Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
22 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
16 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
14 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
4
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
15 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
5
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
15 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
6
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
23 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Dukung Indonesia jadi Pusat Produksi Vaksin Global, Netty Minta Pemerintah Terus Lobi WHO

Dukung Indonesia jadi Pusat Produksi Vaksin Global, Netty Minta Pemerintah Terus Lobi WHO
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher dalam suatu kesempatan. (foto: Istimewa)
Selasa, 21 September 2021 17:47 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah melobi WHO agar Indonesia menjadi salah satu pusat produksi vaksin global. Demikian diungkapkan Netty dalam keterangan persnya, Selasa (21/09/2021).

"Langkah ini positif dan patut didukung. Pemerintah harus melakukan upaya serius dan sungguh-sungguh agar Indonesia dipilih sebagai salah satu pusat produksi vaksin global oleh WHO," Katanya.

Indonesia, kata Netty, sangat tepat dijadikan pusat produksi vaksin mengingat statusnya sebagai negara menengah dan berkembang yang masih membutuhkan banyak vaksin. "Dengan dijadikannya Indonesia sebagai pusat produksi vaksin global maka diharapkan terjadi transfer teknologi ke negara berkembang, khususnya di bidang farmasi. Selain itu, stimulasi infrastruktur kesehatan juga akan berkembang," ungkapnya.

Apalagi, kata Ketua Tim Covid-19 FPKS DPR RI ini, sempat terjadi ancaman hambatan pasokan vaksin dari negara maju produsen vaksin ke negara berkembang melalui fasilitas COVAX dan AVAT yang dapat merugikan negara berkembang.

"Pada masa pandemi ini, terlihat jelas ketimpangan infrastruktur kesehatan antara negara berkembang dan negara maju yang berdampak pula pada ketidakadilan akses dan distribusi vaksin global. Banyak negara berkembang yang kesulitan mendapatkan vaksin, sementara negara maju justru surplus vaksin karena bisa produksi sendiri," tambahnya.

Hal lain yang membuat Indonesia cocok dijadikan pusat produksi vaksin global adalah cuaca yang stabil, kata Netty. "Kita negara tropis dengan hanya dua musim, musim hujan dan kemarau yang kondisi cuacanya lebih stabil sehingga tidak perlu khawatir soal perubahan cuaca yang tidak terprediski atau ekstrem. Kondisi alamiah ini tentu dapat dijadikan nilai tawar di hadapan WHO," tambah Netty.

Oleh karena itu, menurut Netty, pemerintah perlu berstrategi agar peluang ini tidak hilang. "Indonesia memenuhi syarat untuk menjadi pusat produksi vaksin global. Apabila peluang ini lepas, maka kita akan merugi. Bukan soal hitungan kerugian material, tapi yang lebih penting adalah hilangnya kesempatan membangun kemandirian di bidang farmasi," tandasnya.***

wwwwww