Alfeandra Dewangga

Meniru Ketenangan Luke Shaw

Meniru Ketenangan Luke Shaw
Foto: pssi.org
Kamis, 15 Agustus 2019 16:21 WIB
Penulis: Azhari Nasution
HO CHI MINH - Nama Alfeandra Dewangga, mungkin untuk sebagian besar pecinta sepak bola Tanah Air, belum ada yang terlalu mengenalnya. Kalau sebelumnya kami mengulas sosok Rizky Ridho, tandemnya di jantung pertahanan barisan belakang Tim Nasional Indonesia U-18, kini gilirannya.

Lahir ke dunia pada tanggal 28 juni 2001 di Semarang, pemain ini memiliki nama lengkap Alfeandra Dewangga Santosa. Penampilan penggemar pemain belakang Manchester United, Luke Shaw itu tenang, efektif saat menghalau bola yang datang ke daerah pertahanan Garuda Nusantara.

Sosoknya juga tipe pekerja keras, serta memiliki stamina mumpuni. Dirinya bahu membahu dengan Rizky Ridho, Amiruddin Bagas, dan Salman Alfarid dalam menjaga pertahanan timnya.

“Ya, saya salah satu penggemar Luke Shaw, senang melihatnya bermain, sangat tenang dalam menjaga pertahanan Manchester United saat ini. Itu yang memberikan inspirasi saya dalam bermain,” bukanya, Kamis, 15 Agustus 2019.

Sejauh ini, gawang Garuda Nusantara hanya kemasukan empat gol. Hal itu tak lepas dari kontribusinya dalam tim dalam menjaga lini pertahanan tim bersama 10 rekannya yang lain.

Di sisi tengah barisan pertahanan, dia terlihat seperti memiliki ikatan kuat dengan Rizky Ridho. Dirinya pun langsung menjelaskan hal itu. “Cara saya membangun kekompakan dengan Ridho yaitu lebih sering komunikasi dengannya di lapangan maupun di luar lapangan. Begitu pula dengan teman-teman yang lain. Intinya disini, permainan tim, jadi saya harus bisa beradaptasi dan bergaul dengan semua teman satu tim,” jelasnya.

Diakui oleh pemain yang akrab disapa Dewa itu, saat pertama kali suka bermain bola berawal dari lingkungan keluarganya. “Saya suka sepak bola itu dimulai karena mengikuti serta melihat kedua kakak saya bermain sepak bola,” ceritanya.

“Namun pertama kali saya bermain sepak bola adalah pada saat saya kelas 1 Sekolah Dasar. Saat itu saya dilatih oleh coach Taufik, lalu kemudian saya mengikuti SSB bernama SSS yang terletak di Semarang,” katanya.

Dewa lalu terkenang saat-saat dimana dia berlatih sepak bola. “Saat itu, yang paling sering mengantar saya latihan sepak bola adalah Ayah. Beliau rela dan bangga mengantarkan saya berlatih. Apapun kondisinya. Itu yang membuat saya semakin semangat dalam berlatih,” kenangnya seperti dilansir pssi.org.

“Posisi saya pertama kali bermain bola yaitu sebagai pemain depan, aneh memang, karena saat ini saya malah menjadi pemain bertahan. Jadi begini, sebelum saya bermain di posisi pemain belakang, saya mengikuti seleksi PPLP Jawa Tengah dengan mencoba posisi bek kiri dan Alhamdulillah saya terpilih. Nah, saat seleksi di Cikarang bersama coach Fakhri, mungkin beliau melihat potensi saya sebagai bek tengah. Akhirnya saya seperti ini dan saya menikmatinya,” ungkap Dewa.

Ditanya mengenai perasaannya saat dipilih untuk pertama kalinya dalam seleksi Timnas U-18, Fakhri Husaini, Dewa tak percaya.

“Pertama kali saya terpanggil untuk seleksi Timnas U-18 pastinya saya terkejut dan tidak menyangka akan hal itu tetapi ini adalah kesempatan besar bagi saya. Pastinya, kedua orang tua saya pun bangga sekali melihat saya terpilih di Timnas U-18,” tuturnya.

“Mereka pun berpesan, untuk tetap semangat dan kerja keras dalam melakukan pemusatan latihan Timnas U-18. Apalagi saat saya terpilih untuk berangkat ke Vietnam. Karena ini semua kesempatan bagus dan pengalaman berharga bagi saya,” sambungnya.

Orang tuanya memberikan semangat dan pesan khusus untuk Dewa saat dirinya bermain di Vietnam. “Wejangan, atau pesan yang orang tua saya berikan kepada saya yaitu, jangan pernah menyerah dengan keadaan apapun itu, tetap berdoa dan ingat kepada Allah. Dan yang terakhir adalah jangan pernah meninggalkan ibadah,” tegasnya.


wwwwww