Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Breaking News: Seorang Ustad Ditusuk Saat Ceramah Maulid di Aceh Tenggara
Peristiwa
16 jam yang lalu
Breaking News: Seorang Ustad Ditusuk Saat Ceramah Maulid di Aceh Tenggara
2
Peringatan Sumpah Pemuda 2020, HMI Serukan Perlawanan
Nasional
23 jam yang lalu
Peringatan Sumpah Pemuda 2020, HMI Serukan Perlawanan
3
Penusuk Ustaz Zaid saat Ceramah Maulid di Aceh Ditangkap
Hukum
15 jam yang lalu
Penusuk Ustaz Zaid saat Ceramah Maulid di Aceh Ditangkap
4
Ikuti Presiden Turki, Sejumlah Swalayan di Aceh Mulai Boikot Produk Prancis
Peristiwa
21 jam yang lalu
Ikuti Presiden Turki, Sejumlah Swalayan di Aceh Mulai Boikot Produk Prancis
5
Video Pembakar Halte Transjakarta Viral, Polisi Buka Peluang Tetapkan Tersangka Baru
Hukum
20 jam yang lalu
Video Pembakar Halte Transjakarta Viral, Polisi Buka Peluang Tetapkan Tersangka Baru
6
Pimpinan MPR Imbau Masyarakat Tak Takut Divaksin
Kesehatan
4 jam yang lalu
Pimpinan MPR Imbau Masyarakat Tak Takut Divaksin
Home  /  Berita  /  MPR RI

Ngobras Bareng Pecinta Satwa, Ketua MPR Dorong Penangkaran dan Pelestarian Satwa

Ngobras Bareng Pecinta Satwa, Ketua MPR Dorong Penangkaran dan Pelestarian Satwa
Ketua MPR Bambang Soesatyo bersama komunitas pecinta satwa. (Istimewa)
Sabtu, 26 September 2020 17:39 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
BOGOR - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendukung usaha penangkaran satwa yang dilakukan perorangan maupun kelompok masyarakat. Sebagaimana dilakukan pengusaha nasional, Robert B. Susatya, yang memanfaatkan lahan seluas 12 hektar dengan ratusan tenaga kerja dan puluhan dokter hewan, menangkar lebih dari seribu lima ratus satwa.

Antara Elang Botak Amerika Utara, Burung Hantu Eropa, Makaw Skarlet dan beragam jenis Makaw lainnya, Black Swan, Flaminggo, Ayam Brahma, hingga berbagai hewan eksotis lainnya. Penangkaran satwa-satwa tersebut telah mendapatkan izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam.

"Kepedulian Pak Robert maupun perorangan dan kelompok lainnya melakukan penangkaran satwa, menunjukan kepedulian terhadap lingkungan. Berkat usaha mereka, keseimbangan ekosistem alam tetap terjaga. Sehingga satwa tak punah tergilas zaman karena perburuan liar maupun penghancuran hutan akibat keserakahan manusia," ujar Bamsoet usai mengunjungi penangkaran satwa yang dikelola Robert B.Susatya, di Bogor, Sabtu (26/9/20).

Ketua DPR RI ke-20 ini mendorong lahirnya banyak pengusaha sukses yang tak hanya membuka lapangan pekerjaan bagi warga, tetapi juga punya kepedulian terhadap satwa, alam, dan lingkungan. Menjadi contoh bagi generasi muda, bahwa rezeki yang diberikan Allah harus dikelola secara bijak. Salah satunya bisa disalurkan untuk menangkar satwa, maupun hobi lainnya yang memberikan efek manfaat besar bagi manusia, satwa, dan alam.

"Tak terbayang berapa banyak pengeluaran Pak Robert yang harus diberikan untuk mengelola lahan penangkaran sekaligus ribuan satwa. Ditambah ratusan karyawan yang bekerja disini. Namun karena rasa cinta, sebesar apapun harga yang harus ditanggung menjadi ringan untuk dikeluarkan. Rezeki bisa dicari, kepuasan batin melindungi satwa tak boleh terhenti," tandas Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, Indonesia merupakan rumah bagi tiga ratus ribu lebih satwa liar (17 persen satwa dunia ada di Indonesia). Disini setidaknya hidup 515 jenis mamalia, maupun 1.539 jenis burung. Data tahun 2013 dari Uni Internasional untuk Konservasi Alam mencatat Indonesia memiliki satwa endemik (satwa khas yang hanya hidup di alam Indonesia, tak ada di alam negara lain). Terdiri dari 259 jenis mamalia endemik, 384 jenis burung endemik, serta 173 jenis amphibi endemik. Antara lain seperti Harimau Sumatera, Jalak Bali, Burung Maleo Sulawesi, Badak Jawa, maupun Lutung Jawa.

"Kepedulian terhadap satwa seperti yang dilakukan Pak Robert, membuat anak cucu kita di masa depan tetap terjamin bisa menikmati keanekaragaman satwa yang hidup di Indonesia. Kelak mereka tetap bisa mengetahui seperti apa Elang, Singa, Harimau, Monyet, dan beragam jenis satwa lainnya. Tak hanya mengandalkan video di youtube ataupun di berbagai platform media sosial, melainkan tetap bisa melihat secara langsung dengan mata kepala maupun memegang dengan tangan mereka sendiri," pungkas Bamsoet. ***

wwwwww