Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
KPK OTT Walikota Tanjung Balai, Erwin Syahfutra: Kita Apresiasi Meski Telat
Peristiwa
15 jam yang lalu
KPK OTT Walikota Tanjung Balai, Erwin Syahfutra: Kita Apresiasi Meski Telat
2
Tak Berani Cabut Izin XL Axiata, Arief Poyuono: Menkominfo Johnny G Plate Layak Direshuffle
Politik
17 jam yang lalu
Tak Berani Cabut Izin XL Axiata, Arief Poyuono: Menkominfo Johnny G Plate Layak Direshuffle
3
Pendiri NU Hilang dari Kamus Sejarah, PKB: Jangan Lupa Jasa Ulama, Kemendikbud Bisa Kualat
Pemerintahan
16 jam yang lalu
Pendiri NU Hilang dari Kamus Sejarah, PKB: Jangan Lupa Jasa Ulama, Kemendikbud Bisa Kualat
4
Penundaan India Terbuka, Untungkan Hafiz/Gloria
Olahraga
15 jam yang lalu
Penundaan India Terbuka, Untungkan Hafiz/Gloria
5
Kepala BNSP Bantah Larang Dewan Pers Lakukan UKW
Peristiwa
15 jam yang lalu
Kepala BNSP Bantah Larang Dewan Pers Lakukan UKW
6
Gempa Magnitudo 6,4 di Nias, Getarannya Terasa di Sidimpuan dan Padang
Peristiwa
19 jam yang lalu
Gempa Magnitudo 6,4 di Nias, Getarannya Terasa di Sidimpuan dan Padang
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Corona Sudah Cabut Lebih 200 Ribu Nyawa, 50 Ribu Orang di AS

Corona Sudah Cabut Lebih 200 Ribu Nyawa, 50 Ribu Orang di AS
Ilustrasi virus corona. (int)
Minggu, 26 April 2020 09:29 WIB
LONDON - Lebih 2,8 juta orang di dunia terkonfirmasi positif terinfeksi virus corona. Lebih 200 ribu orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Demikian menurut data Universitas Johns Hopkins.

Dikutip dari Republika.co.id yang melansir BBC pada Ahad (26/4), jumlah kematian terbanyak terjadi di Amerika Serikat (AS), melebihi 50 ribu orang. Sejumlah negara lainnya mencatatkan kematian di atas 20 ribu orang.

Departemen Kesehatan Inggris mengumumkan pada Sabtu (25/4) bahwa lebih dari 20 ribu orang telah meninggal akibat virus corona di rumah sakit Inggris.

Prancis, yang memasukkan kematian di panti jompo dalam statistiknya, mengatakan jumlah korbannya meningkat 369 orang pada Sabtu. Ada 22.614 kematian akibat virus ini di Prancis sejak awal Maret. Tetapi pejabat kesehatan mengatakan tingkat kematian di rumah sakit menurun dan jumlah orang dalam perawatan intensif telah menurun selama 17 hari berturut-turut.

Para ahli statistik telah memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa yang dilaporkan mungkin tidak selalu memberikan gambaran lengkap tentang epidemi suatu negara. AS telah melihat kematian virus terbanyak di setiap negara, tetapi juga memiliki populasi yang jauh lebih besar daripada kebanyakan.

Dengan 330 juta orang, populasinya melebihi jumlah total orang yang tinggal di lima negara terbesar di Eropa barat yakni Inggris, Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol. Banyak negara Eropa telah melaporkan lebih banyak kematian per kepala populasi daripada AS dan Eropa secara keseluruhan telah melaporkan lebih banyak kematian secara keseluruhan.

Tingkat kematian juga tergantung pada siapa yang dihitung. Beberapa negara memasukkan kematian di panti jompo dalam data mereka sehingga memberikan gambaran yang lebih lengkap. Sedangkan yang lain hanya menghitung kematian di rumah sakit di mana Covid-19 telah dikonfirmasi.

Belgia memiliki angka 6.917 kematian dalam populasi 11,4 juta. Lebih dari setengah kematian negara itu terjadi di panti jompo untuk orang tua dan sebagian besar didasarkan pada kasus yang diduga, yang membuat data negara itu terlihat jauh lebih buruk.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Internasional, Kesehatan
wwwwww