Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
22 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
15 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
13 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
4
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
14 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
5
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
14 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
6
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
22 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Home  /  Berita  /  Badminton

Fadel Muhammad Harap 4 Pilar Menginternalisasi Civitas Universitas Universal

Fadel Muhammad Harap 4 Pilar Menginternalisasi Civitas Universitas Universal
Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad saat mensosialisasikan 4 Pilar MPR RI di Universitas Universal, Kota Batam, Kepulauan Riau, pada Senin (24/2/2020). (Foto: MPR RI)
Senin, 24 Februari 2020 23:00 WIB
KEPRI - Di hadapan ratusan mahasiswa, rektor, dan dosen Universitas Universal, Kota Batam, Kepulauan Riau, pada Senin (24/2/2020), Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad mengatakan, sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika atau 4 Pilar MPR RI, "merupakan salah satu tugas MPR di samping tugas-tugas yang lain,".

Fadel menyebut MPR, merasa bangsa ini harus memiliki ideologi di mana ideologi itu mampu sebagai perekat persatuan.

"Bila suatu negara tidak memiliki ideologi maka bangsa itu akan goyah," paparnya.

Ideologi di masing-masing negara disebut Fadel, beragam. Ada yang sosialis, komunis, liberalis, dan kapitalis.

Bangsa Indonesia dikatakan sebagai bangsa yang plural atau majemuk. Terdiri dari beragam suku, bahasa, agama, bahasa, dan budaya.

Dari sinilah, menurut mantan Gubernur Gorontalo itu, lahirlah Pancasila. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa ditegaskan harus menjadi landasan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi setiap orang Indonesia.

"Setiap orang harus memiliki ideologi Pancasila, tanpa ideologi seperti badan tanpa nyawa," ucapnya.

Selain Pancasila menurut Fadel bangsa Indonesia harus menjadikan UUD sebagai pegangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seluruh aturan yang ada harus berlandaskan pada konstitusi itu.

"Tak boleh ada aturan yang bertentangan dengan UUD," paparnya.

Diungkapkan, bila ada aturan, undang-undang, yang bertentangan dengan UUD, mahasiswa dan masyarakat bisa mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK).

"Banyak pasal dalam undang-undang telah dibatalkan oleh MK," tuturnya.

Dalam bentuk negara, Fadel mengakui ada perdebatan. Ada yang ingin federal, serikat, dan bentuk lainnya. Setelah berdebat secara dinamis dan berkembang, akhirnya bangsa Indonesia memilih bentuk NKRI.

"Akhirnya kita bersepakat dengan bentuk negara kesatuan," papar alumni ITB itu.

Meski demikian, bangsa ini beragam dan terdiri dari berbagai suku seperti Jawa, Sunda, Gorontalo, Madura, Bali, Batak, Minang, dan lain sebagainya.

Demikian dalam masalah bahasa yang beraneka pula. Terkait keragaman, para pendiri bangsa mencari slogan apa yang bisa menyatukan keragaman itu sehingga diambil kalimat 'Bhinneka Tunggal Ika'.

"Berbeda-beda tetapi satu," ucapnya.

Dari kesemua pilar MPR, Fadel menegaskan agar menyatu pada diri masyarakat Indonesia.

Dinamika masyarakat dalam merespon wacana amandemen, ditegaskan oleh Fadel, bahwa amandemen hanya sebatas pada menghidupkan pokok-pokok haluan negara ada dalam UUD.

Haluan negara, menurutnya, sudah ada sejak jaman Presiden Soekarno yang disebut sebagai Pembangunan Semesta. Pada masa Presiden Soeharto disebut GBHN. "Sekarang kita bikin pokok-pokok haluan negara,".

Dalam pokok-pokok haluan negara dirancang pembangunan 25 tahun hingga 50 tahun. Pada masa Presiden Soeharto dulu ada Repelita (rencana pembangunan lima tahun).

Saat ini, diakui, landasan pembangunan yang dijalankan oleh presiden, gubernur, bupati, dan walikota berdasarkan pada visi dan misi sehingga di antara mereka terkadang ada yang bertentangan atau tidak sinkron.

Inilah yang kita khawatirkan," ujar Fadel.

Sebagai seorang yang pernah menduduki berbagai jabatan dan profesi, seperti Pengusaha, Gubernur, Menteri, hingga Wakil Ketua MPR, dalam kesempatan tersebut Fadel mendorong agar sumber daya manusia bangsa ini harus semakin bagus dan maju.

Ia mengharap agar lulusan Universitas Universal, bisa kreatif setelah lulus dari kuliah. Dirinya ingin lulusan perguruan tinggi lebih berorientasi pada jiwa kewirausahaan.

"Kita harus berpikir bagaimana bisa menciptakan lapangan kerja," paparnya.

Jiwa orang yang berwirausaha dengan orang yang sekadar bekerja disebut berbeda. Orang yang punya jiwa berwirausaha adalah orang yang mempunyai gagasan dan pikiran, ada peluang apa di masyarakat.

"Peluang yang ada itu ingin dimanfaatkan," ucapnya.

Sebagai pimpinan dari Kelompok DPD, Fadel ingin semangat kewirausahaan itu diimplementasikan dalam membangun daerah.

"Orang yang unggul adalah mereka yang mempunyai pikiran kewirausahaan," ucapnya.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Badminton, Umum, Metropolitan, DKI Jakarta, Kepulauan Riau
wwwwww