Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
10 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
2
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
12 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
3
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
18 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
4
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
6 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
5
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
8 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
12 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Fadel Muhammad Usul Kredit Tanpa Agunan dengan Bunga 1% bagi UMKM

Fadel Muhammad Usul Kredit Tanpa Agunan dengan Bunga 1% bagi UMKM
Selasa, 14 Juli 2020 20:24 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad mengusulkan pemberian Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk UMKM dengan bunga 1% sebagai stimulus ekonomi akibat pandemi Covid-19. Untuk itu pemerintah harus menginjeksi bank-bank BUMN dan Swasta untuk merealisasikan bantuan stimulus kepada UMKM itu.

"Injeksi sekitar Rp 40 triliun ke bank-bank BUMN agar segera direalisasikan untuk memacu pergerakan ekonomi di sektor UMKM. Namun Rp 40 T kami rasa tidak cukup. Kami usulkan paling tidak Rp 200 triliun,” kata Fadel Muhammad dalam diskusi Media Expert Meeting dengan tema 'Bagaimana Menghadapi New Normal di Bidang Ekonomi, Apa yang Harus Dilakukan?' di Ruang GBHN, Kompleks Parlemen Jakarta, Selasa (14/7/2020).

Media Expert Meeting ini dihadiri sekitar 20 jurnalis senior dari media cetak, online, radio dan televisi.

Fadel Muhammad menjelaskan, pandemi Covid-19 berdampak pada ekonomi global dan nasional. Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2020 minus 5,2% dan pada 2021 diperkirakan 4,2%. Untuk Indonesia, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 ini 0% dan pada tahun 2021 naik menjadi 4,8%. Menurut Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 diprediksi antara 0,9% - 1,9%. Dan pada tahun 2021, pertumbuhan ekonomi naik menjadi 5% - 6%.

"Dengan pertumbuhan sebesar itu ekonomi Indonesia bisa dikatakan stagnan. Pertumbuhan kredit perbankan diprediksi tumbuh 1% pada tahun 2020," jelasnya.

Fadel menambahkan semua sektor ekonomi terkena dampak pandemi Covid-19 termasuk UMKM. Sebanyak 47% UMKM terkena dampak Covid-19. “Untuk itu UMKM perlu disokong kelangsungannya dengan stimulan kredit,” ujarnya. Saat ini ada sekitar 60,6 juta UMKM yang telah terhubung ke lembaga pembiayaan formal dan sekitar 23 juta KUMKM (Koperasi- UMKM) yang berlum terhubung dengan lembaga pembiayaan atau perbankan.

Fadel yang pernah menjadi Ketua Komisi XI DPR ini menyebutkan hampir semua kegiatan ekonomi dalam keadaan sulit dan tidak likuid. Karena itu perlu keberanian pemerintah untuk mengambil langkah-langkah agar ekonomi menjadi likuid. “Kami dari Pimpinan MPR meminta kegiatan perbankan dan institusi keuangan mengambil langkah new normal sehingga ekonomi bergulir serta likuid,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Fadel, memang telah memberikan dana sekitar Rp 40 triliun untuk menginjeksi bank-bank BUMN. Namun, dana sebesar Rp 40 triliun tersebut belum cukup. “Saya hitung-hitung dengan tim, paling tidak kita membutuhkan Rp 200 triliun untuk likuid,” tuturnya.

Mantan Gubernur Gorontalo dua periode itu juga menghitung apabila pemerintah tidak berani mengambil langkah spektakuler untuk membuat likuiditas ekonomi maka bisa kolaps.

"Saya hitung 90 hari, kalau kita tidak berani mengambil langkah membuat likuiditas ekonomi, maka kita bisa kolaps," katanya.

"Kita menunggu langkah berani Presiden Joko Widodo untuk membuat ekonomi likuid. Kita membutuhkan langkah berani beliau untuk membuat ekonomi menjadi likuid," pungkasnya.***

wwwwww