Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Arema FC Luncurkan Program Inovatif Memeriahkan Hari Ulang Tahun
Sepakbola
16 jam yang lalu
Arema FC Luncurkan Program Inovatif Memeriahkan Hari Ulang Tahun
2
Waspadai Covid 19, Zohri Tiba di Jakarta, 12 Agustus 2020
Olahraga
18 jam yang lalu
Waspadai Covid 19, Zohri Tiba di Jakarta, 12 Agustus 2020
3
BAZNAS Luncurkan Logo Peduli Covid-19
Umum
18 jam yang lalu
BAZNAS Luncurkan Logo Peduli Covid-19
4
KONI Pusat Cek Kesiapan Semua Bidang PB PON XX Papua 2021
Olahraga
19 jam yang lalu
KONI Pusat Cek Kesiapan Semua Bidang PB PON XX Papua 2021
5
Azis Syamsuddin Minta Pemda Sumut dan BNPB Proaktif Bantu Warga Sinabung
DPR RI
19 jam yang lalu
Azis Syamsuddin Minta Pemda Sumut dan BNPB Proaktif Bantu Warga Sinabung
6
Percepat Pemulihan Ekonomi, Menaker Minta Subsidi Upah Digunakan untuk Ini...
Pemerintahan
19 jam yang lalu
Percepat Pemulihan Ekonomi, Menaker Minta Subsidi Upah Digunakan untuk Ini...
Home  /  Berita  /  Peristiwa

Takut Ketularan Corona, Warga di Palembang Usir 6 Perawat Rumah Sakit

Takut Ketularan Corona, Warga di Palembang Usir 6 Perawat Rumah Sakit
Ilustrasi. (Net)
Senin, 20 April 2020 16:04 WIB
PALEMBANG - Enam perawat di Rumah Sakit Siloam Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) diusir ketua RT dan warga karena mereka ketakutan tertular virus corona. Pengusiran para perawat ini terjadi pada hari Sabtu (18/4) sore di Kelurahan Sungai Pangeran, Kecamatan Ilir Timur 1 Palembang.

Ketua Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPN) Sumsel Subhan mengatakan, dia bersama pengurus DPW PPNI Sumsel menemui keenam perawat tersebut, yang sudah diinapkan di Mess rumah sakit.

Dari penuturan para perawat, sekitar pukul 14.00 WIB ibu kos menelepon mereka jika Ketua RT dan pihak kelurahan mengimbau agar mereka tidak keluar masuk indekos. Karena ada salah satu perawat yang tinggal di lokasi tersebut terjangkit Covid-19, dan sudah diisolasi sejak empat hari sebelumnya.

"Sudah dijelaskan ke ibu kos kalau mereka tidak mungkin tidak keluar kos, karena masih harus bekerja. Perawat itu juga sudah menginfokan jika mereka negatif Covid-19, karena sudah melewati proses screening dan rapid test," ucapnya kepada Liputan6.com, Minggu (19/4).

Ibu kos akhirnya memahami dan akan menjelaskan ke pihak RT dan kelurahan di Palembang. Jika anak kos mereka tersebut, tidak terjangkit Corona Covid-19.

Sekitar pukul 17.00 WIB, para perawat yang sedang beristirahat di dalam kamar tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan para pria di depan rumah. Saat dilihat, mereka ternyata adalah Ketua RT dan warga setempat yang semuanya laki-laki.

"Kawan kamu ada yang positif di Siloam. Kamu tidak boleh keluar di sini, kalau keluar tidak boleh balik lagi ke sini. Seperti itu disampaikan Ketua RT setempat, dengan nada yang marah," ucapnya.

Para perawat tersebut berusaha menjelaskan ke para warga, jika mereka tidak terjangkit Covid-19. Namun Ketua RT dan para warga sekitar tidak menghiraukan. Para perawat itu pun langsung masuk ke dalam kamar kembali.

Keenam perawat perempuan tersebut akhirnya menghubungi pihak managemen rumah sakit dan menjelaskan kejadian yang mereka alami. Lalu dua orang perawat memesan taksi online dan pergi ke luar kos.

"Di luar kos ternyata masih ada Ketua RT dan para warga tersebut. Para warga pun bilang jika mereka ke luar rumah, tidak usah kembali lagi. Sekitar pukul 19.00 WIB, baru datang mobil RS Siloam Palembang yang menjemput empat orang perawat lainnya di kos," katanya.

Subhan pun menyayangkan tindakan intimidasi yang dilakukan warga tersebut. Padahal para perawat tersebut, sudah berjuang mati-matian untuk menyembuhkan pasien positif Corona Covid-19.

Diungkapkan Direktur Medik dan Pelayanan RS Siloam Palembang Anton Suwindro, setelah menerima laporan tersebut, pihak rumah sakit langsung menginapkan para perawat di RS Siloam Palembang untuk sementara waktu.

Dia berharap kepada warga Sumsel, agar bisa menghapus stigma negatif, terutama kepada petugas medis dari garda terdepan yang melayani pasien. "Beri perhatian dan dukungan lebih besar. Pemerintah bersama dinas lain agar bisa menyediakan tempat tinggal sementara, selama wabah ini berlangsung. Jadi mereka bisa menjalani hidup mereka seperti biasa," katanya.

Enam orang perawat perempuan yang diusir di kosnya, mengalami trauma yang cukup mendalam. Karena pengusiran yang dilakukan Ketua RT dan warga laki-laki di Kecamatan Ilir Timur I Palembang Sumsel.

"Kita sudah bertemu. Mereka mengalami trauma dan tidak mau kembali ke kos. Mereka ingi mencari tempat tinggal alternatif atau rumah kos baru," ucapnya.

Para perawat tersebut mau kembali ke rumah kosnya, jika masyarakat sudah memahami kondisi mereka. Karena mereka tidak terpapar Corona Covid-19, setelah menjalani screening dan rapid test.

Saat ini enam orang perawat tersebut, sudah diinapkan di mess rumah sakit untuk sementara waktu. Subhan menuturkan, para perawat tersebut kebingungan karena warga meminta mereka untuk mengisolasi mandiri.

"Ketika warga meminta para perawat mengisolasi mandiri, harusnya kepada orang yang punya keluarga. Karena mereka semua perantau dari Kalimantan, Sulawesi dan Jakarta. Ketika harus isolasi mandiri, caranya itu yang salah," ucapnya.

Dia pun menyayangkan tidak ada tim Gugus Covid-19 Palembang terutama pihak kecamatan, yang datang untuk mengedukasi Covid-19 ke warga.

Terlebih tidak ada tenaga medis yang berkompeten, untuk memberi pemahaman terhadap warga yang mengusir perawat tersebut.

"Harusnya tenaga medis mendapat dukungan dari masyarakat, tapi kami didiskriminasi. Takutnya kejadian ini akan mempengaruhi semangat teman-teman berjuang menghadapi Covid-19," ucapnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Merdeka.com
Kategori:Umum, Peristiwa, Sumatera Selatan

wwwwww