Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kata Hetifah tentang PJJ 'Hybrid'
DPR RI
22 jam yang lalu
Kata Hetifah tentang PJJ Hybrid
2
Nono Sampono: Indonesia Harus Waspadai Perkembangan Strategi Kawasan Asia-Pasifik
Pemerintahan
4 jam yang lalu
Nono Sampono: Indonesia Harus Waspadai Perkembangan Strategi Kawasan Asia-Pasifik
3
Rahmat Gobel Sebut Komisi VII Ribut dengan Dirut Inalum Hanya Salah Paham
Politik
13 jam yang lalu
Rahmat Gobel Sebut Komisi VII Ribut dengan Dirut Inalum Hanya Salah Paham
4
DPR Usulkan Aplikasi Transportasi 'Online' Jadi Perusahaan Transportasi
Politik
11 jam yang lalu
DPR Usulkan Aplikasi Transportasi Online Jadi Perusahaan Transportasi
5
Larang Liput Kedatangan TKA China Takut Wartawan Ditunggai Teroris, AJI: Pernyataan Danlanud Berlebihan
Peristiwa
10 jam yang lalu
Larang Liput Kedatangan TKA China Takut Wartawan Ditunggai Teroris, AJI: Pernyataan Danlanud Berlebihan
6
Soal Kalung Corona, Waka DPD Minta Kementan Fokus Urusi Ketahanan Pangan
Politik
9 jam yang lalu
Soal Kalung Corona, Waka DPD Minta Kementan Fokus Urusi Ketahanan Pangan
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Ular Kobra Teror Warga di Jakarta, Jabar dan Jatim, Fenomena Apakah Ini?

Ular Kobra Teror Warga di Jakarta, Jabar dan Jatim, Fenomena Apakah Ini?
Ular kobra yang ditemukan di Masjid Mojokerto Jawa Timur. (Istimewa)
Rabu, 18 Desember 2019 19:48 WIB
JAKARTA - Warga di sejumlah wilayah Depok Jawa Barat, Mojokerto Jawa Timur dan Jakarta, beberapa hari ini digegerkan dengan kemunculan kawanan ular kobra.

Fenomena ini tercatat ditemukan di wilayah tiga Provinsi tersebut. Untuk di Jakarta sendiri, ditemukan di wilayah Cakung, Kembangan dan Pasar Minggu. Kawanan ular kobra pertama kali ditemukan di daerah Cakung, Jakarta Timur, pada Rabu (11/12).

Kepala Sudin Damkar Jaktim Gatot Sulaiman mengatakan ada sembilan anak kobra yang ditemukan di pekarangan rumah warga bernama Ocit. "Sekitar pukul 11.15 WIB kami menerima laporan temuan sembilan ekor anak kobra dari seorang warga Kelurahan Cakung," kata Gatot dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/12).

Sembilan anak ular kobra itu memiliki panjang sekitar 10 cm. Berkat evakuasi ini, diklaim sebanyak 15 orang dari lima kepala keluarga berhasil terselamatkan dari ancaman ular kobra.

Lalu, Minggu (15/12), sebanyak 18 anak ular kobra ditemukan di rumah milik seorang warga di Jalan Langgar, Kembangan, Jakarta Barat. Kasi Operasional Sudin Damkar Jakbar Eko Sumarno mengatakan belasan ular itu ditemukan di gudang milik warga.

"18 anak kobra ini bersarang di gudang bekas kolam milik warga," kata Eko dalam keterangan tertulisnya. "Anak kobra itu memiliki panjang sekitar 20 cm," imbuhnya.

Dia mengatakan saat ini 18 kobra itu dibawa oleh tim petugas Damkar Jakbar. Anak-anak ular kobra itu kemudian diserahkan ke tempat penangkaran kobra.

Tak selesai di situ, sebanyak 13 ekor ular kobra ditemukan di sebuah rumah di Jalan Rawa Bumbu, Pasar Minggu, pada Senin (16/12).

Kepala Sektor IX Pasar Minggu Moch Arief mengungkapkan evakuasi dilakukan pada pukul 19.35 WIB. Tak hanya anak ular, induk ular kobra juga dievakuasi petugas dari rumah warga. "Tidak membutuhkan waktu lama, 13 ekor anak ular kobra beserta induknya dapat dievakuasi pada pukul 20.45 WIB," jelas Arief.

Banyaknya ular kobra ditemukan ini menjadi fenomena tersendiri di musim hujan seperti saat ini. Ilmuwan reptil dari Pusat Penelitian Biologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy, menyebutnya sebagai fenomena yang normal.

Musim penghujan di akhir tahun ini merupakan waktunya anak ular muncul ke permukaan setelah menetas dari telurnya.
“Awal musim penghujan adalah waktu menetasnya telur ular. Fenomena ini wajar dan merupakan siklus alami,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima kumparan, Jumat (13/12).

Amir menjelaskan, di Indonesia ada dua jenis ular kobra. Pertama Kobra Sumatra atau Naja sumatrana yang terdapat di Sumatra dan Kalimantan. Kedua adalah kobra Jawa atau Naja sputarix.

Penanganan Pertama Gigitan Kobra

Sementara itu, ahli reptil dari ITB Ganjar Cahyadi mengatakan ular menggigit biasanya karena memangsa dan mempertahankan diri. Lalu bagaimana cara penanganan medis pertama bagi orang yang terkena gigitan ular?

Menurutnya, setiap kali seseorang digigit ular maka harus selalu waspada bahwa gigitan tersebut memiliki atau mengandung bisa. Hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah imobilisasi atau meminimalisasi gerakan pada area yang terkena gigitan ular.

“Perlakuannya seperti pada patah tulang, jadi kita memasang kayu yang diikatkan dengan perban di bagian tubuh yang terkena gigitan. Usahakan area yang tergigit tidak bergerak sama sekali untuk mencegah area peredaran bisa dengan cepat. Akan tetapi jangan diikat terlalu kencang. Setelah dilakukan upaya tersebut, barulah dibawa ke fasilitas kesehatan,” ujar Ganjar dalam keterangan tertulis ITB yang diterima kumparan, Senin (16/12).

Seringkali ada beberapa tindakan yang salah dalam penanganan terhadap gigitan ular. Saat terkena gigitan ular, melukai lokasi yang terkena gigitan atau membakarnya sangat dilarang karena dapat terjadi infeksi. Dilarang pula menghisap darah di lokasi gigitan karena racunnya dapat termakan.

“Yang paling bagus sesuai saran WHO yaitu imobilisasi di area gigitan,” ucap dia.

Keberadaan ular kobra kini menjadi momok bagi warga Jakarta. Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Kristi Watini mengungkapkan setidaknya ada tujuh rumah sakit di Jakarta yang kini menyediakan serum antibisa ular kobra.

"Ada tujuh rumah sakit yang menyediakan serum antibisa ular di DKI Jakarta yakni RSUD Tarakan, RS Suyoto, RSUP Fatmawati, RSUD Cengkareng, RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), RSPI Sulianti, dan RS Fatmawati," ujar Kristi di Jakarta, Senin (16/12) dikutip dari Antara.

Dia menjelaskan serum tersebut belum didistribusikan ke tingkat puskesmas. Saat ini hanya ada beberapa rumah sakit yang menyediakan serum antibisa ular kobra.

Kristi mengatakan serum hanya dapat diberikan kepada pasien yang terbukti atau telah digigit ular berbisa, dengan penanganan medis dari rumah sakit tersebut. Beberapa rumah sakit masih mematok biaya untuk pemberian serum antibisa ular kobra, tapi ada juga yang gratis.

"Misalnya saja RSCM yang mematok harga Rp 900 ribu dan RS Fatmawati Rp 595 ribu. Namun, beberapa menyediakan serum secara gratis seperti RSPI Sulianti yang menyediakan serum gratis untuk pasien BPJS," kata dia.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Kumparan, GoNews.co dan Antara
Kategori:GoNews Group, Umum, Peristiwa, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur

wwwwww