Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
9 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Beladiri
21 jam yang lalu
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
3
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
22 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
4
Asael Sumbang Medali Kedua buat Indonesia, Airlangga Berikan Apresiasi
Olympic
20 jam yang lalu
Asael Sumbang Medali Kedua buat Indonesia, Airlangga Berikan Apresiasi
5
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
22 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
6
Lawan Melbourne Victory, Persib Incar Tiga Poin Demi Tiket 16 Besar ACL 2
Sepakbola
18 jam yang lalu
Lawan Melbourne Victory, Persib Incar Tiga Poin Demi Tiket 16 Besar ACL 2
Home  /  Berita  /  MPR RI

Pemerintah Diminta Antisipasi Kepulangan Pekerja Migran Jelang Lebaran

Pemerintah Diminta Antisipasi Kepulangan Pekerja Migran Jelang Lebaran
Minggu, 10 Mei 2020 19:34 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat meminta pemerintah pusat dan daerah meningkatkan kewaspadaan menyambut kepulangan para pekerja migran menjelang lebaran, di tengah wabah Covid-19 yang masih melanda tanah air.

Kepulangan para pekerja migran tersebut dimungkinkan setelah Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menerbitkan Surat Edaran No 4/2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19.

"Dalam surat edaran itu memang dibuka kemungkinan kepulangan pekerja migran Indonesia, Warga Negara Indonesia, dan pelajar/mahasiswa yang berada di luar negeri. Untuk itu perlu antisipasi serius dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di daerah asal mereka," ujar Lestari yang akrab disapa Rerie dalam keterangannya, Minggu (10/5/2020).

Mengutip pernyataan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Rerie mengungkapkan sebanyak 34.300 pekerja migran Indonesia diperkirakan akan pulang kampung pada Mei hingga Juni 2020, akibat pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia.

Selain mereka, Rerie menduga akan banyak pihak yang juga mencoba melanggar larangan mudik. Melihat data Operasi Ketupat 2020, selama 15 hari (24 April-8 Mei 2020), Polri meminta 35.945 kendaraan untuk putar balik. Mereka diminta putar balik karena terindikasi kuat hendak melakukan perjalanan mudik.

Kondisi itu, Rerie mengingatkan, harus diantisipasi pemerintah pusat dan daerah dengan sanksi tegas dan kesiapan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Penerapan protokol kesehatan yang ketat tentunya juga harus didukung persiapan peralatan kesehatan dan tenaga medis memadai di daerah.

"Sebab bila sejumlah kelengkapan alat dan tenaga medis serta protokol kesehatan yang diterapkan tidak memadai, potensi ledakan penyebaran Covid-19 di daerah akan semakin besar," ujarnya.

Menurut Rerie, saat ini dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk menginventarisasi kesiapan sarana dan prasarana kesehatan di setiap daerah asal para pekerja migran tersebut. "Sehingga bila ada kekurangan tenaga dan peralatan medis di satu daerah, bisa segera diperbantukan dari daerah lain," ujar Legislator Partai NasDem itu.

Pada bagian lain, Rerie juga menyoroti sikap masyarakat yang mulai terlihat kurang disiplin dalam penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Kajian pelonggaran kebijakan yang beredar di tengah masyarakat, tambah Rerie, sepertinya dimaknai masyarakat bahwa ancaman virus Corona akan berakhir. Padahal, data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 masih terus menunjukkan penambahan jumlah positif Covid-19.

Data Sabtu (9/5) menunjukkan penambahan positif Covid-19 mencapai 533 kasus, tertinggi sejak Maret 2020.

"Dari hari ke hari, sejumlah ruas jalan dan sudut-sudut kota di Jakarta mulai ramai dengan aktivitas masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan, tanpa masker, tidak jaga jarak," ujarnya.

Belum lagj, jelas Rerie, setelah transportasi umum diperbolehkan beroperasi kembali pada Kamis (7/5), di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, kedapatan 11 penumpang dari luar negeri positif Covid-19.

"Itu artinya ancaman penyebaran dan penularan Covid-19 di tanah air masih besar. Dan dengan diizinkannya operasional angkutan umum risiko penyebarannya juga semakin meningkat," tegas Rerie.

Kondisi tersebut, menurut Rerie, harus dihadapi masyarakat dengan kewaspadaan yang semakin tinggi, bukan malah mengabaikan protokol kesehatan. ***

wwwwww