Beban Pekerja Migran yang Hendak Tuntut Majikannya di Jepang Ini, Mirip Beban para Ojol di Indonesia

Beban Pekerja Migran yang Hendak Tuntut Majikannya di Jepang Ini, Mirip Beban para Ojol di Indonesia
Zhang, seorang penjahit asal China duduk di ruang tengah di tempat penampungan migran di mana ia bekerja sambil menyusun kasus untuk menuntut majikannya. (Foto: BBCIndonesia)
Senin, 26 Agustus 2019 21:06 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Zhang, pekerja migran asal China, mengaku bekerja berlebihan dengan bayaran kurang untuk membuat pakaian merk internasional yang terkenal.

Zhang dan teman-temannya berada di bawah skema imigrasi pemerintah, yang kini mendapat sorotan karena besarnya laporan eksploitasi yang dilakukan perusahaan Jepang berdasar skema ini.

Kisah pilu Zhang, perempuan China berumur 51 tahun yang pandai menjahit ini, bermula ketika pemerintah Jepang membuka kesempatan program magang untuk pekerja yang lebih tua, Zhang mendaftarkan diri dengan gembira.

Tahun 2015, Ia mendapat pekerjaan menjahit di sebuah perusahaan kecil, tapi pekerjaannya sangat berat.

"Saya bekerja sangat keras, sampai kepala saya sakit dan kaki saya bengkak," katanya.

"Malam hari saya menangis karena sakit kepala," tutur Zhang kepada BBC.

Zhang mengaku mulai bekerja jam 6.30 pagi dan selesai lepas tengah malam. Di enam bulan pertama ia mengaku tak boleh cuti barang sehari.

"Majikan saya berkata, lebih banyak saya produksi, lebih besar uang saya dapat. Maka saya pun kerja sangat keras."

Sekitar setahun setengah, ia baru sadar bahwa lemburnya tak pernah dibayar. Menurutnya, majikannya mengambil gajinya tiap bulan, dan berjanji akan memberinya suatu hari nanti.

Dua perempuan lain yang bekerja di perusahaan yang sama membuat pengakuan serupa. Majikan mereka mengambil gaji mereka tiap bulan, dan mereka akui belum dibayar.

Mereka juga mengaku bekerja dan tinggal di gedung yang sama, dan tidak boleh keluar selama berminggu-minggu.

Perusahaan tempat Zhang bekerja pun, membantah pengakuan miring itu. Kata mereka, Zhang dibayar dengan tepat termasuk lemburnya, dan tak ada gajinya yang diambil. Mereka juga bilang, "tak mungkin kami menawari hanya sehari libur dalam sebulan,".

Mereka menyatakan, pengakuan bahwa pegawai tak boleh keluar gedung tak beralasan, dan mengirim foto staf mereka, termasuk Zhang, yang sedang duduk di gerai makanan di sebuah pusat perbelanjaan.

Di foto itu, Zhang tersenyum dan makan es krim.

Dalam sebuah laporan tahun 2017, pemerintah Jepang mengakui adanya penyalahgunaan wewenang dalam program magang. Laporan ini menyatakan 70% dari 6.000 perusahaan telah melanggar peraturan tenaga kerja terkait lembur ilegal atau tak membayar lembur.

Pegiat di bidang pekerja migran menyatakan, masalah ini banyak terjadi di industri pakaian.

Pengakuan Beban Kerja dan Pendapatan Pengemudi Gojek

Kisah pilu beban kerja Zhang di Jepang yang dimuat BBC Indonesia itu, hampir mirip dengan beban kerja para ojek online di Indonesia.

"Saya itu berangkat jam enam (06.00 WIB, red) pagi, (setelah sempat istirahat, pulang dan kembali melanjutkan kerja, red) pulangnya lagi jam sebelas malam (23.00 WIB, red)" ungkap pengemudi Gojek yang ditumpangi wartawan GoNews.co pada 18 Agustus 2019, lalu.

Kaget dengan jam kerja yang panjang itu, GoNews.co mencoba memperjelas kembali dengan menyebut kalkulasi, "berarti 17 jam Pakde?".

"Ah masak?" dia tersentak dan seoalah baru menyadari bahwa Ia bekerja selama itu setiap harinya.

"Tapi kan ada istirahatnya tadi itu!" kilah Bapak pengemudi Gojek itu. Hingga akhirnya dikalkulasi, beban kerjanya menjadi pengemudi Gojek sekira 14 jam per hari.

Dalam perjalanan dari Jl. Bangka ke Stasiun KRL Palmerah, Jakarta itu, pengemudi Gojek ini mengungkap pendapatannya.

Dalam satu pekan terakhir, Ia telah menyelesaikan order (pekerjaan ojek) sebanyak 147 kali, dan menyimpan pendapatan bersih sekira Rp 1 jutaan.

"Itu nggak full, paling cuma 4 harian, kan saya abis pulang kampung. Biasanya bisa 200an (order, red) seminggu," kisahnya.

Baginya, pendapatan sebesar itu sudah sangat patut disyukuri. Penghasilan menjadi driver Gojek Rp 1 jutaan untuk 4 hari kerja, atau sekira Rp 250 ribuan per 14 jam kerja, baginya adalah angka yang cukup.

Sesekali, Ia juga bisa memperoleh pendapatan kotor Rp 400-500 ribuan per hari jika nasib sedang mujur. Uang tips dari konsumen dan bonus penuh dari perusahaan Gojek (senilai lebih dari Rp 200 ribu, red), menjadi penyokong besarnya pendapatan.

Ia tak nemampik, jika penghasilan sebagus itu, tak dialami oleh semua pengemudi Gojek. Ia menjelaskan, jika ada pengemudi Gojek yang berpenghasilan jauh di bawah itu, maka itu karena pengemudi tersebut, "malas, suka pilih-pilih order,".

"Ya kan makin banyak dikerjain makin banyak pendapatan," katanya.

Bagi pengemudi yang malas dan pilih-pilih order, kata Dia, akun Gojeknya akan sulit mendapatkan order.

"Ibarat kita kerja, makin kita rajin, makin dikasih terus orderan ama bos. Kalau males, ngapain bos ngasih kerjaan lagi. Ini kok males tapi maunya bonus," tukas dia.

Pegemudi Gojek ini, jelas begitu menikmati pekerjaannya. Jam kerja yang Ia lakoni lebih dari jam kerja normal (8 jam per hari) itu tak dirasanya.

Jikapun muncul kalkulasi pendapatan tarifnya menjadi demikian kecil ketika dikurang dari tips dan bonus perusahaan (capaian poin), itu tak jadi soal.

Baginya, Gojek sangat membantu untuk menafkahi istri dan anak-anaknya di kampung.***


wwwwww