Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hasil Survei SMRC: PKS dan Suku Minang Dominasi Kesadaran akan Isu Kebangkitan PKI
Nasional
15 jam yang lalu
Hasil Survei SMRC: PKS dan Suku Minang Dominasi Kesadaran akan Isu Kebangkitan PKI
2
KAMI Bakal Gelar Deklarasi di Riau 16 Oktober 2020
Politik
4 jam yang lalu
KAMI Bakal Gelar Deklarasi di Riau 16 Oktober 2020
3
Gedung DPR RI Resmi Diasuransikan
DPR RI
9 jam yang lalu
Gedung DPR RI Resmi Diasuransikan
4
Bus Pariwisata Tabrak 6 Kendaraan, 4 Orang Tewas dan 20 Terluka
Peristiwa
22 jam yang lalu
Bus Pariwisata Tabrak 6 Kendaraan, 4 Orang Tewas dan 20 Terluka
5
Moeldoko Peringatkan Gatot Nurmantyo: Jangan Coba-coba Ganggu Stabilitas Politik
Politik
7 jam yang lalu
Moeldoko Peringatkan Gatot Nurmantyo: Jangan Coba-coba Ganggu Stabilitas Politik
6
Sunat Masa Hukuman Anas Urbaningrum 6 Tahun, Ini 9 Alasan MA
Nasional
14 jam yang lalu
Sunat Masa Hukuman Anas Urbaningrum 6 Tahun, Ini 9 Alasan MA
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Polisi Pastikan Proses Kasus Dugaan Siswa Dipaksa Makan Tinja

Polisi Pastikan Proses Kasus Dugaan Siswa Dipaksa Makan Tinja
Foto: Ist./keepo.me
Jum'at, 28 Februari 2020 16:22 WIB
NTT - Kapolres Sikka, AKBP Sajimin mengungkapkan, kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) terkait dugaan paksaan memakan tinja dengan korban 77 siswa Seminari Bunda Segala Bangsa (BSB) di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tak hanya oleh TKP, Polisi juga telah menggali informasi dari beberapa pihak. Kata Sajimin, sebagaimana lansiran INews.com yang dikutip GoNews.co Sabtu (27/2/2020), "Kami sudah meminta bantuan dari beberapa orang, baik dari anak-anak dan pemilik yayasan," kata Sajimin.

"Nanti akan kami sampaikan. Berikan kami waktu," ujar Sajimin.

Sebelumnya, sebanyak 77 siswa kelas VII Seminari Bunda Segala Bangsa (BSB) dikabarkan disuruh memakan kotoran manusia (tinja) oleh dua kakak pembimbingnya. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu (19/2/2020) lalu.

Setelah sempat bungkam, korban akhirnya berani bicara. Dalam lansiran kompas.com, Selasa (25/2/2020), salah satu korban mengatakan, "setelah makan, kami semua menangis. Terlalu jijik dan bau,".

"Sampai hari ini, orangtua saya belum tahu kalau saya disiksa makan kotoran manusia," imbuhnya.

Terkait hal ini, pimpinan Seminari BSB, Romo Deodatus Du'u membantah jika adanya hukuman makan kotoran manusia (tinja).

"Terminologi 'makan' yang dipakai oleh beberapa media saat memberitakan peristiwa ini agaknya kurang tepat, sebab yang sebenarnya terjadi adalah seorang kakak kelas menyentuhkan sendok yang ada feses pada bibir atau lidah siswa kelas VII," kata Deodatus, seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa (25/2/2020).***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Hukum, Pendidikan, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur
wwwwww