Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
15 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
15 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
16 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
17 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
17 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
8 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Home  /  Berita  /  Beladiri

Kerja Hampir 11 Jam Per Hari, Gaji Pekerja Pinjol Cuma Rp 1,4 Juta

Kerja Hampir 11 Jam Per Hari, Gaji Pekerja Pinjol Cuma Rp 1,4 Juta
Puluhan karyawan pinjol ilegal saat dimanakan polisi. (foto: Istimewa)
Jum'at, 15 Oktober 2021 18:06 WIB

JAKARTA - Kisah penderitaan akibat pinjaman online (pinjol) tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang meminjam uang dari aplikasi pinjol itu sendiri. Pekerjanya juga 'menderita' dengan gaji di bawah UMR, mereka juga bekerja lebih dari 8 jam per harinya.

Seperti yang dialami oleh Ade Afifah, pekerja di kantor PT Indo Tekno Nusantara, perusahaan collector pinjol yang berlokasi di Rukan Crwon Green Lake City, Cipondoh, Tangerang. Jam kerja dan upah yang diterima Ade Afifah ini diungkap oleh ibundanya, Liswati.

"Anak saya nangis juga terkait jam kerjanya, kata dia kerja dari pukul 08.30 WIB sampai pukul 19.00 WIB tapi kok aku gajian segini doang," kata Liswati di Tangerang, Kamis (15/10/2021).

Menurut Liswati, anaknya yang bekerja sebagai telemarketing PT ITN itu digaji Rp 1,4 juta per bulan. Setiap bulan ia tidak menyisihkan uang karena hampir separuh gajinya habis untuk bayar kontrakan sebesar Rp 800 ribu. "Nggak bisa bayar kontrakan rumah. Saya minta untuk sabar, eh dilanjut sama dia kerjanya sampai sekarang," ujarnya.

Liswati tidak mengetahui gaji sebesar itu akan bertambah atau tidak jika anaknya sudah bekerja selama satu bulan penuh. "Anak saya belum berkeluarga. Eh sampai sekarang kerja nungguin gaji bulan ini eh malah kayak gini," ucapnya sambil sesenggukan.

Liswati mengatakan anaknya menerima bekerja di perusahaan pinjol walau upah di bawah UMR karena sudah menganggur sejak lebaran Idul Fitri lalu. Ade Afifah sendiri bekerja sejak 7 September 2021.

Liswati mengaku dirinyalah yang mencarikan pekerjaan untuk anaknya. Sebelumnya Ade Afifah ingin bekerja di Bekasi tapi tidak diizinkan Liswati. "Saya pagi-pagi cari lowongan pekerjaan awalnya di sini tutup. Setelahnya ada yang mengabarkan lagi udah buka terus daftar di sini sebagai telemarketing. Di-training dulu sebelum bekerja di sini," tambah Liswati.


Sebelumnya, Liswati datang ke kantor ITN saat digerebek polisi pada Kamis (14/10) kemarin. Liswati menangis karena khawatir anaknya ditahan polisi. "Anak saya nelpon dari pagi katanya di kantornya ada polisi. Saya udah kalang kabut dari pagi saya nangis," katanya kepada wartawan di lokasi, Kamis (14/10/2021).***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Olympic, Beladiri, DKI Jakarta
wwwwww