Loading...    
           

YHK, Bangunan Harapan untuk Indonesia Warisan Orba

YHK, Bangunan Harapan untuk Indonesia Warisan Orba
Abizar (dalam pelukan Ibunya), balita pencari video sholat di gadget saat berjuang melawan polusi ketimpangan di kolong jalan layang Jakarta. (Foto: Zul/GoNews.co)
Kamis, 22 Agustus 2019 04:48 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
HARAPAN untuk Indonesia. Setidaknya itulah pikiran besar Yayasan Harapan Kita (YHK) sejak didirikan pada Agustus 1968 silam oleh Ibu Negara, Ibu Tien Soeharto, dengan tujuan putih; mempertinggi kesejahteraan rakyat Indonesia dalam arti seluas-luasnya.

Petikan asa Ibu Tien Soeharto pada 23 Agustus 1968 yang berbunyi, "Mengkreasi Harapan untuk Indonesia", terus dijaga oleh sang putri yang menjadi penerusnya, Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut Soeharto dalam metamorfosa, "Melanjutkan Membangun Harapan untuk Indonesia", pada 23 Agustus 2018 lalu.

"Ibu berpandangan, pembangunan sumber daya manusia menuju manusia yang berkualitas harus dimulai sejak anak berada di kandungan sampai nanti sehat hingga dewasa," kata mantan Presiden Soeharto kepada sejumlah wartawan, Rabu, 08 Juli 1998 silam, yang dipublikasikan Yayasan Dharmais pada 29 Maret 2017.

Pak Harto, kala itu tengah mengisahkan alasan pendirian Rumah Sakit Anak dan Bersalin oleh Yayasan Harapan Kita pada 22 Desember 1979. RSAB itu, kini menjadi Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita setelah resmi diserahkan pada Negara (Departemen Kesehatan RI) pada Juni 1998.

Ini, hanya satu dari buah harapan yang diprakarsai Ibu Tien Soeharto melalui Yayasan Harapan Kita, yang kemudian diserahkan pada negara-tidak menjadi milik Yayasan.

Selain RSAB, tercatat sejumlah aktualisasi harapan Bu Tien lainnya melalui Yayasan Harapan Kita, yakni Rumah Sakit Jantung Harapan Kita yang pada 27 Maret 1985 mulai diserahkan kepada Negara dan kini dikenal sebagai Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK).

Sesuai dengan butir ejawantah dari tujuan besar pendirian Yayasan Harapan Kita yang ditetapkan Ibu Tien yakni, "(1) memberi bantuan baik moril maupun materil kepada instansi dan lembaga (untuk) meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan (2) mendirikan bangunan-bangunan dan rumah-rumah yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat,", bangunan harapan Indonesia pun tak hanya berwujud Rumah Sakit untuk kesehatan insan bangsa tapi juga bangunan lain untuk asa pembangunan budaya dan pendidikan putra-putri Ibu Pertiwi.

Sebut saja Perpustakaan Nasional atau Perpusnas. Gedung utama Perpurnas kini yang dulunya lokasi Koning Willem III School, merupakan peran nyata Yayasan Harapan Kita untuk menggabungkan perpustakaan nasional yang semula tersebar di 4 lokasi, dan Taman Mini Indonesia Indah atau TMII, yang diresmikan pada 20 April 1975 dan resmi diserahkan kepada negara pada 1977.

Tak semua rakyat Indonesia tahu bahwa bagunan-bangunan ini adalah buah karya asa kemanusian Ibu Tien Soeharto. Jutaan rakyat yang telah berobat di RS Harapan Kita misalnya, belum tentu banyak yang engeh soal sejarah ruangan dan ranjang yang menemani penyembuhan sakitnya.

Dherma hati mendiang Pak Harto dan istrinya Ibu Hartinah (Tien Soeharto) dalam jejak senyap kemanusian itu, dinilai masih sangat dibutuhkan era kini.

"Harapan implementasi berkelanjutan atas dua butir terjemah dari tujuan pendirian Yayasan Harapan Kita itu, kini berada di pundak sang titisan Ibu Bangsa ya, yakni Ibu Tutut Soeharto (Ketum YHK saat ini, red)," kata Abdul Aziz Hasan, Pengamat Sosial Keumatan, Rabu (21/08/2019).

Gerak sosial Cendana melalui Yayasan Harapan Kita, hanyalah satu dari sekian jalur 'berbuat' trah 'Harto' yang membuktikan Orde Baru diisi oleh perjuangan 'dari rakyat untuk rakyat' agar 'mempertinggi kesejahteraan rakyat Indonesia dalam arti seluas-luasnya'.

"Karena diantara banyak yayasan yang digagas mendiang Pak Harto dan Bu Tien, ada juga yang fokus pada bantuan pendidikan dan kebencanaan lho," ujarnya.

Asa 2019 di HUT Yayasan Harapan Kita ke 51

Agustus 2019, akan menjadi memorial Yayasan Harapan Kita dalam membangun asa putra-putri Bangsa meski Cendana tak lagi berkuasa. Gerak laku kemanusian dalam senyap-menuai pahala tanpa riuh penilaian manusia, seperti yang dilakukan Cendana melalui Yayasan Harapan Kita dan yayasan lainya, semoga bisa tetap berlanjut melalui karya-karya berikutnya dalam dukungan negara.

Setidaknya, itu yang diharapkan Botak (bukan nama sebenarnya), pengamen jalanan yang anak balitanya, Abizar, berkata meski tak fasih, "Ayah, sholat?", sambil memegang gadget saat istirahat di trotoar salah satu persimpangan jalan Ibu Kota.

Dunia memang telah memasuki era disrupsi, tapi nilai manusiawi tak lekang oleh teknologi. Apalah guna pengembangan AI (artificial inteligent) dan pembangunan konstruksi-konstruksi tinggi jika tak bisa dinikmati oleh anak negeri atau malah menelantarkan Abizar dan kaumnya?

Seperti ujaran Ibunda Abizar, "yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin," sembari memandangi jalur LRT yang tengah dibangun di atas tempatnya mengais logam rezeki.

Abizar yang tumbuh dengan gadget di kolong jalan layang metropolitan, telah membuktikan bahwa Ia tak terkontaminasi dengan 'polusi' ketimpangan.

Pertanyaannya, dimana peran negara dalam upaya turut membentuk Abizar, si balita lampu merah, yang mencari tayangan shalat dalam gadget itu? Tak heran jika mendiang Pak Harto meniti jalan kerakyatan untuk kemanusian karena daya negara yang terbatas.

"Orang bisa berkata apa saja melihat Abizar dibawa mengamen oleh ayah ibunya, tapi yang saya tahu, anak saya butuh saya," kata Botak mempertahankan perjuangannya untuk asa masa depan Abizar di bawah pesimisme atas peran negara, Rabu (21/08/2019).

Agustus 2019, bulan peringatan kemerdekaan RI ke 74 dan bulan HUT Yayasan Harapan Kita ke 51 diharap menjadi anak tangga berikutnya untuk capaian upaya-upaya senyap kemanusian dari trah Cendana.

"HUT Kemerdekaan RI ke 74 yang tema peringatannya ditetapkan Istana, 'SDM Unggul, Indonesia Maju' semoga bisa aktual dan bukan sebatas tema," kata Abdul Aziz.

Terlalu banyak persoalan humaniora di Indonesia ini, BPJS (kerakyatan tapi boncos), Sekolah Berkualitas yang murah atau kalau perlu gratis bersyarat, Gaji yang sepadan dengan biaya hidup, semua masih jadi persoalan.

"Jika negara berat menanggung semua itu di tengah situasi ekonomi saat ini dan hutang negara yang tinggi, saya kira tak buruk juga untuk belajar dari pendahulu (Pak Harto dan Bu Tien) untuk senyap dan efektif menghidupkan apa yang dibilang 'dari rakyat untuk rakyat'" ujar Aziz.

"Bukankah kolaborasi itu tren populis?" ujar Aziz.

Sembari tersenyum lulusan Persis A. Hasan ini memungkasi, "dengan bahasa lawas mungkin bisa saya bilang, 'Tuan mungkin alergi Orba, tapi yakinkah Tuan untuk Alergi juga dengan Pemimpin yang mengajak pada kemanisan akhirat?'".

Kembali mengutip pernyataan Pak Harto kala diwawancarai 48 hari pasca pengunduran dirinya sebagai Presiden RI, "Mereka yang sukses itu jangan hanya menikmati kesenangan hidup di dunia saja, tapi coba memikirkan yang akhirat. Karena itu mereka saya ajak. Sebagian dari penghasilan mereka disumbangkan kepada orang-orang miskin. Dalam rangka PMA, bukan penanaman modal asing, tapi penanaman modal akhirat,".***


       
        Loading...    
           
wwwwww