Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
2
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
Politik
24 jam yang lalu
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
3
Persiapan Mendekati Final, MPR Siap Gelar Sidang Tahunan MPR 2020
Politik
23 jam yang lalu
Persiapan Mendekati Final, MPR Siap Gelar Sidang Tahunan MPR 2020
4
Tito Karnavian: Air Wudhu Tidak Membunuh Virus Corona
Pemerintahan
20 jam yang lalu
Tito Karnavian: Air Wudhu Tidak Membunuh Virus Corona
5
Kuatkan Komitmen Etika Bernegara, HNW Usul MPR Bentuk Mahkamah Kehormatan
Politik
24 jam yang lalu
Kuatkan Komitmen Etika Bernegara, HNW Usul MPR Bentuk Mahkamah Kehormatan
6
Guna Menggerakkan Ekonomi Nasional, DPR Dukung Program Subsidi Upah Senilai Rp37,7 Triliun
Ekonomi
23 jam yang lalu
Guna Menggerakkan Ekonomi Nasional, DPR Dukung Program Subsidi Upah Senilai Rp37,7 Triliun
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Ini Dampak Resesi Singapura dan Korea ke Perekonomian Indonesia Menurut Ekonom

Ini Dampak Resesi Singapura dan Korea ke Perekonomian Indonesia Menurut Ekonom
Ilustrasi Buruh Indonesia. (net)
Senin, 27 Juli 2020 13:19 WIB
JAKARTA - Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan RI memperkirakan dampak langsung resesi ekonomi Singapura dan Korea terhadap Indonesia relatif terbatas.

Seperti diketahui, ekonomi Singapura mengalami resesi di kuartal II/2020, setelah produk domestik bruto (PDB) negara tersebut mengalami kontraksi sebesar 41,2 persen (quarter-on-quarter/qtq) atau tumbuh -12,6 persen (year-on-year/yoy).

Penurunan output terbesar terjadi di sektor konstruksi, yang turun 95,6 persen qtq dan tumbuh -54,7 persen yoy.

"Walaupun Singapura mengalami resesi di triwulan II/2020, ekspor Indonesia ke Singapura pada triwulan tersebut meningkat dibandingkan pada triwulan I/2020," ungkap ekonom dari IKS Universitas Kebangsaan, Minggu (26/7/2020).

Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia ke Singapura meningkat US$137,3 juta atau 29,27 persen dari US$468,7 juta pada Mei 2020 menjadi US$606 juta pada Juni 2020.

Secara akumulasi, nilai ekspor mencapai US$4,6 miliar atau 6,36 persen dari total ekspor Indonesia ke seluruh negara pada Januari-Juni 2020.

Eric memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan mengalami kontraksi -1 persen pada 2020 dan kembali tumbuh sebesar 4,8 persen pada 2021.

Sementara itu, Enny Sri Hartati, direktur Indef, mengatakan bahwa ekonomi sebuah negara bisa dikatakan mengalami resesi jika terjadi "penurunan ekonomi secara eksesif."

Enny mengatakan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indonesia mencatatkan inflasi yang sangat rendah pada bulan Mei, Juni dan Juli hanya 0,07 persen, salah satu indikasi bahwa daya beli masyarakat sedang sangat jatuh.

Inflasi merupakan kenaikan harga barang-barang dan jasa yang salah satunya disebabkan oleh melonjaknya permintaan. Oleh karenanya, daya beli masyarakat yang lemah bisa menurunkan tingkat inflasi.

Belanja rumah tangga jelang Hari Raya Idul Adha, selama ini bisa diandalkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal yang mencakup bulan dan hari suci umat Islam tersebut.

Rendahnya daya beli masyarakat saat Lebaran bisa menjadi indikasi bahwa ekonomi pada periode April-Juni tidak tumbuh dan justru melemah, atau minus.

Resesi akan terjadi jika Indonesia mencatatkan pertumbuhan minus dalam dua triwulan berturut-turut. "Kalau di triwulan dua, otomatis karena ada pemberlakuan PSBB dan dampak pandemi yang telah berjalan lebih dari dua bulan terhadap daya beli dan konsumsi rumah tangga, yang dampaknya jauh lebih besar daripada di triwulan satu,".

"Maka banyak yang memberikan simulasi bahwa [pertumbuhan ekonomi] untuk triwulan dua sudah pasti minus," jelas Enny.

"Cuma minusnya berapa, itu sangat tergantung dari bansos dari pemerintah, seberapa efektif, itu untuk menopang penurunan daya beli masyarakat.

"Tapi kalau kita lihat dari rilis Badan Pusat Statistik [BPS] di bulan Mei, inflasi sangat rendah hanya 0,07%, padahal ada hari raya, itu menunjukkan bahwa mitigasi dalam hal perlindungan sosial relatif tidak efektif.

"Daya beli masyarakat benar-benar drop. Yang kedua, adalah penjualan ritel yang juga minus untuk bulan April dan Mei, sehingga itu yang menyebabkan potensi kita menghadapi kontraksi ekonomi, kalau tidak disebut resesi atau pertumbuhan minus, itu sangat besar," tambahnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:bisnis.com dan BBC
Kategori:GoNews Group, Pemerintahan, Ekonomi, Peristiwa, DKI Jakarta

wwwwww