Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
11 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
12 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
3
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
4
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
8 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
5
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
Umum
14 jam yang lalu
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
6
DPRD DKI Dorong Ancol Tingkatkan Daya Saing Lewat Inovasi Wisata
Metropolitan
12 jam yang lalu
DPRD DKI Dorong Ancol Tingkatkan Daya Saing Lewat Inovasi Wisata
Home  /  Berita  /  Sulawesi Selatan

Teknologi Pertanian Untuk Menarik Kaum Milenial Masuk Industri Pertanian

Teknologi Pertanian Untuk Menarik Kaum Milenial Masuk Industri Pertanian
Selasa, 11 Februari 2020 16:48 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Perlunya Sosialisasi Teknologi Pertanian terhadap kaum milenial agar tertarik masuk ke dalam industri pertanian. Hal tersebut dibahas Komite II DPD RI saat meninjau Balai Pusat Inovasi Teknologi Tanaman Serealia, di Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal), Maros, Sulawesi Selatan, Selasa, (11/2).

Wakil Ketua Komite II DPD RI Hasan Basri menyatakan melalui kunjungan ini untuk menyerap aspirasi dan mendengarkan program-program dari balai penelitian yang sedang dilaksanakan di daerah. Salah satu hal yang perlu didorong adalah dengan meningkatkan anggaran penelitian teknologi pertanian.

"Harapan saya, dengan adanya teknologi pertanian, akan mampu meningkatkan pendapatan petani, dengan meningkatnya pendapatan diharapkan mampu menarik kaum milenial kembali ke industri ini. Komite II DPD RI akan mendorong di daerah-daerah agar tidak segan-segan menggunakan bibit-bibit produksi lokal dari balai penelitian, saya menilai tidak kalah dari bibit-bibit dari luar," ucap Hasan Basri saat tinjauan lapangan.

Masih pada kesempatan tersebut, Senator asal Kalimantan Utara itu menilai anggaran yang diterima balai penelitian dari kementerian sangatlah kecil, padahal hasil penelitian dari balai-balai penelitian tersebut mampu dikembangkan bibit-bibit pertanian yang tidak kalah bersaing dengan bibit dari luar.

"Balai penelitian dan pengembangan pertanian di Sulawesi Selatan kecil anggarannya dan kemungkinan sama dengan balai penelitian lainnya hanya sekitar 30 miliar, kami akan mendorong kepada kementerian untuk meningkatkan anggaran penelitian ini paling tidak dua kali lipat di daerah-daerah. Penelitian sangat penting dalam mendukung kemajuan teknologi dan industri pertanian dalam mewujudkan ketahanan pangan," katanya.

Senada dengan itu, Senator NTT Angelius Wake Kako mengatakan bahwa benih produksi anak bangsa melalui balai-balai penelitian ini harus lebih dipopulerkan, sehingga banyak para petani menggunakannya.

"Saya kira jika benih-benih produksi anak bangsa lebih didorong dan dipopulerkan, tidak kalah bersaing dengan benih dari luar, ini kesempatan yang baik bagi Komite II untuk mengangkat ini dan dibawa ke dapil-dapil untuk mendorong ini kepada petani-petani di daerah," katanya.

Pada Kesempatan yang sama, Senator Bali Made Mangku Pastika mengungkapkan, bahwa Bali tidak hanya mengandalkan pariwisata tapi juga budaya agriculture. Menurutnya balai-balai penelitiaan saat ini harus mampu menghasilkan industri pertanian yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

"Pendapatan petani saat ini minim, sehingga para pemangku kepentingan harus memikirkan cara meningkatkan hasil budi daya pertanian. Di Bali sudah diterapkan yang namanya sistem pertanian terintegrasi dengan memanfaatkan hasil pertanian dan peternakan mulai dari dari akar hingga daun tidak ada yang terbuang, ini disebut zero waste program dan hasil dari penelitian anak bangsa," pungkasnya.

Hadir pada kunjungan tersebut, Wakil Ketua Komite II Hasan Basri, Anggota Komite II Made Mangku Pastika, Angelius Wake Kako, Anna Latuconsina, Emma Yohanna, Mamberob Yosephus Rumakiek, Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan, Namto Roba, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasrullah, Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Taufiq Ratule.***

wwwwww