Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pecat Direksi dan Tuding Pengisi Kajian Ramadan Radikal, PT Pelni Minta Maaf
Peristiwa
7 jam yang lalu
Pecat Direksi dan Tuding Pengisi Kajian Ramadan Radikal, PT Pelni Minta Maaf
2
Talk Coffee Solusi Tempat Nongkrong Baru di Depok, Monica: Bismillah Kita Jalan
Ekonomi
23 jam yang lalu
Talk Coffee Solusi Tempat Nongkrong Baru di Depok, Monica: Bismillah Kita Jalan
3
Dirut RSUD Arifin Achmad Klaim Tak Minta Biaya Dedek Bayi Pengidap Omfalokel
Umum
22 jam yang lalu
Dirut RSUD Arifin Achmad Klaim Tak Minta Biaya Dedek Bayi Pengidap Omfalokel
4
Abraham Cetak 20 Angka, Prawira Tundukkan West Bandits
Olahraga
22 jam yang lalu
Abraham Cetak 20 Angka, Prawira Tundukkan West Bandits
5
Dragan Djukanovic Tunggu Keputusan Manajemen
Sepakbola
7 jam yang lalu
Dragan Djukanovic Tunggu Keputusan Manajemen
6
Persebaya Siap Ladeni Permainan Terbuka Persib
Sepakbola
20 jam yang lalu
Persebaya Siap Ladeni Permainan Terbuka Persib
Home  /  Berita  /  Opini

Bumi Kembali Bersih, Terimakasih Covid-19

Bumi Kembali Bersih, Terimakasih Covid-19
Tangguh Sipria Riang. (Dok. Pribadi)
Kamis, 23 April 2020 19:52 WIB
Penulis: Tangguh Sipria Riang
HARI ini, 50 tahun lalu. Tepatnya, 22 April 1970. 20 juta rakyat Amerika Serikat turun ke jalan. Mengecam kerusakan lingkungan. Sejak itu, Hari Bumi atau Earth Day diperingati.

Kini, 50 tahun berlalu. Aksi serupa juga terjadi. Bahkan lebih dahsyat. Melibatkan miliaran rakyat dari seluruh dunia.

Bedanya, mereka tidak turun ke jalan. Hanya di rumah saja. Untuk satu tujuan, menyehatkan bumi. "Sepi, sendiri, aku benci," kata Dian Sastro. 

"Aku ingin segar, kamu di rumah aja," sahut Bumi.

Aksi massal sudah dilakukan jauh hari. Dampak Covid-19. Jelas, ini jadi kado terindah. Untuk rumah segala makhluk. Tepat saat peringatan emas. Bumi kembali bernapas. Bernapas lega tanpa polusi.

Tak lama berselang. Beredar foto-foto kota di dunia. Jalanan lengang. Langit dan sungai kembali bersih. Ikan-ikan kembali terlihat di Venezia. Bahkan, ada yang berkelakar, "Bumi terlihat dari Bekasi."

Sedikit cerita soal sungai. Saya teringat kunjungan ke Tokyo, Jepang. Beberapa bulan lalu.

Saya berjumpa sekelompok milenial lintas negara. Kami berbincang di tepi sungai Sumida alias Sumidagawa. Sungai ini menjadi kanal drainase. Preventif banjir. Sejak zaman Edo.

Saat malam hari di Sumida. Tokyo Skytree gagah berdiri. Simbol bangunan tertinggi. Tampak juga jembatan Pelangi (Rainbow Bridge) Odaiba dan jembatan Kachidoki. Berpijar, efek lampu-lampu LED warna-warni.

Tapi, bukan itu yang bikin saya betah. Duduk di tepi sungai Sumida. Tidak ada nyamuk di sini. Airnya juga tidak berbau. Jangan-jangan, nyamuknya sudah direlokasi. Dari bantaran sungai ke Rusun? Entahlah.

Saya sampaikan kepada kawan-kawan lintas negara. "Indonesia juga punya sungai bersih seperti ini. Namanya Ciliwung, di Jakarta."

Mereka semua tertegun. Tapi, tidak ada yang bertanya. Karena saya bicara dalam hati.

Ciliwung bersih, bukan khayalan. Setidaknya, untuk beberapa tahun ke depan. Sungai di Indonesia, khususnya Jakarta. Bisa seperti Sumida. Tanpa harus menunggu imbas virus Corona.

Menyehatkan bumi tidak bisa instan. Bahkan mi instan saja tidak benar-benar instan. Harus di masak dulu, Kan?

Mulailah dari diri sendiri. Rangkul semua generasi. Ajak kerabat, musuh, dan kawan. Ubah perilaku ramah lingkungan. "Earth Day is every day and anywhere you are."

Selamat Hari Bumi. Salam Lestari.

Penulis: Tangguh Sipria Riang (Jurnalis, Pegiat Sosial dan Lingkungan)

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Umum, Opini, Kesehatan, DKI Jakarta
wwwwww