Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Komnas HAM dan Polri Jajaki Mekanisme Kerjasama Penanganan Kasus ITE
Nasional
18 jam yang lalu
Komnas HAM dan Polri Jajaki Mekanisme Kerjasama Penanganan Kasus ITE
2
Anggota IPW Tersangka Kasus ITE, Selanjutnya Tergantung Pelapor
Hukum
17 jam yang lalu
Anggota IPW Tersangka Kasus ITE, Selanjutnya Tergantung Pelapor
3
Eks Menteri KP dari Gerindra Siap Dihukum Mati, KPK: Majelis Hakim yang Memutuskan
Hukum
16 jam yang lalu
Eks Menteri KP dari Gerindra Siap Dihukum Mati, KPK: Majelis Hakim yang Memutuskan
4
Survei Membuktikan! PDIP Wangi meski Belasan Ribu Cuit Ramaikan Tagar #PDIPJuaraKorupsi
Politik
15 jam yang lalu
Survei Membuktikan! PDIP Wangi meski Belasan Ribu Cuit Ramaikan Tagar #PDIPJuaraKorupsi
5
Incar Emas Keenam di PON Papua, Yana Komara Tak Terhalang Usia 
Olahraga
11 jam yang lalu
Incar Emas Keenam di PON Papua, Yana Komara Tak Terhalang Usia 
6
Deretan Public Figur Ini Disunat saat Dewasa dengan Metode Gun Stapler
Umum
11 jam yang lalu
Deretan Public Figur Ini Disunat saat Dewasa dengan Metode Gun Stapler
Home  /  Berita  /  Peristiwa

Selalu Gratiskan Biaya Berobat Santri, Dr Andriani Wafat saat Gempa Guncang Mamuju

Selalu Gratiskan Biaya Berobat Santri, Dr Andriani Wafat saat Gempa Guncang Mamuju
dr Andriani (tengah) bersama suami dan anak-anaknya. (Foto: Facebook)
Sabtu, 16 Januari 2021 15:55 WIB
JAKARTA - Jumlah korban yang sudah tercatat ada 42 korban jiwa akibat gempa magnitudo 6,2 yang mengguncang Mamuju, pada Jumat dini hari, 15 Januari 2021.

Salah satu yang menjadi korban adalah dr Hj Adriani Kadir, M.Kes.

Bangunan 5 lantai yang sekaligus menjadi rumah dan klinik tempat praktiknya, ambruk diguncang gempa pada dini hari itu. Ketua IDI Sulbar ini pun meninggal dunia. Suaminya, H Solihin, berhasil selamat.

Ads

Dilansir dari Hidayatullah.com, dr. Adriani Kadir adalah salah seorang dokter yang sangat besar perhatian dan kepeduliannya terhadap sesama.

Di antara kebaikannya, almarhumah kerap menggratiskan para santri dan ustaz dari pesantren yang berobat ke kliniknya. Almarhumah tidak mau menerima uang dari para santri dan ustaz. Juga para warga kurang mampu.

Itu diungkap Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ustaz Akib Junaid. Menurutnya, kebaikan almarhumah itu sudah dilakukannya sejak lama.

"Pernah suatu ketika saya mengantar istri berobat ke klinik beliau. Pas saya ingin membayar di kasir, petugas kasirnya bilang, 'kata dokter tidak usah dibayar," urai ustaz dari Pesantren Hidayatullah tersebut.

"Mungkin karena alamat yang saya tulis di buku resepsionis adalah alamat pesantren. Sehingga beliau tidak memperkenankan jasa dan obat yang diberikan dibayar dengan rupiah," tambah sang ustaz.

Almarhumah kata sang ustaz, juga sangat detail memperhatikan data orang yang berkunjung ke kliniknya. Sehingga, tidak semua yang datang berobat di klinik almarhumah, harus membayar. Meski dengan pelayanan medis yang selalu baik kepada siapa saja.

"Saya percaya, banyak doa yang tercurah untuk beliau. Sebagaimana saya percaya bahwa kebaikan-kebaikan yang telah beliau perbuat, insya Allah akan Allah ganjar dengan balasan yang lebih baik. Aamiin!," ungkapnya.

Suami almarhumah, Solihin atau yang akrab disapa Om Lihi, selamat meski mengalami luka-luka. Ketua BPH STIEM Mamuju dan Bendahara PWM Sulbar itu, dikabarkan membaik pasca dirawat di sebuah rumah sakit.

Jenazah almarhumah dr Adriani Kadir, dikabarkan dibawa ke Sidrap kemarin untuk dimakamkan. Almarhumah meninggalkan tiga orang anak. Saat kejadian, ketiga anak almarhumah sedang menuntut ilmu di Jawa.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Umum, Peristiwa, Sulawesi Barat
wwwwww