Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
Pemerintahan
9 jam yang lalu
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
2
'Gelora Kemerdekaan 2020' dan Launching API GELORA di HUT RI ke-75
Politik
12 jam yang lalu
Gelora Kemerdekaan 2020 dan Launching API GELORA di HUT RI ke-75
3
DPP PAN Tegaskan Muswil PAN Riau Digelar Akhir Agustus 2020
Politik
11 jam yang lalu
DPP PAN Tegaskan Muswil PAN Riau Digelar Akhir Agustus 2020
4
Kuatkan Hubungan Kerjasama Antar Negara saat Pandemi, Azis Syamsudin Temui Dubes Singapura
Politik
11 jam yang lalu
Kuatkan Hubungan Kerjasama Antar Negara saat Pandemi, Azis Syamsudin Temui Dubes Singapura
5
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
Politik
10 jam yang lalu
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
6
Islam Kembali Dihina, Muhammadiyah Imbau Umat Muslim Tidak Terpancing
Peristiwa
11 jam yang lalu
Islam Kembali Dihina, Muhammadiyah Imbau Umat Muslim Tidak Terpancing
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Ketua MPR Desak Pemerintah Ciptakan Kurikulum yang Perkuat Jiwa Kebangsaan

Ketua MPR Desak Pemerintah Ciptakan Kurikulum yang Perkuat Jiwa Kebangsaan
Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (ketiga kiri) di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2019). (Foto: Dok. GoNews)
Senin, 16 Desember 2019 14:50 WIB
JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet), mendesak pemerintah untuk mulai berupaya memperkuat jiwa kebangsaan, atau yang lazim dikenal dengan ungkapan nation character building.

Penguatan jiwa kebangsaan Indonesia ini relevan menyasar orang muda Indonesia, karena perubahan zaman dan derasnya impor budaya asing telah menyebabkan sebagian orang muda masa kini nyaris kehilangan jati diri ke-Indonesia-annya.

"Ada indikasi lunturnya jiwa kebangsaan di kalangan orang muda," ungkap Bamsoet kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/12/2019).

Adanya sikap dan pola pikir intoleran serta radikalisme yang menyusup ke satuan pendidikan tingkat dasar hingga atas, merupakan fakta yang menurut Bamsoet, tak terbantahkan.

"Lalu, 10 perguruan tinggi sudah terpapar radikalisme. Pada pertengahan Juni 2019, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengungkapkan, sekitar 23 persen penduduk Indonesia menolak eksistensi ideologi Pancasila, dan sembilan persen penduduk Indonesia setuju menggunakan kekerasan untuk mendirikan negara khilafah," ungkap Bamsoet.

Ketua MPR mengingatkan, jiwa kebangsaan Indonesia sudah lama dibentuk dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dilandasi spiritualisme dan nasionalisme, lima sila dari Pancasila telah menjadi pijakan jiwa kebangsaan Indonesia.

Di dalamnya, jelas Pimpinan Rumah Kebangsaan ini, mencakup pembangunan dan pembentukan budi pekerti yang baik, perilaku hidup bermasyarakat yang toleran hingga semangat persaudaraan dengan bangsa lain. "Dan karenanya, sejak dahulu kala, dunia mengenal keberagaman warga bangsa Indonesia sebagai komunitas masyarakat yang santun dan toleran,".

"Namun, generasi orang tua masa kini tidak sepenuhnya menurunkan warisan itu kepada anak-cucu atau orang muda Indonesia masa kini, sehingga mereka menjadi sangat mudah untuk menerima ideologi atau ajaran sistem nilai yang diimpor dari tempat lain," kata Bamsoet.

Akibatnya, lanjut Bamsoet, "memang fatal," karena sebagian orang muda seperti tidak memiliki jiwa kebangsaan Indonesia itu.

"Apa yang terlihat sekarang ini adalah gejala lunturnya jiwa kebangsaan Indonesia itu pada sebagian orang muda. Bahkan ada kelompok yang tidak lagi merasa bangga sebagai orang Indonesia. Semua itu layak dilihat sebagai sebuah kerusakan. Dan, sudah barang tentu kerusakan itu harus diperbaiki," kata dia.

Saat ini, menurut Bamsoet, sudah ada momentum untuk melakukan perbaikan atas kerusakan itu, karena dalam lima tahun ke depan, pemerintah akan fokus membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia. "Kemendikbud dan Kemenristek pasti fokus mendorong anak didik dan mahasiswa untuk membangun kompetensi. Pilihan ini tidak salah, dan memang sudah seharusnya begitu,".

Namun, lanjutnya, karena ada kenyataan bahwa sebagian orang muda nyaris kehilangan jati diri ke-Indonesia-annya, kedua kementerian itu diharapkan bisa menyisipkan kurikulum yang menyentuh pembangunan karakter atau jiwa kebangsaan Indonesia.

"Dengan pendekatan seperti itu, pondasi NKRI akan semakin kokoh di masa depan," pungkas Bamsoet.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Politik, Pemerintahan, Pendidikan, GoNews Group

wwwwww