Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jaksa Pinangki Diduga Terima Suap dari Djoko Tjandra Rp7 Miliar
Nasional
23 jam yang lalu
Jaksa Pinangki Diduga Terima Suap dari Djoko Tjandra Rp7 Miliar
2
Usai Disetubuhi, Tabrani Bunuh dan Bakar Istrinya, Hasanah, Ini Penyebabnya
Peristiwa
22 jam yang lalu
Usai Disetubuhi, Tabrani Bunuh dan Bakar Istrinya, Hasanah, Ini Penyebabnya
3
Terkait Skandal Djoko Tjandra, Kejagung Tangkap Jaksa Pinangki Selasa Malam
Nasional
23 jam yang lalu
Terkait Skandal Djoko Tjandra, Kejagung Tangkap Jaksa Pinangki Selasa Malam
4
Minta Turunkan Biaya Penyebrangan Antar Pulau Jawa dan Sumatra, SPASI Surati Presiden
Ekonomi
18 jam yang lalu
Minta Turunkan Biaya Penyebrangan Antar Pulau Jawa dan Sumatra, SPASI Surati Presiden
5
Pendaftaran Wartawan Peliput PON XX Papua Diperpanjang
Olahraga
15 jam yang lalu
Pendaftaran Wartawan Peliput PON XX Papua Diperpanjang
6
Kehadiran BSANK Didukung PB/PP, Akademisi Hingga Presiden Astaf
Olahraga
12 jam yang lalu
Kehadiran BSANK Didukung PB/PP, Akademisi Hingga Presiden Astaf
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Kata Legislator setelah Aljannah Melahirkan di Teras

Kata Legislator setelah Aljannah Melahirkan di Teras
Warga membantu Aljannah melahirkan di teras rumah Bidan SF. (Foto: Ist. via koranmadura)
Senin, 13 Juli 2020 18:27 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI, Muchamad Nabil Haroen, menilai ironis terjadinya seorang Ibu Hamil melahirkan di teras rumah Bidan SF, lalu dipungut biaya Rp 800.000 untuk layanan kesehatan pasca melahirkan.

"(Peristiwa ini, red) sangat memprihatinkan di tengah usaha peningkatan mutu/kualitas kesehatan di Indonesia," kata Nabil kepada wartawan, Senin (13/7/2020).

Menurut Nabil, Bidan yang tidak bersedia, enggan melakukan tugas, atau lalai dalam tanggungjawabnya harus diberi sanksi, yang tentu menjadi wilayah internal Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Lebih jauh, Nabil menambahkan, harus ada evaluasi dalam beberapa waktu tertentu, atas proses pendidikan dan kursus Bidan. "Semisal 1 atau 2 tahun sekali terkait profesi kesehatan, yang memungkinkan untuk diberi kursus atau pendidikan tambahan. Dengan demikin, ilmunya terus berkembang,".

Menurut legislator PDIP ini, Bidan atau tenaga kesehatan, harus diberi dasar moral dan sosial yang kuat, sehingga bisa menjadi prinsip untuk berkhidmah. Kata dia, harus ada kesalingan, hubungan seimbang, antara tenaga kesehatan dan masyarakat.

"Dan ini harus diatur oleh sistem, melalui Kementerian Kesehatan dan lembaga-lembaga terkait," ujar politisi yang akrab disapa Gus Nabil ini.

Sebelumnya diberitakan, seorang Ibu Hamil, Aljannah (25), tiba di rumah Bidan SF di Desa Ketapang Barat, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura, sekira pukul 21.30 WIB, pada 4 Juli 2020.

Zainuri, suami Aljannah yang mendampingi ketika itu, mencoba memanggil Bidan SF, namun tak kunjung keluar dari dalam rumah sekira 1 jam lamanya. Hanya suami Bidan SG dan anak Bidan SG yang kemudian muncul. Informasinya, Bidan SF tak bisa melayani lantaran sedang sakit dan tidak ada asisten.

Kemudian, sekitar pukul 23.00 WIB, Aljannah akhirnya melahirkan secara mandiri, dibantu oleh warga.

Kemudian, bidan SF muncul dengan APD lengkap. Aljannah dan bayinya dibawa masuk ke dalam. Aljannah pun dibersihkan setelah melahirkan secara mandiri itu, sementara Bayi Alnjannah dimasukkan ke dalam inkubator selama 15 menit, menurut keterangan Zainuri.

Atas layanan kesehatan tersebut, Bidan SF memungut biaya sebesar Rp 800.000.

Atas peristiwa tersebut, Plt Kepala Dinas Kesehatan Sampang, Agus Mulyadi mengungkapkan, izin praktik Bidan SF dicabut tiga bulan.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DPR RI, Kesehatan, GoNews Group, DKI Jakarta, Jawa Timur

wwwwww