Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sempat Dikira Hoaks, Kasus Anak yang Dibuang Ibu di Jalanan di Riau Sudah Ditangani Polisi
Peristiwa
16 jam yang lalu
Sempat Dikira Hoaks, Kasus Anak yang Dibuang Ibu di Jalanan di Riau Sudah Ditangani Polisi
2
Cerita Viral Anak Dibuang Dengan Sepucuk Surat, Orangtua Cabut Kuku Tangan Anak Pakai Tang
Peristiwa
16 jam yang lalu
Cerita Viral Anak Dibuang Dengan Sepucuk Surat, Orangtua Cabut Kuku Tangan Anak Pakai Tang
3
Hingga 27 September, Kematian Akibat Covid-19 Lebih 1 Juta Orang, Total Terinfeksi 33.018.877
Kesehatan
22 jam yang lalu
Hingga 27 September, Kematian Akibat Covid-19 Lebih 1 Juta Orang, Total Terinfeksi 33.018.877
4
Tim Satgas Penanganan Covid-19 Punya Manfaat Ganda
Sepakbola
20 jam yang lalu
Tim Satgas Penanganan Covid-19 Punya Manfaat Ganda
5
Persib Bandung Putuskan Tinggal di Yogyakarta
Sepakbola
20 jam yang lalu
Persib Bandung Putuskan Tinggal di Yogyakarta
6
Edarkan Uang Palsu, Mantan Kepala Dinas Pendidikan Ditangkap Polisi
Peristiwa
21 jam yang lalu
Edarkan Uang Palsu, Mantan Kepala Dinas Pendidikan Ditangkap Polisi
Home  /  Berita  /  Pendidikan

Jadi Guru Honor 18 Tahun, Nur Fadli Dirikan 10 Sekolah Gratis, Begini Kisahnya

Jadi Guru Honor 18 Tahun, Nur Fadli Dirikan 10 Sekolah Gratis, Begini Kisahnya
Nur Fadli bersama siswa-siswa sekolah gratis yang didirikannya. (kompas.com)
Jum'at, 28 Agustus 2020 17:49 WIB

JEMBER - Sebelum diangkat sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) pada tahun 2018 lalu, Nur Fadli mengabdikan diri sebagai guru honor selama 18 tahun.

Namun Nur Fadli bukan guru honor biasa. Dia telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap sektor pendidikan di negeri ini, dengan mendirikan 10 sekolah gratis di sejumlah kecamatan di Jember, Jawa Timur.

Nur Fadli mulai mendirikan sekolah gratis pada tahun 2004 lalu, di Desa Kemiri, Kecamatan Panti, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, dan Kecamatan Sukorambi, daerah yang berada di kaki Gunung Argopuro.

Di kawasan tersebut, banyak orangtua anak-anak yang bekerja sebagai buruh tani, kuli bangunan hingga merantau ke Bali dan luar negeri.

''Saya prihatin melihat banyak anak-anak yang putus sekolah saat itu,'' kata dia, kepada Kompas.com, saat ditemui di rumahnya, di Dusun Manggis, Desa Sukorambi, Jumat (28/8/2020).

Pria kelahiran 11 Desember 1980 itu tak ingin diam melihat anak-anak tidak sekolah. Dia berkaca pada dirinya sendiri yang pernah mengalami kesulitan untuk sekolah, harus mencari biaya sendiri hingga menjadi pemulung.

Saat lulus dari Universitas Islam Jember, Nur Fadli menjadi guru di daerah sekitar rumahnya pada tahun 2000 silam.

Pengalaman menjadi guru membuat hatinya terenyuh melihat rendahnya tingkat pendidikan anak-anak desa. Bahkan, banyak yang langsung menikah di usia dini.

''Mereka tidak sekolah karena terkendala biaya,'' ujar dia.

Selain itu, untuk pergi ke sekolah, jaraknya cukup jauh.

Akhirnya, Nur Fadli mencoba merintis lembaga pendidikan di daerah pelosok tersebut.

Dia merintis sekolah dasar di Bintoro tahun 2004 lalu. Awalnya, sekolah tersebut merupakan madrasah diniyah.

''Anak-anaknya tidak sekolah, tapi belajar di madrasah diniyah,'' tutur dia.

Mereka tidak sekolah karena SD cukup jauh, yakni sekitar empat kilometer.

Mereka harus melewati kawasan perkebunan untuk sampai di sekolah dengan jalan kaki. Akhirnya banyak yang memilih tidak sekolah.

''Saya ajak tokoh masyarakat untuk bangun SD,'' tambah dia.

Awalnya tak mudah, karena banyak penolakan dari warga sekitar. Sebab, warga khawatir dengan biaya pendidikan.

Berbeda dengan madrasah diniyah yang digelar secara gratis.

Pelan tapi pasti, Nur Fadli mampu meyakinkan para wali murid. Akhirnya, sekolah dibangun dan membantu proses hingga menjadi SDN Bintoro V sampai sekarang.

''Sudah banyak yang lulus dan kuliah sampai sekarang,'' tutur dia.

Tak hanya itu, Nur Fadli juga merintis lembaga MTs Asy syukriah 2004 Bintoro. Alasannya sama, karena banyak anak-anak yang tidak sekolah.

Proses pendirian lembaga tersebut dilakukan secara swadaya.

''Butuh tiga tahun meyakinkan warga sekitar, apalagi saya orang baru,'' terang dia.

Selain itu, dia terus mengembangkan pendirian sekolah baru di daerah pinggiran yang tidak terjangkau lembaga pendidikan.

Yakni mendirikan MI terpadu Arrohman di Sukorambi pada 2007. Awalnya, sekolah ini hanya terbuat dari gubuk sederhana dari kerajinan kayu.

Namun, semangat gotong royong wali murid mampu mewujudkan gedung sekolah.

Setelah itu, dia mendirikan MTs Miftahul Ulum Desa Kemiri Panti 2013 dan MA Miftahul Ulum tahun 2014. MTs tersebut berawal dari sejumlah anak-anak yang belajar di masjid.

Nur Fadli terus berupaya agar sekolah bisa dibangun sehingga anak-anak belajar dengan nyaman.

''Setelah itu, dirikan juga PAUD hingga RA, hingga total sepuluh sekolah,'' tutur dia.

Semua pendidikan di lembaga tersebut tersebut digelar secara gratis. Awalnya, guru dibayar dengan gaji dari hasil usaha ternak kambing milik Nur Fadli dan dibantu teman-temannya.

''Kalau sekolah di pinggiran bayar, tidak akan ada yang sekolah,'' ucap ayah tiga anak tersebut.

Nur Fadli mengajak wali murid bekerja sama beternak kambing miliknya. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, hasilnya juga disumbangkan bagi pembangunan sekolah.

''Sampai sekarang ada sekitar 200 kambing dikelola wali murid,'' ujar dia.

Ingin para muridnya jadi pemimpin masa depan

Mendirikan lembaga pendidikan di daerah pinggiran menjadi tantangan tersendiri bagi Nur Fadli.

Selain menjadi kepala sekolah, dia juga mengajar di sekolah tersebut. Dia harus melewati jalan berbatu untuk mengajar di sekolah yang didirikan.

Setiap harinya, dia menggunakan sepeda motor untuk menuju lokasi. Apabila musim hujan, jalan menjadi becek sehingga kerap terjatuh.

Namun, hal itu tidak menggoyahkan semangat Nur Fadli untuk mengajar di daerah pinggiran.

''Pelajarnya waktu itu baru semua, pembelajaran dibuat menyenangkan,'' tutur dia.

Ia membuat pelajar bisa baca tulis dengan cara yang tidak membosankan. Selain belajar di dalam kelas, juga diajak belajar di luar kelas.

Seperti di sawah, sungai hingga kebun.

Nur Fadli kembali mengajak para pelajar untuk terus merawat nilai-nilai keindonesiaan.

Di sekolah, dia mengajarkan anak-anak agar bersikap bergotong-royong, toleran dan, kreatif dan memiliki semangat kemandirian.

''Saya ingin anak-anak bisa menjadi pemimpin masa depan walau mereka lahir di daerah pinggiran,'' tutur dia.

Dia ingin menegaskan bahwa tinggal di daerah pinggiran bukan alasan untuk tidak meraih kesuksesan.

Sekarang, Nur Fadli sudah tidak lagi mengajar di lembaga yang dirintisnya. Namun pindah ke SMPN 1 Sukorambi karena sudah berstatus P3K sejak 2018 lalu.

Namun, sekolah yang dirintisnya terus berjalan, bahkan sudah ada beberapa muridnya yang juga mengajar di sana.

''Saya tetap melihat sekolah-sekolah, manajemen sudah berjalan,'' tutur dia.

Perubahan yang terjadi di lingkungan masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Argopuro begitu nyata.

Orangtua begitu peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Bahkan, minimal lulus SMA.***

Editor:hasan b
Sumber:kompas.com
Kategori:Pendidikan

wwwwww