Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
13 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
15 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
3
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
10 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
4
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
KOI
14 jam yang lalu
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
5
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
11 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
6
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Hukum
12 jam yang lalu
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Home  /  Berita  /  Badminton

Papua Rusuh Lagi, Fahri Hamzah: Presiden Bertindak dan Sikapilah Aksi Itu

Papua Rusuh Lagi, Fahri Hamzah: Presiden Bertindak dan Sikapilah Aksi Itu
Bedah buku Fahri Hamzah bersama Rocky Gerung di Gedung Nusantara. (GoNews.co/Muslikhin)
Kamis, 29 Agustus 2019 16:48 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Masih terkait kasus rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya, Provisi Papua yang dikenal dengan 'Bumi Cendrawasi' itu kembali rusuh, sejak Rabu (28/8/2019) kemarin. Kali ini, kerusuhan terjadi di Deiyai, Papua yang mengakibatkan sejumlah korban tewas, baik dari aparat maupun warga sipil.

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah pun kembali angkat bicara menyikapi aksi kerusuhan tersebut. Dia mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk berbicara dan menyampaikan sebuah rencana menghentikan rusuh akibat kasus rasisme itu.

"Pak Presiden perlu segera bertindaklah. Lakukan sesuatu yang menenangkan jiwa Papua yang tengah bergolak. Apakah Bapak belum mendengarnya?
Berarti benar, disekitar Bapak ada tembok raksasa, kuping Bapak seperti disumbat tisu basah bila tidak mendengar," kata Fahri kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (29/87/2019).

Karenanya, Fahri mengaku sangat mengkhawatirkan kemampuan pemerintah memahami kompleksitas masalah, dan mencemaskan kemampuan mereka menggunakan mandat lama dan mandat baru dalam mengelola dinamika yang ada.

"Saya khawatir mereka anggap remeh masalah sampai kita menyesal dan tak bisa lagi menyesal. Media tidak memberitakan bukan berarti tidak ada peristiwa, dan media memberitakan bukan berarti peristiwa ada. Hari ini kita melihat apa yang sebenarnya ada dan apa yang sebenarnya fiksi belaka. Papua bergolak Pak," ujar dia.

Kesempatan itu, Pimpinan DPR RI Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) itu mengingatkan bahwa Papua adalah anak kandung Republik Indonesia, bukan anak angkat, apalagi anak tiri. Maka, terimalah sepenuhnya.

"Yang melukai Papua adalah yang melukai kita. Nyatakan sakit penyesalan dan maaf, kalau ingin tetap dianggap orang tua dan saudara," imbuh inisiator Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu lagi seraya mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendoakan para petugas TNI dan Polri di lapangan agar selalu dilindungi Allah SWT dalam pelaksanaan tugas negara.

Kerusuhan kembali di Papua sebagaimana disampaikan Kapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Cpl Eko Daryanto berawal dari aksi unjuk rasa yang dilakukan masyarakat Kabupaten Deiyai, Papua, dengan tuntutan referendum. Jumlah massa aksi demo di Deiyai Papua ini, kurang lebih seratus orang dan berlangsung di depan di Kantor Bupati Deiyai pukul 13.00 WIT.

Kemudian sekira pukul 14.00 WIT, kurang lebih seribu orang dari beberapa wilayah berkumpul di lapangan Wagete Kabupaten Deiyai. Massa yang membawa senjata tradisional panah, parang, dan batu tersebut kemudian bergerak menuju Kantor Bupati Deiyai. Massa kemudian melakukan aksi anarkis dengan melakukan pelemparan kearah aparat keamanan dan Kantor Bupati.

Aksi yang menuntut Bupati Deiyai untuk menandatangani referendum ini, awalnya aparat kepolisian dan TNI sempat berhasil bernegosiasi. Namun, saat negosiasi masih berlangsung, sekitar seribu orang tiba-tiba datang ke lokasi dari segala penjuru.

Mereka membawa senjata tajam dan bahkan diduga juga membawa senjata api dan menyerang aparat. Pada saat itulah kontak tembak antara massa dengan aparat terjadi yang mengakibatkan satu anggota TNI AD gugur dan lima anggota Polri terluka (akibat) panah.

Satu di antara personel TNI yang meninggal bernama Serda Rikson dan lima anggota lainnya mengalami luka akibat terkena anak panah dilarikan ke Rumah Sakit Enarotali untuk mendapat perawatan.***

wwwwww