Jangan Lengah, Disiplin Prokes saat Kasus Covid-19 Alami Penurunan
![]() |
| Warga melintas di dekat mural bertemakan COVID-19 di Petamburan, Jakarta, Rabu (21/7/2021). (Foto: Antara) |
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Kasus Covid-19 di Indonesia hari ini Selasa (21/9/2021) mengalami penurunan. Tidak sedikit masyarakat yang bergembira dan abai terhadap protokol kesehatan. Bahkan di sejumlah daerah yang mengalami penurunan level PPKM, sebagaian masyarakatnya mulai abai dengan tidak menggunakan masker.
Untuk itu, Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, meminta masyarakat tetap waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat. Peringatan itu disampaikan Rerie sapaan akrabnya seiring tren perkembangan Covid-19 di Indonesia yang sudah mengalami penurunan, sehingga masyarakat diharapkan tidak lengah dengan situasi yang ada.
"Kesehatan merupakan upaya preventif dalam pencegahan Covid -19. Begitu juga kegiatan vaksinasi massal harus kita sukseskan. Walaupun sudah divaksin tidak bisa lengah dengan protokol kesehatan," katanya.
Hal senada juga diungkapkan anggota Komisi IX DPR Anas Thahir. Menurutnya, masyarakat harus terus meningkatkan kewaspadaan meski penanganan Covid-19 di Indonesia mendapat penilaian salah satu yang terbaik di dunia. Kebijakan pemerintah untuk mengendalikan virus menurutnya juga harus terus didukung.
"Penilaian John Hopkins University yang menyebut Indonesia sebagai one of the best dalam menangani kasus Covid-19 jangan bikin kita lengah, terus menjaga prokes dengan ketat," ujarnya.

Menurut data John Hopkins University, salah satu universitas terkemuka yang berbasis di Maryland, Indonesia berhasil menurunkan kasus Covid-19 sebesar 58% dalam dua pekan. "Ini tentu menjadi kabar manis buat seluruh masyarakat di Indonesia. Namun, kabar itu jangan justru membuat kita lengah. Jangan sampai sebutan itu lantas membuat kita menjadi jemawa. Kita harus tetap waspada terhadap kemungkinan penyebaran Covid-19," kata Anas Thahir.
Apalagi, varian baru Covid-19 terus bermunculan. Dan menurutnya itu bisa jadi ancaman. "Maka kewaspadaan harus terus ditingkatkan," katanya.
Anas melihat pemerintah terus siaga menyiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan. Dia pun meminta masyarakat juga harus tetap disiplin dan bersedia bekerja sama melawan pandemi. "Disiplin terhadap protokol kesehatan harus tetap dilakukan, karena itu jalan terbaik pengendalian Covid-19. Mendukung kebijakan pemerintah, salah satunya dengan disiplin tersebut," kata Anas.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara nasional memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. Tingkat kesembuhan nasional pada pelaksanaan PPKM selama dua pekan terakhir mencapai 95 persen dengan tingkat kematian nasional 3,35 persen.
Namun demikian, pemerintah mengimbau kepada masyarakat untuk tidak lengah dan berhati-hati terhadap varian baru covid-19 seperti varian MU yang diperkirakan memiliki kekebalan terhadap vaksin covid-19. Selain itu, ada beberapa varian lain seperti Lambda dan C.1.2 yang juga saat ini masih dalam tahap observasi untuk melihat karakteristiknya.
"Dalam rapat terbatas, Bapak Presiden mengingatkan akan empat hal penting yaitu kita harus berhati-hati terhadap varian baru baik MU maupun Lambda, dan perketatan di pintu-pintu masuk baik dari udara, laut, dan darat. Tentunya melibatkan seluruh stakeholder dan tentu kita harus mengantisipasi terhadap varian-varian yang baru tersebut," ujar Airlangga dalam konferensi pers Update PPKM dan Penanganan Pandemi Covid-19 secara virtual, Senin, 20 September 2021 kemarin.

Kedua, lanjutnya, kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pelaksanaan 3T (testing, tracing, dan treatment), protokol kesehatan 3M, serta penggunaan aplikasi Peduli Lindungi untuk digunakan secara intensif pada wilayah vaksinasi yang rendah. "Secara khusus di luar Jawa-Bali, Bapak Presiden memberi perhatian pada Sumatra Barat dan Lampung agar (tingkat vaksinasi) terus ditingkatkan sehingga angka minimal 20 persen bisa dicapai," paparnya.
Ketiga, Kepala Negara juga memberikan arahan terkait dengan stok vaksin untuk segera dihabiskan dan tidak untuk ditahan. Terkait dengan efektivitas dan fleksibilitas dialokasikan bagi TNI/Polri menjadi masing-masing 25 persen. "Untuk TNI 25 persen dan untuk Polri sebelumnya 20 persen. Sementara 50 persen untuk Dinkes, baik itu provinsi maupun kabupaten/kota," urai Airlangga.
Keempat, Presiden Joko Widodo juga memberi perhatian terhadap sejumlah pelaksanaan kegiatan atau event berskala nasional maupun internasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua. "Bapak Presiden sudah putuskan (untuk penonton PON XX Papua) dengan 25 persen penonton dengan syarat dua kali vaksin, baik vaksin pertama maupun vaksin kedua. Kemudian platform Peduli Lindungi untuk diintegrasikan dengan aplikasi sejenis secara global," ungkap dia.
Adapun angka estimasi Effective Reproduction Number (Rt) Indonesia berdasarkan ourworldindata.org per 14 September 2021 sebesar 0,59 atau di bawah 1. Capaian ini lebih baik dibandingkan Rt global (0,94) dan negara peers (Singapura 1,81; Tiongkok 1,53; Australia 1,14; AS 1,03; Malaysia 0,95; Thailand 0,9; dan India 0,89).
"Penilaian di bawah 1 ini menandakan bahwa angka infeksi komunitas dan pandemi ini mulai terkendali. Oleh karena itu, secara spasial Sumatra artinya 0,99; Kalimantan, Bali, dan Papua antara 1,0-1,2; kemudian Sulawesi, Nusa Tenggara, serta Maluku antara 1,01-1,03," tutup Airlangga.
Soal kewaspadaan terhadap penurunan kasus Covid-19 di Indonesia juga disampaikan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sufmi Dasco Ahmad. Dia mengajak masyarakat tidak lengah dan tetap mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah terjadinya gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia.
"Untuk menantisipasi supaya tidak terjadi gelombang ketiga, katakanlah seperti prediksi yang dikeluarkan oleh ahli-ahli itu, mari kita sama-sama kepada bangsa Indonesia kita jangan lengah, kita tetap prokes," kata Dasco di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Politikus Partai Gerindra itu juga mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan dan saling menahan diri, terlebih akan ada sejumlah hari libur pada akhir tahun nanti. "Marilah kita kemudian mawas diri, kita memperkecil risiko yang nantinya menjaga bukan hanya kita dan keluarga tapi lingkungan sekitar kita," ujar dia.

Menurut Dasco, upaya mengantisipasi gelombang ketiga tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah pusat, tetapi juga perlu keterlibatan masyarakat. Ia mengatakan, masayarakat sudah mengetahui bersama pahitnya lonjakan kasus Covid-19 gelombang kedua yang terjadi pada pertengahan 2021 lalu yang membuat semua pihak kewalahan.
"Kita sudah bersama mengalami pahitnya lonjakan pandemi yg kedua di mana banyak rumah sakit kemudian daya tampungnya melebihi kapasitas, obat-obatan yang akhirnya kemudian tidak memadai," kata Dasco.
Di samping itu, ia juga meminta pemerintah untuk tetap menyiagakan fasilitas, sarana dan prasarana, serta rumah sakit-rumah sakit agar tidak lengah apabila terjadi gelombang ketiga.
Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengatakan, prediksi soal kapan gelombang ketiga Covid-19 akan terjadi bersifat dinamis.
Melihat situasi saat ini, ia memprediksi, gelombang ketiga akan terjadi pada Desember 2021. "Dulu saya memprediksi Oktober, tapi ini berubah lagi, mundur lagi, jadi Desember. Desember pun gelombangnya menurun juga, merendah, enggak sebesar seperti prediksi sebelumnya," kata Dicky, Minggu (19/9/2021).
Menurut Dicky, hal ini terjadi karena adanya intervensi yang dilakukan seperti Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diperpanjang. Jika ada intervensi yang dilakukan melalui kebijakan, kata Dicky, akan memperkecil potensi gelombang ketiga Covid-19.
"Semakin kita konsisten, semakin disiplin dalam memberikan intervensi, termasuk capaian vaksinasi, ini akan membuat potensi (gelombang ketiga) itu semakin jauh atau mengecil tapi tetap ada, jauh mengecil," kata dia.
Epidemiolog Sebut Indonesia Rawan Alami Gelombang Ketiga Covid-19
Dicky Budiman juga menilai, Indonesia rawan mengalami gelombang ketiga Covid-19 seperti yang tengah dialami negara-negara tetangga yaitu Singapura dan Filipina. "Kita rawan untuk mengalami gelombang ketiga Covid-19 dan ini sulit dicegah gelombang ketiga. Tapi kita bisa mencegah gelombang ketiga tidak sebesar gelombang kedua asal kita serius," kata Dicky.
Ia mengatakan, potensi Indonesia mengalami gelombang ketiga dilihat dari angka kematian dari Covid-19 yang masih tinggi di tingkat Asia Tenggara, meski di tingkat nasional terjadi penurunan. "Dari sisi positivity rate sudah menurun, dari sisi angka reproduksi menurun. Namun, dari indikator penting seperti terjadi kemarin berarti ada kebobolan intervensi di hulu atau hilir dan intervensi multi sektor, yaitu case fatality rate kita, tertinggi di ASEAN," ujarnya.
Dicky mengatakan, terkait potensi gelombang ketiga ini, pemerintah harus memerhatikan perkembangan kasus Covid-19 di luar Jawa.
Sebab, kata dia, daerah-daerah di luar Jawa cenderung berkontribusi dalam gelombang ketiga Covid-19. "Dan bicara gelombang ketiga, kita melihat fakta bawah 80 persen kurang lebih dari penduduk kita belum tervaksinasi penuh dan itu kan titik rawan sekali terhadap varian Delta apalagi varian Mu," ucapnya.
Lebih lanjut, Dicky menyarankan, untuk antisipasi serangan gelombang ketiga Covid-19, laju vaksinasi dosis pertama dan kedua harus dipercepat. Selain itu, testing dan pelacakan kontak erat (tracing) ditingkatkan karena saat ini belum sesuai eskalasi pandemi dan belum merata di seluruh daerah. "Selain juga kita harus pembudayaan perilaku 5M atau protokol kesehatan untuk meminimalisir risiko penularan," pungkasnya.***
| Kategori | : | Olympic, Voli, SEA Games, DKI Jakarta |













