Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Dewan Pers Desak Kepolisian Segera Tangkap Penembak Pemred Mara Salem Harahap
Hukum
8 jam yang lalu
Dewan Pers Desak Kepolisian Segera Tangkap Penembak Pemred Mara Salem Harahap
2
Tanggap Darurat Covid-19 di DPR, Sekjen Pastikan Infrastruktur Digital Siap Dukung Rapat Penting
DPR RI
16 jam yang lalu
Tanggap Darurat Covid-19 di DPR, Sekjen Pastikan Infrastruktur Digital Siap Dukung Rapat Penting
3
Breaking News: Pemred Media Online di Pematangsiantar Tewas Ditembak
Hukum
15 jam yang lalu
Breaking News: Pemred Media Online di Pematangsiantar Tewas Ditembak
4
Next Policy: Holding Bisa Tata Kembali Ekosistem Ultra Mikro
Ekonomi
18 jam yang lalu
Next Policy: Holding Bisa Tata Kembali Ekosistem Ultra Mikro
5
Mara Salem Harahap, Pemred Media Online Tewas Ditembak di Dekat Rumahnya
Hukum
15 jam yang lalu
Mara Salem Harahap, Pemred Media Online Tewas Ditembak di Dekat Rumahnya
6
Buka Turnamen, Bamsoet: Pecatur Beda-Beda Tipis dengan Politisi 
MPR RI
14 jam yang lalu
Buka Turnamen, Bamsoet: Pecatur Beda-Beda Tipis dengan Politisi 
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Fahri Hamzah Anggap BUMN Harus Dievaluasi Secara Radikal Agar Tidak Tamat

Fahri Hamzah Anggap BUMN Harus Dievaluasi Secara Radikal Agar Tidak Tamat
Fahri Hamzah saat diskusi Talks bertajuk "BUMN, Apa Masalah dan Solusinya?" di Gelora Media Center, Jakarta, Kamis (10/6/2021). (Foto: GoNews.co))
Kamis, 10 Juni 2021 23:47 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah mengatakan, saat ini Indonesia belum layak berbangga diri memiliki seratusan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) beserta anak cucunya. Sebab dari seratusan perusahaan BUMN, hanya sekitar 15 perusahaan mencatatkan keuntungan.

"Dari seratusan BUMN itu kan sebenarnya yang untung cuma 15, yang lain rugi semua," ujar Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah dalam talkshow bertema 'BUMN, Apa Masalah dan Solusinya' di Gelora Media Center, Jakarta Selatan, Kamis (10/6/2021).

Fahri menyebutkan, untuk menyelamatkan keberadaan perusahaan BUMN itu diperlukan evaluasi secara menyeluruh. Bahkan, perlu dilakukan secara radikal. "Kita harus rada melakukan evaluasi yang radikal. Karena kalau tidak, konsep rugi ini nantinya akan datang terus-menerus, ini nanti satu-persatu akan gugur nih," katanya.

"Kalau dulu Merpati sudah hilang, jangan sampai Garuda hilang. Terus perusahaan konstruksi hilang, kemudian asuransi hilang, dan lainnya hilang," imbuh mantan Wakil Ketua DPR RI ini. Pemerintah harus mengevaluasi konsep keberadaan BUMN dan bagaimana manfaatnya ke depan. "Konsepsi dari fungsi dan keberadaannya, dan berikutnya berefek pada konsespi pengelolaan. Karena itu, harus ada keberanian dari sekarang," tandasnya.

Dia menegaskan bahwa penyederhanaan BUMN bisa dilakukan melalui reorientasi pegelolaan perusahaan milik negara sehingga bisa lebih kompetitif dan mampu bersaing secara global.

Terkait Garuda Indonesia, Fahri mengatakan seharusnya maskapai penerbangan itu tidak bersaing di dalam negeri, tapi mampu bersaing di pasar luar negeri. Hanya saja Fahri mengingatkan pentingnya peran negara dan komitmen para pejabat untuk memperkuat perusahaan flag carrier itu.

Alasannya, bagaimanapun BUMN juga merupakan mesin pendorong ekonomi negara. Fahri juga mengatakan bahwa visi bisnis 'BUMN bersaing dengan bisnis rakyat' sudah tidak bisa dipertahankan lagi. "Visi Bisnis 'BUMN bersaing dengan bisnis rakyat' tak bisa lagi dipertahankan," katan Fahri.

Dia menyarankan BUMN untuk tidak mempertahankan persaingan tersebut. Jika tidak, maka nantinya akan dipermalukan. Semengara itu Arya Sinulingga mengatakan pihaknya saat ini terus melakukan perampingan BUMN.

Bahkan saat ini jumlah BUMN tinggal sekitar 40 perusahaan setelah dikurangi dari 120 perusahaan sebelumnya. Dia mengatakan perampingan itu bertujuan agar perusahaan itu menjadi sehat dan mampu bersaing di dalam maupun luar negeri.***

wwwwww