Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
21 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
20 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
3
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
22 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
4
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
18 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
5
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
Non Olympic
20 jam yang lalu
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
6
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
Sepakbola
18 jam yang lalu
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
Home  /  Berita  /  Sepakbola

Bicara Soal Statuta PSSI, Towel: Itu Ranah Exco

Bicara Soal Statuta PSSI, Towel: Itu Ranah Exco
Tommy Welly. (Dok-Pribadi)
Minggu, 02 Agustus 2020 11:24 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Tudingan pelanggaran statuta PSSI yang terjadi pada kepengurusan PSSI di bawah kepemimpinan Mochamad Iriawan semakin mendapat sorotan tajam. Apalagi, anggota Exco PSSI tidak satu pun memberikan penjelasan tentang tudingan tersebut.

"Saya juga heran mengapa tak satupun anggota Exco PSSI memberikan penjelasan masalah adanya pelanggaran statuta PSSI sehubungan dengan penunjukan Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi yang posisinya coba dipertahankan oleh Iwan Bule hingga usai pelaksanaan Piala Dunia U 20 2021. Bukankah itu ranah Exco?," tanya pengamat sepakbola, Tommy Welly yang dihubungi melalui WhatsApp, Minggu (2/8/2020). 

Sebenarnya, kata Tommy Welly yang disapa Towel,  esensi pelanggaran statuta PSSI yakni pasal 61 ayat 4 justru sama sekali tidak bisa dibantah. Bahkan, Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi sekalipun tidak dalam posisi yang pas untuk membantahnya. "Yunus Nusi tak berhak membantah adanya pelanggaran statuta PSSI apalagi yang bersangkutan menjadi obyek dari pelanggaran itu," jelasnya. 

Tidak adanya respon dari anggota Exco tentang tudingan pelanggaran yang sangat fatal dan disebutkan mantan Komite Etik FIFA, Dali Tahir bisa berdampak terhadap sanksi FIFA itu, kata Towel, wajar saja menimbulkan berbegai persepsi dari publik. 

"Soal respon ini sangat penting. Jangan sampai muncul pertanyaan dari publik apakah Exco PSSI terutama Exco lama benar-benar tidak memahami statuta atau malah mereka sengaja melakukan pembiaran/membiarkan terjadinya pelanggaran statuta yang dilakukan Ketua Umum PSSI dan Anggota Exco Yunus Nusi," ungkapnya.  

Memang Joko Driyono yang menjabat Exco PSSI pernah menjadi Plt Sekjen PSSI pada era kepemimpinan Edy Rahmayadi. Namun, posisi Joko Driyono yang menjabat Wakil Ketua Umum PSSI menggantikan sementara Sekjen Ade Wellington yang diberhentikan, kata Towel tidak bisa dijadikan seolah yurisprudensi seperti di ranah hukum.

"Saat menjabat Plt Sekjen PSSI, Joko Driyono itu punya tahapan yang jelas. Dia menggelar Fit and Profer Test dimana saat itu Ratu Tisha terpilih menjadi Sekjen PSSI," ungkapnya.

"Saat Plt Sekjen dijabat Yunus Nusi tahapan itu tidak ada. Bahkan, Iwan Bule malah ingin mempertahankannya hingga usai Piala Dunia U 20 2021," tambahnya. ***

wwwwww