Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
Pemerintahan
24 jam yang lalu
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
2
Persiapan Mendekati Final, MPR Siap Gelar Sidang Tahunan MPR 2020
Politik
24 jam yang lalu
Persiapan Mendekati Final, MPR Siap Gelar Sidang Tahunan MPR 2020
3
Tito Karnavian: Air Wudhu Tidak Membunuh Virus Corona
Pemerintahan
21 jam yang lalu
Tito Karnavian: Air Wudhu Tidak Membunuh Virus Corona
4
Kuatkan Komitmen Etika Bernegara, HNW Usul MPR Bentuk Mahkamah Kehormatan
Politik
24 jam yang lalu
Kuatkan Komitmen Etika Bernegara, HNW Usul MPR Bentuk Mahkamah Kehormatan
5
Guna Menggerakkan Ekonomi Nasional, DPR Dukung Program Subsidi Upah Senilai Rp37,7 Triliun
Ekonomi
24 jam yang lalu
Guna Menggerakkan Ekonomi Nasional, DPR Dukung Program Subsidi Upah Senilai Rp37,7 Triliun
6
Otong Tewas Diduga Disiksa Polisi, Jokowi dan DPR Didesak Revisi KUHAP
Peristiwa
21 jam yang lalu
Otong Tewas Diduga Disiksa Polisi, Jokowi dan DPR Didesak Revisi KUHAP
Home  /  Berita  /  Politik

Sindir Gibran, Mardani: Dinasti Politik Bahaya, Apalagi Tiba-tiba Maju Pilkada Secara Instan

Sindir Gibran, Mardani: Dinasti Politik Bahaya, Apalagi Tiba-tiba Maju Pilkada Secara Instan
Selasa, 28 Juli 2020 20:20 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Anggota Komisi II Fraksi PKS Mardani Ali Sera mengatakan dinasti politik merupakan suatu hal yang buruk. Apalagi jika dilakukan secara instan, di mana seseorang dari keluarga yang memiliki kekuasaan kemudian dicalonkan menjadi kepala daerah tanpa melalui proses.

Proses yang dimaksud Mardani ialah tahapan atau karier seseorang dalam politik atau jenjang kepemimpinan. Ia berujar, apabila seseorang dipaksakan untuk melanggengkan kekuasaan melalui dinasti politik tanpa mengikuti suatu proses maka akan sangat berbahaya.

"Yang tidak tepat pandangan saya, dan lebih berbahaya ketika prosesnya instan, tiba-tiba saja dia maju (Pilkada)," kata Mardani dalam sebuah diskusi bertajuk UU Pilkada dan Kekhawatiran Menguatnya Dinasti Politik, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (28/7/2020).

Mardani mengatakan, proses menjadi pemimpin harus berporeses dari bawah. Kalau bisa, kata Mardani, merangkak dari bawah seperti lebih dulu menjadi Ketua RT, Ketua RW, Karang Taruna, KNPI, mulai dari paling bawah.

"Jadi ada pengalaman mengurus publik, jangan ujug-ujug maju sebagai kepala daerah," imbuhnya.

Ia kemudian mencontohkan sebuah tahapan kepemimpinan sebagaimana yang dilalui oleh anak Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Puteri, yakni Puan Maharani.

Diketahui sebelum menjabat sebagai Ketua DPR, Puan belakangan sudah lebih dulu menjabat di sejumlah posisi semisal Menteri Koordinator PMK.

"Saya agak puji Mbak Puan, sebelum ketua DPR kan ketua pemenangan Bappilu, kemudian maju DPR kemudian maju Menko kemudian carrier path-nya ada," kata Mardani.

Meski tidak spesifik menyebutkan siapa saja kemudian yang dianggap melakukan politik dinasti secara instan, Mardani berpandangan bahwa dinasti politik merupakan ancaman bagi demokrasi.

"Jadi pandangan saya, dinasti politik ini buruk dan residu demokrasi. Karena itu, kita harus mengoreksinya di RUU Pilkada yang akan datang," katanya.

Sebelumnya putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka dipastikan maju sebagai bakal calon wali kota Solo di Pilkada 2020. Gibran maju dari partai yang diketuai Megawati Soekarnoputri.***


wwwwww