mungkin ini dianggap sebagai hal yang biasa saja.Tapi pernahkah terpikir oleh kita bahwa proses untuk merumuskan kalimat demi kalimat, serta merangkum dalam satu bingkai sakti yang dinamakan PANCASILA, bukanlah perkara mudah," kata Idris, Minggu (30/06/2019).

Idris lalu mengenang kunjungannya ke Perpustakaan Leiden University, di Negeri Belanda. Disana, Ia berdiskusi dengan bebetapa profesor.

Yang mengagetkan, kata Idris, adalah ketika mereka mengatakan, “kami tidak merasa pernah menjajah Indonesia, karena Indonesia baru ada setelah merdeka. Yang terjadi sebenarnya adalah bahwa Nedherland memiliki koloni, yang berupa kerajaan-Kerajaan yang ada di Nusantara”.

Lantaran pernyataan profesor itu, Idris mengaku makin kagum pada para pendiri bangsa Indonesia. 'Karena ternyata mereka mendirikan satu bangsa besar bernama Indonesia dari serpihan-serpihan kerajaan yang ada di Nusantara; yang terdiri dari puluhan ribu pulau, dengan ribuan bahasa dan keanekaragaman budaya dan agama,".

"Dan hanya dimulai dengan semangat para pemuda yang mendeklarasikan Sumpah Pemuda," kata Idris.

Yang menarik bahwa, para pemuda kita saat itu, 28 oktober 1928 berani bersumpah untuk, "Bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan Menjunjung bahasa yang satu, bahasa Indonesia”.

Padahal, kata Idris, secara teritori, wilayah yang akan mereka sebut Indonesia itu, masih berupa kerajaan-kerajaan yang ada di hamparan Nusantara.

Itu, kata Idris, belum bicara soal tradisi, budaya dan agama, yang begitu beragam. "Bagaimana mungkin bisa disatukan? Mungkin ummat Islam merasa mayoritas pada saat itu, tapi secara history, ummat Hindu sudah ada jauh sebelum Islam berkembang di Indonesia,".

Dengan telaah demikian, kata Idris, dirinya baru menyadari bahwa, "ternyata rumusan kalimat demi kalimat-kalimat yang disebut Sila dan kemudian diberi nama PANCASILA, adalah hasil kompromi atas semua persoalan diatas,".

Sekarang, kata Idris, masyarakat Indonesia patut bangga, bahwa bangsa besar bernama Indonesia yang pada saat itu diimpikan oleh pemuda dan para pendiri bangsa ini, benar-benar terwujud.

Karena itu, lanjutnya, bisa dibayangkan bagaimana Indonesia tanpa Ideologi dan dasar negara bernama Pancasila sebagai jalan tengah bagi berbagai perbedaan di tengah-tengah Bangsa Indonesia.***

wwwwww