Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
21 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
22 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
3
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
21 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
4
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
21 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
5
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
20 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
6
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Sepakbola
20 jam yang lalu
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Fahri Hamzah: Parpol Mengaku Oposisi, Jangan Sensi Kalau Dikritik Rakyat

Fahri Hamzah: Parpol Mengaku Oposisi, Jangan Sensi Kalau Dikritik Rakyat
Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah. (Foto: Istimewa)
Senin, 06 September 2021 15:24 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah minta partai politik (parpol) yang ada di Parlemen, dan mengaku oposisi agar jangan sensitif (sensi) kalau dikritik rakyat.

"Oposisi dikritik oleh rakyat kok sensi? Oposisi kok malah nyuruh rakyat yang kritik eksekutif? Lah ente trus kerja apa?" sindir Fahri Hamzah lewat keterangan tertulisnya, Senin (6/9/2021).

Harusnya, lanjut mantan Wakil Ketua DPR RI ini, anggota parpol yang duduk sebagai wakil rakyat berteriak lebih keras, bila perlu berantem karena tanpa ada resiko.

"Kalian punya hak kekebalan (imunitas) yang melekat. Gunakan dong. Nah kami? Kami ribut di sini karena kalian nggak ribut saat sidang! Bisa-bisa kena ITE kalau kami ribut," kata dia sambil menambahkan kalau para anggota Dewan digaji oleh rakyat dari hasil keringat rakyat yang pergi kerja sejak pagi sampai malam, buka warung dan usaha supaya bisa bayar pajak buat pejabat.

Memang, kata Fahri sangat berat kalau jadi pejabat banyak hutang dan banyak kasus terlibat, yang kesemuanya itu akan jadi sandera. Kadang pejabatnya bersih dan menjaga martabat, tapi kalau bos mereka diancam terjerat maka mereka sendiri kayak mau sekarat, dan akhirnya main pencak silat.

"Jurus-jurus yang mereka tunjukkan di depan rakyat tidak lebih adalah permainan akrobat seperti tukang sulap. Kadang-kadang kita pun ikut terpukau dan tunjuk dua jempol tanda hebat. Padahal, hasilnya gak jelas. Ini cuman manas-manasin rakyat. Nanti kita merima akibat ditangkap aparat," katanya lagi.

Karena itu, masih menurut politisi dari Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, tidak usah membangga-banggakan diri sebagai partai oposisi kalau sekedar mau dibilang oposisi. Oposisi ituharus punya nyali dan keberanian untuk mengkritik pemerintah.

"Kalian punya nyali nggak? Berani nggak? Jangan jadi oposisi karena lamaran ditolak. Akhirnya wait and see nggak ada terobosan berarti. Itu namanya 'Oposisi Penakut', sebenarnya nggak punya nyali hanya nebeng kekecewaan rakyat," ketus Fahri Hamzah.

wwwwww