Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
1,6 Juta ASN Akan Dipecat, Tjahjo Sebut Tak Ada Hubungannya dengan Corona
Pemerintahan
23 jam yang lalu
1,6 Juta ASN Akan Dipecat, Tjahjo Sebut Tak Ada Hubungannya dengan Corona
2
Guru Besar UGM Sebut Nadiem Lebih Cocok jadi Dirjen Ketimbang Menteri
Pendidikan
24 jam yang lalu
Guru Besar UGM Sebut Nadiem Lebih Cocok jadi Dirjen Ketimbang Menteri
3
Misbakhun Dorong Efektivitas Ratusan Triliun Subsidi Energi
DPR RI
13 jam yang lalu
Misbakhun Dorong Efektivitas Ratusan Triliun Subsidi Energi
4
KAI Butuh Dana Talangan, Legislator Dorong Kreativitas Bisnis
DPR RI
13 jam yang lalu
KAI Butuh Dana Talangan, Legislator Dorong Kreativitas Bisnis
5
NJOP Tinggi dan Memberatkan, Legislator Lirik Insentif sebagai Solusi
DPR RI
13 jam yang lalu
NJOP Tinggi dan Memberatkan, Legislator Lirik Insentif sebagai Solusi
6
DPR Tegaskan Pentingnya Penyelamatan UMKM Segera
DPR RI
13 jam yang lalu
DPR Tegaskan Pentingnya Penyelamatan UMKM Segera
Home  /  Berita  /  MPR RI

Jumlah Pasien Positif Kian Tinggi, Wakil Ketua MPR Minta Pemerintah Fokus Tangani Covid-19

Jumlah Pasien Positif Kian Tinggi, Wakil Ketua MPR Minta Pemerintah Fokus Tangani Covid-19
Minggu, 21 Juni 2020 04:19 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI, dari fraksi Partai Demokrat, Syarief Hasan menegaskan agar Pemerintah menyikapi kenaikan angka positif Covid-19 yang menyentuh 43.803 orang.

Data terakhir dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 pada Kamis (18/6/2020) menunjukkan peningkatan kasus harian tertinggi yang mencapai 1.331 kasus positif baru. Ironisnya, dalam satu pekan terakhir pelaksanaan Normal Baru, kasus harian selalu berada di atas angka seribu kasus, kecuali pada (14/6/2020).

"Pemerintah harus lebih fokus pada pemotongan rantai penyebaran Covid-19, bukan hanya pada perbaikan ekonomi," ujarnya, Sabtu (20/6/2020) di Jakarta.

Ia mempertanyakan langkah kebijakan pemerintah. Sebab, langkah Pemerintah belum menuai hasil sama sekali, bahkan sebaliknya semakin tinggi angka korban. Kebijakan New Normal setelah dijalankan juga belum menunjukkan hasilnya.

"Contohnya, saat ini masih banyak pengunjung pasar tradisional belum mengimplementasikan protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19. Masih banyak yang belum menyediakan tempat cuci tangan, kewajiban memakai masker, dan social distancing," tandasnya.

Ia menyarankan, agar Pemerintah dapat melihat kondisi negara lain yang sudah melonggarkan lockdown dan menerapkan Normal Baru. Ternyata, terjadi gelombang kedua Covid-19 yang menghantam berbagai negara, termasuk Cina yang telah mengumumkan nol kasus sebelumnya.

Pada (16/6/2020), sebagian wilayah Cina kembali memberlakukan pembatasan ketat setelah terdapat penambahan kasus sebesar hanya 158 kasus baru. Begitu juga Korea Selatan kembali membatasi kegiatan ekonomi setelah terjadi penambahan kasus baru.

"Negara lain seperti Cina dan Korea Selatan yang hanya terjadi kasus baru dalam jumlah kecil melakukan pembatasan kembali. Lucunya, justru Indonesia yang jumlah kasus hariannya di atas seribu kasus malah melonggarkan pembatasan. Ditambah pelonggaran ini kurang diikuti dengan ketegasan implementasi Protokoler Kesehatan di masyarakat. Kebijakan ini paradox dan kontraproduktif," ungkap Syarief Hasan.

Ia juga mempertanyakan hasil dan ukuran kerja pemerintah setelah pemerintah mempersiapkan dan menggelontorkan dana besar.

Melalui PERPPU No.1 Tahun 2020, Pemerintah dengan anggaran yang mencapai Rp695,2 triliun kata Dia, tidak menujukkan hasil penurunan kasus positive Covid 19 maupun progress dalam penanganan di bidang kesehatan.

Malah, yang terjadi adalah anggaran besar tersebut membuat defisit APBN melebar menjadi 6,34% dari PDB. Dana ini ekuivalen dengan 24,73% Belanja APBN 2020 yang menjadi beban Rakyat.

"Dengan dana sebesar ini, seharusnya Pemerintah dapat menekan laju penyebaran Covid-19. Tetapi, nyatanya dana besar ini belum ada capaian yang menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menangani Pandemi Covid-19," jelas Syarief Hasan.

Syarief Hasan juga meminta Pemerintah agar mobilitas masyarakat yang tinggi harus dicarikan solusi dan strategi oleh Pemerintah. "Strategi yang tidak hanya berorientasi ekonomi tetapi harus orientasi security kesehatan. Hal ini sangat penting untuk mengembalikan security kesehatan masyarakat. Sebab, insecurity yang muncul di masyarakat dapat menimbulkan ketakutan berlebihan, kecemasan, bahkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Pemerintah yang belum mampu menekan peningkatan Covid-19," tukasnya.

"Dengan mengembalikan kepercayaan masyarakat tersebut masalah ini dapat teratasi bersama," saran Syarief Hasan.

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini menegaskan agar Pemerintah memberikan bukti kepada masyarakat bahwa Pandemi Covid-19 dapat diatasi. Apalagi, anggaran yang besar telah tersedia. Bukan sebaliknya, kasus harian meningkat dari hari ke hari dan masyarakat menjerit karena terganggu ekonominya.

"Pemerintah juga harus lebih tegas dalam implementasi Normal Baru dan penanganan Pandemi Covid-19. Sebab ukuran kinerja Pemerintah itu dilihat dari penurunan angka Covid-19 dan penormalan kembali kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat," karanya.

Saat ini kata Dia, masyarakat menanyakan kebijakan baru yang lebih strategis dan relevan dari pemerintah dalam menanggapi peningkatan Covid-19, bukan mendiamkan terjadinya penambahan kasus dan membuat kebijakan kontraproduktif. Kedepan, jika korban semakin bertambah berarti Pemerintah gagal mengatasi penyebaran Covid 19.

"Artinya pemerintah tidak bisa atau belum bisa memberikan perlindungan kepada Rakyatnya sesuai amanah UUD 45," pungkasnya.***


wwwwww