Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jadi Ambasador University Leipzig, Nurul Sa'adah: Ayo Dapatkan Beasiswa di Luar Negeri
Olahraga
23 jam yang lalu
Jadi Ambasador University Leipzig, Nurul Saadah: Ayo Dapatkan Beasiswa di Luar Negeri
2
Jangan Kalah oleh Pandemi, Pemerintah Dorong Koperasi 'Go Digital'
Pemerintahan
9 jam yang lalu
Jangan Kalah oleh Pandemi, Pemerintah Dorong Koperasi Go Digital
3
Biarkan Ibu Melahirkan di Depan Rumahnya dan Pungut Bayaran Rp800.000, Izin Praktik Bidan SF Dicabut
Peristiwa
7 jam yang lalu
Biarkan Ibu Melahirkan di Depan Rumahnya dan Pungut Bayaran Rp800.000, Izin Praktik Bidan SF Dicabut
4
Pembukaan Kembali Sekolah, Orang Tua Bisa Pilih Anak Belajar di Rumah
Pemerintahan
9 jam yang lalu
Pembukaan Kembali Sekolah, Orang Tua Bisa Pilih Anak Belajar di Rumah
5
Diduga Aktris FTV Ditangkap Polisi, Keterangan Tunggu Kapolrestabes
Hukum
8 jam yang lalu
Diduga Aktris FTV Ditangkap Polisi, Keterangan Tunggu Kapolrestabes
6
Petugas Kebersihan KRL yang Kembalikan Rp500 Juta Milik Penumpang Diangkat Jadi Karyawan Tetap
Ekonomi
1 jam yang lalu
Petugas Kebersihan KRL yang Kembalikan Rp500 Juta Milik Penumpang Diangkat Jadi Karyawan Tetap
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Pasien Peserta BPJS Tewas, Mufida Desak Pertanggungjawaban

Pasien Peserta BPJS Tewas, Mufida Desak Pertanggungjawaban
Dok. Ist.
Kamis, 13 Februari 2020 20:02 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI, Kurniasih Mufidayati menyesalkan peristiwa seorang pasien peserta BPJS yang meninggal di Selasar RSU Abdoel Moelok (RSUAM) yang tersebar dalam sebuah video dan menjadi viral.

Mufida menganggap Peristiwa ini dinilai sebagai pelanggaran atas hak rakyat mendapatkan pelayanan kesehatan dari negara. Mufida sendiri mengakui dirinya sudah melihat video tersebut seluruhnya.

Dalam video viral itu terlihat seorang perempuan menjerit histeris, diselingi suara seorang pria yang marah.

"Kenapa harus begitu? Saya BPJS bayar. Mana BPJS tanggungjawabnya...? BPJS!! Saya ini orang miskin, dapatnya nomor tiga. Kelas tiga...saya ini nggak mampuuu!" teriak pria yang diketahui adalah ayah dari pasien bernama Muhammad Rezki Mediansor (21).

Rezki terjangkit DBD dan dikabarkan sejak tiba di RSUAM hingga meninggal dunia tidak mendapatkan perawatan yang maksimal. Bahkan saat meninggal pada Senin sore, tempat tidur Rezki masih di selasar RSUAM, bukan di ruang perawatan.

"Ini sangat tidak manusiawi. Kejadian ini jelas bertentangan dengan UUD RI Tahun 1945 dan nilai-nilai Pancasila," tegas Mufida dalam keterangan pers yang diterima wartawan, Kamis (13/2/2020).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini meminta pemerintah mengusut tuntas.

"Harus ada pemberian sanksi secara tegas kepada semua pihak yang bertanggungjawab. BPJS Kesehatan juga harus ikut bertanggung jawab dalam kejadian ini," tambah Mufida.

Ditambahkan, Mufida, dengan kenaikan iuran, seharusnya pelayanan kesehatan bagi peserta BPJS ditingkatkan. Bukan justru malah merugikan masyarakat.

Mufida juga menekankan pentingnya pemerintah dan pihak Rumah Sakit untuk segera mengevaluasi manajemen penanganan pasien secara komprehensif dan detail. Peningkatan kualitas pelayanan RS kepada pasien agar tidak terulang lagi kejadian serupa juga harus dilakukan.

"Dari peristiwa ini terlihat buruknya SOP penanganan pasien. Ini harus diperbaiki. Kalau SOP berjalan baik, harusnya tidak sampai ada pasien terlantar," demikian Mufida.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Hukum, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta

wwwwww