2 Tahun Petani Kopi Ronggurnihuta Menjerit Keluhkan Hama Kopi, Pemkab Tak Kunjung Ada Solusi

2 Tahun Petani Kopi Ronggurnihuta Menjerit Keluhkan Hama Kopi, Pemkab Tak Kunjung Ada Solusi
Jum'at, 31 Januari 2020 15:43 WIB
Penulis: Helbos Sitanggang
SAMOSIR-Warga Kecamatan Ronggurnihuta, Kabupaten Samosir pada umumnya merupakan petani kopi. Sudah 2 tahun lamanya mengeluhkan serangan hama yang menggerogoti produksi kopi mereka, namun sampai kini Pemerintah Kabupaten Samosir belum ada solusi penanganan agar ekonomi masyarakat petani kopi di Ronggurnihuta bisa meningkat.

Camat Ronggurnihuta, Sitor Silalahi, kepada gosumut.com, Kamis (30/1/2020) mengatakan, akibat serangan hama yang terjadi, hasil kopi tidak bagus. Sementara lahan pertanian kopi di wilayahnya mencapai ratusan hektar. Dan warganya juga lebih memilih bertani kopi daripada bercocok tanam yang lain.

"Secara umum, warga kita adalah petani kopi. Namun akhir-akhir ini, apalagi sejak dua tahun terakhir hasil kopi tidak bagus. Pertama kita pikir karena sudah tua, tetapi tanaman yang masih muda juga tidak memuaskan hasilnya," tutur Sitor.

Diakui, atas serangan hama kopi, pihaknya sudah meminta bantuan dari Pemerintah Kabupaten melalui petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Samosir untuk meneliti jenis hama itu. Namun sampai kini belum bisa menyimpulkan serangan hama apa yang menyerang tanaman kopi milik warganya.

"Dari dinas pertanian sudah pernah turun, tapi mereka juga belum tau jenis penyakit apa yang datang ke kopi. Dari IPB juga sudah pernah turun, tapi belum tau hasilnya seperti apa. Mereka turun, kalau tidak salah ingat, antara 2017 2018," papar Sitor.

Lanjut Sitor, dari 8 desa yang ada di Kecamatan Ronggurnihuta, untuk satu desa luas lahan kopi bisa mencapai kurang lebih 20 hektar. Buah kopi akibat serangan hama, busuk separuh. Dan menyikapi 2 tahun tidak ada solusi dari pihak Kabupaten melalui dinas membidangi, akhirnya pihaknya mengarahkan petani bercocok tanam ke jenis tanaman holtikultura.

"Yang timbul akibat hama, separuh buah busuk. Pada Musrenbang Desa 2020, melalui PPL, kita arahkan untuk bercocok tanam yang lain. Karena disini, tanaman holtikultura pun bagusnya. Seperti kol, sayur-sayuran, cabai, bagus kali disini. Tapi memang, mereka (petani), menganggap kopi yang lebih tepat," tutup Sitor Silalahi.

Senada, Sudirman Simbolon (36) salah satu petani kopi, warga Desa Lintong Nihuta, Kecamatan Ronggurnihuta, Samosir mengakui hal serupa. Serangan hama terhadap kebun kopi miliknya sangat berdampak buruk terhadap perekonomian mereka. "Iya betul, sudah ada dua tahun lamanya itu terjadi, dan belum ada solusi dari Pemerintah," ujar Sudirman dihubungi gosumut.com, Jumat (31/1/2020).

Ia menuturkan, dampak dari serangan hama itu, kini hasil seluas 1 hektar kebun kopi miliknya per minggu hanya satu kaleng saja. "Yang pasti, dapur hancurlah," kesal Sudirman Simbolon.*


wwwwww