Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menciptakan Data Kemiskinan yang Akurat Butuh Ketegasan Regulasi
DPR RI
16 jam yang lalu
Menciptakan Data Kemiskinan yang Akurat Butuh Ketegasan Regulasi
2
NasDem akan Terus Perjuangkan RUU PKS
DPR RI
14 jam yang lalu
NasDem akan Terus Perjuangkan RUU PKS
3
Hentikan Kartu Prakerja, DPR Apresiasi Pemerintah
Politik
4 jam yang lalu
Hentikan Kartu Prakerja, DPR Apresiasi Pemerintah
4
Urgensi RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Nasional
15 jam yang lalu
Urgensi RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
5
Iuran BPJS Naik Lagi, Pimpinan MPR Sebut Bebani Rakyat saat Pandemi
Politik
3 jam yang lalu
Iuran BPJS Naik Lagi, Pimpinan MPR Sebut Bebani Rakyat saat Pandemi
6
Tuduh Santri Calon Teroris, Pimpinan Ponpes Daarul Ilmi Tuntut Denny Siregar Dipenjarakan
Peristiwa
21 jam yang lalu
Tuduh Santri Calon Teroris, Pimpinan Ponpes Daarul Ilmi Tuntut Denny Siregar Dipenjarakan
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Tagihan Listrik Naik, PLN Bilang Murni karena Pemakaian Pelanggan

Tagihan Listrik Naik, PLN Bilang Murni karena Pemakaian Pelanggan
Ilustrasi. (Net)
Kamis, 11 Juni 2020 14:46 WIB
JAKARTA - Masalah naiknya tarif listrik sebagian masyarakat di tengah pandemi terus bergulir. PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN juga berkali-kali mengklarifikasi bahwa pihaknya tidak menaikkan tarif listrik sejak 2017.

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT PLN, Bob Saril menegaskan, tagihan listrik yang melonjak murni disebabkan pemakaian dari pelanggan sendiri.

"Yang kita catat itu murni dipakai pelanggan. Kenaikan ini murni disebabkan kenaikan pemakaian ditambahkan carry over karena PSBB petugas nggak bisa catat meteran," ujar Bob dalam diskusi virtual, Kamis (11/6).

Bob menjelaskan, formula tarif listrik terdiri dari 2 variabel, yaitu volume pemakaian listrik dikali tarif yang berlaku di segmen pelanggan. Karena tarif tidak naik, maka variabel volume diduga menjadi pemicu melonjaknya tarif listrik.

Petugas PLN di masa pandemi ini menyampaikan tagihan listrik berdasarkan angka stand meter rata-rata 3 bulan terakhir. Hal ini disebabkan petugas tidak datang mencatat meteran secara manual. Misalnya, pemakaian terakhir tercatat hingga 100 kWh, artinya dasar penagihan tarif listrik di satu rumah tangga yaitu 100 kWh. Di bulan April, misalnya, pemakaian mencapai 120 kWh. Bulan Mei, pemakaian mencapai 140 kWh.

"Nah, kan lebihannya 20 (dari April) ditambah 40 (dari Mei), yaitu 60 kWh, artinya ini belum ditagihkan oleh PLN awalnya. Lalu bulan Juni pemakaian 140 kWh. Nah ada carry over 60 kWh, ini totalnya berarti 200 kWh, dan ditagih pada bulan itu, jadi kelihatannya seperti naik 200 persen," jelas Bob.

Guna meringankan pelanggan, PLN membagi tagihan carry over itu untuk penagihan di 3 bulan selanjutnya.

"Jadi dari carry over 60 kWh tadi, 40 persennya dibebankan ke rekening Juni, yaitu sekitar 24 kWh. Lalu sisanya 46 kWh dibagi ke 3 bulan berikutnya," kata Bob.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Merdeka.com
Kategori:GoNews Group, Pemerintahan, Ekonomi, Peristiwa, DKI Jakarta

wwwwww