Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
23 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
17 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
3
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
17 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
4
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
17 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
5
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
18 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
6
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Sepakbola
17 jam yang lalu
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Pertanyakan R-Perpres Alpalhankam, Politisi PDIP: Bisa Mangkrak kalau Presiden Mendatang Enggan Melanjutkan

Pertanyakan R-Perpres Alpalhankam, Politisi PDIP: Bisa Mangkrak kalau Presiden Mendatang Enggan Melanjutkan
Anggota Komisi I Fraksi PDIP DPR RI, Effendi Simbolon dalam wawancara cegat di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (2/6/2021). (foto: www.gonews.co/dzulfiqar)
Kamis, 03 Juni 2021 14:03 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi Pertahanan DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia) dari Fraksi PDIP, mempertanyakan rencana pemerintah menjadikan Perpres sebagai landasan hukum untuk kebutuhan Alpalhankam (alat peralatan pertahanan dan keamanan) beberapa tahun mendatang.

"Apakah Perpres kuat menjadi dasar hukum bagi keputusan politik yang sarat dengan hal-hal yang sangat kompleks dimana di situ intinya adalah negara melakukan pinjaman luar negeri selama kurun waktu 25 - 28 tahun untuk pengadaan Alpalhamkam?" kata Effendi saat dicegat wartawan usai rapat di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (2/6/2021).

Effendi menandaskan, "Logikanya, pemerintahan di tahun 2025 mendatang, whatever, whoever itu siapa namanya, kalau pemerintah baru itu tidak mau Perpres ini dilanjutkan, bagaimana? Iya kan? (Bisa, red) mangkrak,".

"Ini kan jadi masalah. Makanya saya katakan sebaiknya dasar hukumnya diperkuat," ujar Effendi.

Effendi berharap, pemerintah tak menganggap persoalan desain pertahanan nasional sebagai domain urusan pemerintah yang tanpa perlu melibatkan DPR. "Menyelenggarakan negara ini kan harus bersama," ujarnya.

"Kalau (ada yang merasa ini urusan, red) eksekutif, ya jalanin aja sendiri, coba tanggung nanti tahun 2024 akhir pasti KPK panggil kalian," ujar Effendi.

Alih-alih pemenuhan kebutuhan Alpalhankam diatur dalam Peraturan Presiden, menurut Effendi, akan lebih kuat jika menggunakan Undang-Undang afirmatif. "Misalnya seperti UU Desa, UU Pendidikan bahwa memang kita harus afirmatif memberikan 1,5 persen atau 4,9 persen dari APBN, 1,5 persen dari PDB, misalnya,".

Seperti diketahui R-Perpres Kebutuhan Alpalhamkam menjadi polemik. Dan Effendi dalam kesempatan wawancara cegat itu memastikan, Komisi I tidak pernah secara formal dikonsultasikan oleh Kemenhan terkait R-Perpres tersebut.

Sebagai pengingat, peluang Presiden Jokowi melanjutkan jabatannya ke periode mendatang juga masih menjadi diskursus politik. Dalam diskusi virtual 'Crosscheck', Minggu (30/5/2021), Effendi mengungkapkan peluang Jokowi 3 Periode terbuka jika UUD 1945 diamandemen.

"Enggak apa-apa. Enggak ada yang salah, kok. Sepanjang rakyatnya mau, konstitusi juga aklamasi, kesepakatan juga," kata Effendi dalam lansiran tempo.co.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Kriminal, Nasional, Metropolitan
wwwwww