Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
'Dear' AHY, Jika Merasa Istana Campur Tangan maka Lakukanlah Ini!
Nasional
11 jam yang lalu
Dear AHY, Jika Merasa Istana Campur Tangan maka Lakukanlah Ini!
2
Terkuak, Eko Sudah Tidak Latihan di Markas Pelatnas Olimpiade Sejak Juli 2020
Olahraga
19 jam yang lalu
Terkuak, Eko Sudah Tidak Latihan di Markas Pelatnas Olimpiade Sejak Juli 2020
3
Moeldoko Kudeta Demokrat, SBY Ajak Kadernya 'Perang'
Politik
21 jam yang lalu
Moeldoko Kudeta Demokrat, SBY Ajak Kadernya Perang
4
Pernah Laporkan Abu Janda, Kini Haris Pratama Dicopot dari Jabatan Ketua Umum KNPI
Politik
21 jam yang lalu
Pernah Laporkan Abu Janda, Kini Haris Pratama Dicopot dari Jabatan Ketua Umum KNPI
5
Ngaku Bandel, Sori Endah: Harus Ada Solusi Terbaik
Olahraga
18 jam yang lalu
Ngaku Bandel, Sori Endah: Harus Ada Solusi Terbaik
6
Rongrong Wibawa Presiden, DPN Kombatan Desak Jokowi Copot Moeldoko dari KSP
Politik
21 jam yang lalu
Rongrong Wibawa Presiden, DPN Kombatan Desak Jokowi Copot Moeldoko dari KSP
Home  /  Berita  /  Sepakbola

Soal Pelanggaran Statuta, Dali Kembali Ingatkan Soal Sanksi FIFA

Soal Pelanggaran Statuta, Dali Kembali Ingatkan Soal Sanksi FIFA
Mantan Anggota Komite Etik FIFA, Dali Tahir.
Rabu, 17 Februari 2021 19:46 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Mantan Anggota Komite Etik FIFA, Dali Tahir kembali menyoroti PSSI di bawah kepemimpinan Mochamad Iriawan yang  terus melakukan pelanggaran. akrab dipanggil Iwan Bule. Salah satu yang jelas terlihat posisi Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi yang terus dipertahankan meski FIFA menunda pelaksanaan Piala Dunia U 20 2021 menjadi pada 2023.

"PSSI tidak bisa terus menutupi berbagai pelanggaran statuta FIFA yang dilakukan termasuk mempertahankan posisi Yunus Nusi sebagai Plt Sekjen hingga Piala Dunia U 20 ditunda. Konsekuensi dari pelanggaran statuta itu pasti akan menimbulkan sanksi dari FIFA," kata Dali Tahir yang dihubungi, Rabu (27/2/2021). 

Menurut Dali Tahir, posisi Sekjen itu tidak boleh dirangkap Yunus Nusi yang juga tercatat sebagai anggota Exekutif Committee (Exco) PSSI . "Sekjen itu posisinya hanya pegawai yang menjalankan keputusan Exco dan tidak berhak berbicara dalam rapat kalau tidak diminta Exco.  Ini kan jelas pelanggaran dimana Yunus tetap dipertahankan menjabat sebagai Plt Sekjen meski sudah lebih dari tiga bulan dan pelaksanaan Piala Dunia U 20 ditunda," ungkapnya.

Ads

Dalam menjalankan kebijakan PSSI, kata DaliTahir, banyak keputusan PSSI yang dibuat Mochamad Iriawan  tanpa persetujuan Exco PSSI. Padahal, Iwan Bule panggilan akrab Mochamad Iriawan itu sebagai Ketua Exco PSSI. 

"Iwan Bule tidak boleh mengeluarkan keputusan tanpa mendapat persetjjuan Exco PSSI. Presiden FIFA saja tidak bisa membuat keputusan tanpa melibatkan Exco," tegasnya. 

Ketika ditanyakan apa sanksinya?, Dali Tahir yang juga Ketua Tim Perumus Statuta PSSI menjawab, "Bisa sampai di banned atau dilarang ikut dalam kompetisi resmi FIFA  dan juga berpengaruh terhadap penyelenggaan tuan rumah Piala Dunia U 20 2021. Perlu dicatat bahwa FIFA  itu memiliki sikap " zero tolerance " atau toleransi nol dalam menghadapi para pelanggar statuta ."

Dijelaskan Dali,  Presiden FIFA, Sepp Blatter bersama Exco FIFA menetapkan agar semua federasi sepakbola anggota FIFA mengadopsi statuta FIFA pada tahun 2000. Khusus bagi PSSI, katanya, statuta itu sebagai pengganti Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang menjadi pedoman PSSI saat itu.  

"PSSI adalah salah satu Federasi di Asia yg men adopsi Statuta di tahap awal  dan kebetulan saya ditunjuk PSSI  menjadi Ketua Tim Persiapan Statuta PSSI. Kami berunding di Zurich, Kuala Lumpur dan Jakarta hampir selama 2 tahun dimana akhirnya Statuta PSSI di terima FIFA," ujarnya.

Maksud dan tujuan diberlakukannya statuta kepada semua Federasi anggota FIFA, kata Dali,  agar terjadi keseragaman dalam menjalankan organisasi. "Harus selalu kita pahami bahwa penguasa tunggal sepakbola dunia adalah FIFA. Apalagi, banyak manfaat yang dinikmati anggota FIFA , dari kursus ke pelatihan: wasit, inspektur pertandingan, kepelatihan organisasi dan juga bantuan finansial yang rutin," ungkapnya.

Dia juga mengingatkan Indonesia pernah dihukum FIFA selama 1 tahun karena melanggar statuta FIFA . Oleh karena itu, sangatlah penting bagi PSSI untuk patuh pada statuta FIFA/PSSI. "Saat ini terlalu banyak hal yang EXCO PSSI yang gagal faham tentang statuta FIFA/PSSI. Salah satunya adalah menempatkan anggota Exco untuk menjabat sebagai Plt Sekjen PSSI. Ini conflict of interest dan tidak dibenarkan karena fungsi Exco hanyalah pemutus kebijakan," tandasnya.

Satu-satunya anggota Exco AFC dua periode dan Komite Etik FIFA dari Indonesia yang belum tergantikan sampai saat ini menjelaskan secara detail fungsi para Direktur dan Komite yang membuat kebijakan yang dikoordinasikan dengan SekJen PSSI yang statusnya adalah pegawai PSSI. Sedangkan Exco diwajibkan untuk mengadakan rapat 3-4 kali dalam setahun guna memutuskan draft keputusan yang sudah disiapkan para direktur dan Komite. ***

wwwwww