Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tak Dinafkahi Maell Lee dan Ditawar Rp 5 Juta, Intan Ratna Juwita: Maaf Mending Saya Jualan Es Kelapa Saja
Peristiwa
2 jam yang lalu
Tak Dinafkahi Maell Lee dan Ditawar Rp 5 Juta, Intan Ratna Juwita: Maaf Mending Saya Jualan Es Kelapa Saja
2
Jokowi Kembali Bikin Heboh, Kali Ini Soal Babi Panggang Ambawang
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Jokowi Kembali Bikin Heboh, Kali Ini Soal Babi Panggang Ambawang
3
Anis Byarwati Minta Kaum Muda Ikut Kontribusi Atasi Kemiskinan
Politik
22 jam yang lalu
Anis Byarwati Minta Kaum Muda Ikut Kontribusi Atasi Kemiskinan
4
Soal Jokowi dan Babi Panggang, Joman: Pecat Pratikno
Peristiwa
23 jam yang lalu
Soal Jokowi dan Babi Panggang, Joman: Pecat Pratikno
5
Ketua DPP PPP Merasa Aneh saat Rakyat Dilarang Mudik, Tapi WN China Boleh Masuk
Peristiwa
22 jam yang lalu
Ketua DPP PPP Merasa Aneh saat Rakyat Dilarang Mudik, Tapi WN China Boleh Masuk
6
Kembali Tebar Teror, Teroris OPM Tembaki Polsek dan Bakar Rumah Penduduk Ilaga Papua
Hukum
24 jam yang lalu
Kembali Tebar Teror, Teroris OPM Tembaki Polsek dan Bakar Rumah Penduduk Ilaga Papua
Home  /  Berita  /  DPR RI

Nilai Tepat Kemenristek Digabung dengan Kemendikbud, Ini Alasan Prof Zainuddin Maliki

Nilai Tepat Kemenristek Digabung dengan Kemendikbud, Ini Alasan Prof Zainuddin Maliki
Anggota Komisi X DPR RI, Prof Zainuddin Maliki .
Rabu, 14 April 2021 20:58 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI, Prof Zainuddin Maliki menilai tepat keputusan menggabungkan Kementerian Riset dan Teknologi dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pasalnya, Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki tradisi riset kuat berada di perguruan tinggi.

"Cukup tepat Kemenristek dilebur di Kemendikbud. SDM yang memiliki tradisi riset itu ad di perguruan tinggi. Begitu juga dengan berbagai instrumen riset dan pengembangan teknologinya," kata Zainuddin Maliki di Jakarta, Rabu (14/4/2021).

Selama riset dan teknologi dipisahkan dari Kemendikbud, kata Zainuddin Mailiki, banyak persoalan dan masalah mendesak yang dihadapi oleh bangsa ini yang tidak mendapatkan sentuhan riset sebagaimana mestinya.

Sebagai contoh, dia menyebutkan masalah covid-19 yang mematikan dan membuat berbagai aspek kehidupan bangsa ini mengalami stagnasi. Akibatnya, vaksin harus impor dari negara lain yang menyerap devisa negara yang tidak kecil.

"Lemahnya riset khususnya di bidang sains dan teknologi medik menyebabkan kita harus mengeluarkan devisa negara yang tidak kecil untuk mendapatkan vaksin. Padahal, dengan adanya riset dipastikan akan bisa memproduksi vaksin sendiri," tegasnya.

Lebih jauh anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PAN menjelaskan tentang riset tsunami Aceh yang dilakukan Southampton University di Inggris. Saat itu, dia mengaku melihat langsung foto-foto hasil riset tentang karakteristik tanah di bawah laut pasca tsunami di Aceh yang disuguhkan di kampus tersebut.

"Saya sempat dibuat inferior karena Perguruan Tinggi kita sendiri belum satupun waktu itu yang melakukan hal serupa," akunya.

Menyadari pentingnya hal tersebut, Zainuddin juga mengungkapkan bahwa kebijakan itu pernah dilakukan Jederal (Purn), Syamsul Ma'arif saat menjabat sebagai Ketua Badan Nasitonal Penanggulangan Bencana (BNPB. Saat itu, Syamsul Ma'arif memberikan fasilitas riset terkait tsunami Aceh kepada sejumlah perguruan tinggi.

Oleh karena itu, katanya, dikembalikannya riset dan teknologi ke Kemendikbud diharapkan bisa membangkitkan kembali aktivitas riset dan pengembangan teknologi. "Hanya saja berhasil ata tidak riset itu sangat tergantung kepada faktor kepemimpinan. Makanya, Kemendikbud harus dipimpin figur yang memiliki tradisi, pengalaman dan wawasan kuat di bidang pengembangan ristek," tandasnya. ***

wwwwww