Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
20 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
21 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
3
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
20 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
4
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
20 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
5
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
20 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
6
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Sepakbola
20 jam yang lalu
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Home  /  Berita  /  PON

LAPAN: Jangan Saksikan Gerhana Matahari dengan Mata Telanjang

LAPAN: Jangan Saksikan Gerhana Matahari dengan Mata Telanjang
Gerhana Matahari Cincin. (sindonews.com)
Minggu, 21 Juni 2020 11:02 WIB
JAKARTA - Gerhana Matahari Cincin (GMC) terjadi hari ini, Ahad (21/6/2020). Namun di Indonesia, hanya terlihat Gerhana Matahari Sebagian (GMS), itu pun tidak di semua daerah, dengan kegelapan kurang dari 50%.

Dikutip dari Okezone.com, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, mengingatkan warga tidak menyaksikan fenomena alam tersebut menggunakan mata telanjang. Menurut Thomas, tidak ada bedanya melihat GMC maupun GMS. ''Sama, harus berhati-hati dengan cahaya Matahari yang sangat kuat,'' ungkap Thomas.

Sambung Thomas, jangan paksakan melihat Matahari yang sangat silau. Untuk menyaksikan fenomena ini, perlu menggunakan kacamata filter.

''Gunakan peredup cahaya untuk melihat sekilas perkembangan gerhana. Lebih baik gunakan filter matahari atau kacamata matahari, kalau ada,'' sarannya.

Gerhana Matahari Cincin Api sendiri hanya akan terlihat di Asia Tengah sampai Asia Timur. Thomas menjelaskan, itu terjadi ketika Matahari-Bulan-Bumi dalam konfigurasi segaris.

Karena posisi bulan lebih jauh dari rata-rata jaraknya dari Bumi, ukurannya lebih kecil daripada Matahari. Jadi bulan hanya menutupi bagian tengah matahari, sehingga matahari tampak seperti cincin.

Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), di Indonesia, GMS akan melewati 432 pusat kota dan kabupaten di 31 provinsi.

Di Indonesia, lanjut BMKG, waktu mulai gerhana paling awal adalah di Sabang, Aceh, terjadi pukul 13.16.00,5 WIB. Sementara kota yang waktu mulai gerhananya paling akhir adalah di Kepanjen, Jawa Timur, yakni pukul 15.19.49,3 WIB.

Demikian juga waktu puncak Gerhana yang akan terjadi berbeda-beda di setiap daerah. Daerah di Indonesia yang akan mengalami waktu saat puncak gerhana paling awal adalah Kota Sabang, Aceh, yang terjadi pada pukul 14.34.52,4 WIB. Lalu kota yang akan mengalami waktu puncak paling akhir adalah Agats, Papua, yaitu pukul 17.37.26,3 WIT.

''Adapun waktu kontak akhir paling awal akan terjadi di Tais, Bengkulu yang terjadi pada pukul 15.06.39,8 WIB dan waktu kontak akhir paling akhir akan terjadi di Melonguane, Sulawesi Utara, pada pukul 17.31.44,9 WITA,'' tulis BMKG. ***

Editor:hasan b
Sumber:okezone.com
Kategori:PON
wwwwww