Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
'Dear' AHY, Jika Merasa Istana Campur Tangan maka Lakukanlah Ini!
Nasional
14 jam yang lalu
Dear AHY, Jika Merasa Istana Campur Tangan maka Lakukanlah Ini!
2
Terkuak, Eko Sudah Tidak Latihan di Markas Pelatnas Olimpiade Sejak Juli 2020
Olahraga
22 jam yang lalu
Terkuak, Eko Sudah Tidak Latihan di Markas Pelatnas Olimpiade Sejak Juli 2020
3
Moeldoko Kudeta Demokrat, SBY Ajak Kadernya 'Perang'
Politik
24 jam yang lalu
Moeldoko Kudeta Demokrat, SBY Ajak Kadernya Perang
4
Ngaku Bandel, Sori Endah: Harus Ada Solusi Terbaik
Olahraga
21 jam yang lalu
Ngaku Bandel, Sori Endah: Harus Ada Solusi Terbaik
5
Rongrong Wibawa Presiden, DPN Kombatan Desak Jokowi Copot Moeldoko dari KSP
Politik
24 jam yang lalu
Rongrong Wibawa Presiden, DPN Kombatan Desak Jokowi Copot Moeldoko dari KSP
Home  /  Berita  /  Hukum

Tak Cuma Soal 'Islam Arogan', Bareskrim Juga akan Panggil Abu Janda soal Dugaan Rasisme ke Natalius Pigai

Tak Cuma Soal Islam Arogan, Bareskrim Juga akan Panggil Abu Janda soal Dugaan Rasisme ke Natalius Pigai
Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi (Foto: Kadek Melda Luxiana/detikcom)
Sabtu, 30 Januari 2021 19:13 WIB
JAKARTA - Bareskrim Polri juga akan memanggil Permadi Arya alias Abu Janda untuk diperiksa terkait laporan ujaran rasis terhadap eks Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai.

Pemeriksaan Abu Janda terkait ujaran rasisme ini akan dilakukan di waktu yang berbeda dari jadwal pemeriksaan terkait ujaran 'Islam arogan'

"Untuk pelaporan terhadap terlapor yang sama, dalam hal ini mengenai cuitan dugaan rasisme kepada saudara NP (Natalius Pigai-red), yang bersangkutan juga akan kami panggil dalam panggilan yang berbeda," terang Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Slamet Uliandi, Sabtu (30/1/2021).

Ads

Seperti diketahui, ada dua laporan terhadap Abu Janda di Bareskrim Polri kemarin dan beberapa hari lalu. Laporan pertama soal cuitan Abu Janda di akun Twitternya @permadiaktivis1 yang dinilai rasisme terhadap Natalius Pigai, dan kedua cuitan soal 'Islam agama arogan' saat twit war dengan Tengku Zulkarnain.

Sebelumnya diberitakan Bareskrim Polri akan memanggil Abu Janda pada Senin (1/2/2021). Pemanggilan ini didasari laporan Medya Rischa soal dugaan ujaran rasisme ke Natalius Pigai dan penistaan agama karena Abu Janda menyebut 'Islam arogan'.

"Benar dilayangkan panggilan (terhadap Abu Janda terkait laporan 'Islam arogan'-red)," kata Brigjen Slamet Uliandi kepada detikcom, pagi tadi.

Terkait dirinya dipolisikan karena diduga melakukan ujaran rasisme ke Natalius Pigai, dalam kesempatan berbeda, Abu Janda mengklarifikasi bahwa cuitannya itu bukan rasial. Dia membawa-bawa Rocky Gerung dalam klarifikasinya.

"Kalau dari konteks objek laporannya sebenernya kan itu kan asumtif, jadi mereka berasumsi bahwa saya ini rasis. Padahal kalau dari kalimatnya nggak ada, pertama konteksnya bukan menyatakan, tapi bertanya," kata Abu Janda saat dihubungi detikcom, Kamis (28/1).

Namun, menurutnya, kemudian Rocky Gerung yang awalnya menggiring opini seakan kata-kata 'evolusi' dalam cuitannya adalah berkaitan dengan teori evolusi Darwin. Abu Janda sendiri mengaku tidak mempercayai teori Darwin.

"Saya ini seorang muslim, saya meyakini Nabi Adam itu manusia pertama di bumi, saya tidak percaya teori Darwin. Cuma orang tidak bertuhan, ateis yang percaya teori Darwin dan yang pertama menggiring opini comment saya ke teori Darwin memang Rocky Gerung yang ateis, dia kan pernah terang-terangan mendukung ateisme," tutur Abu Janda.

Soal penegakan hukum di kasus ujaran kebencian, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sempat menerangkan pihaknya akan menegakan hukum secara transparan dan berkeadilan. Dia ingin menghapus anggapan hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Jenderal Sigit juga menuturkan penegakan hukum harus dilakukan secara humanis.

Hal itu disampaikan Jenderal Sigit saat menjalani fit and proper test di DPR RI. Awalnya Jenderal Sigit (saat itu masih berpangkat Komjen) mengatakan selama ini Polri menerima sejumlah masukan, kritik, dan harapan tentang mewujudkan rasa keadilan. Dia menegaskan akan melakukan perbaikan, salah satunya terkait penegakan hukum yang tidak tebang pilih.

"Sebagai contoh ke depan tidak boleh lagi ada hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Tidak boleh lagi ada kasus Nenek Minah yang mencuri kakao kemudian diproses hukum karena hanya untuk mewujudkan kepastian hukum," kata Jenderal Sigit di DPR yang disiarkan langsung, Rabu (20/1).***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Detik.com
Kategori:Peristiwa, Hukum, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta
wwwwww