Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
9 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
10 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
11 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
11 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
11 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Ekonomi
7 jam yang lalu
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Home  /  Berita  /  PON

Cerita Suku Anak Dalam Tolak Bansos

Cerita Suku Anak Dalam Tolak Bansos
Suku Anak Dalam saat menerima KTP-el. (foto: dok. suku anak dalam)
Senin, 09 Agustus 2021 22:57 WIB
JAKARTA - Kelompok Suku Anak Dalam (Orang Rimba di Jambi) pimpinan Tumenggung Ngelembo tak terima bantuan sosial (bansos) hingga saat ini.

"Sampai sekarang," kata Tumenggung Ngelembo kepada GoNEWS.co, Senin (9/8/2021) malam.

Ngelembo menjelaskan, bukan tak ada jatah bansos untuk warga di kelompoknya, tapi jumlah Bansos dari pemerintah tak merata untuk 53 orang warganya yang sudah memiliki KTP-el.

Juli lalu, ada sebanyak 17 orang warganya yang masuk data penerima bansos berupa beras, telur dan mie. Tapi terpaksa Ia tolak.

"Kita bingung, kelompok saya yang bikin KTP ada 53 orang, kok yang terdata hanya 17 orang?" kata Ngelembo.

Ia menuturkan, beberapa bulan lalu sebanyak 53 orang warganya telah membuat KTP-el. Warganya rela difoto untuk kepentingan pembuatan kartu identitas itu, meskipun foto diri perempuan rimba adalah larangan adat dari nenek moyang mereka.

Ngelembo mengatakan pada warga kala itu, tanpa foto tak bisa punya KTP-el dan tanpa KTP-el pemerintah tak bisa memberi bantuan.

"Lalu sekarang ibu-ibu menuntut saya karena mereka sudah melanggar adat, tapi bantuan tak didapat (hanya sebagian orang yang dapat, red)" kata Ngelembo.

Untuk diketahui, Orang Rimba di Jambi tersebar di hutan-hutan di beberapa kecamatan. Mereka hidup berkelompok-kelompok dimana setiap kelompok dipimpin oleh seorang tumenggung. Ngelembo adalah salah satu tumenggung untuk kelompok Orang Rimba di kawasan Desa Jelutih, Kecamatan Batin, Kabupaten Batanghari.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Badminton, PON, Jambi
wwwwww