Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
Nasional
14 jam yang lalu
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
2
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
Kemenpora
16 jam yang lalu
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
3
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
Sepakbola
13 jam yang lalu
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
4
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
Kemenpora
16 jam yang lalu
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
5
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
Basket
18 jam yang lalu
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
6
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
DKI Jakarta
14 jam yang lalu
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Syarief Hasan Menilai, Usulan Parliamentary Threshold 5% Bukan Pilihan Tepat

Syarief Hasan Menilai, Usulan Parliamentary Threshold 5% Bukan Pilihan Tepat
Wakil Ketua MPR RI, Syarief Hasan. (Foto: Istimewa)
Sabtu, 06 November 2021 19:05 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Wakil Ketua MPR Syarief Hasan menilai usulan penaikan syarat ambang batas parlemen atau parliamentary threshold menjadi 5% bukan pilihan yang tepat dalam kerangka menjaga momentum demokrasi. Hal itu membuat hangusnya suara sah rakyat dalam pemilihan wakil rakyat dan partai yang mengusungnya.

Menurutnya, parliamentary threshold sebesar 4% yang sekarang berlaku masih menjadi opsi yang tepat untuk mengakomodasi demokrasi. Hal itu juga dinilai sebagai bentuk kebajikan politik dalam merawat keberagaman politik di Indonesia.

"Isu yang paling utama bukanlah mengutak-atik ambang batas parlemen. Sebab jika parliamentary threshold dinaikkan, sama saja kita memberangus suara rakyat," kata politisi Partai Demokrat itu dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (6/11/2021).

Yang lebih penting ketimbang menaikkan parliamentary threshold, lanjut Syarief, adalah mengevaluasi ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold). Ia berpendapat, presidential threshold membatasi peluang putra putri terbaik bangsa maju dalam pemilihan presiden. Syarat presidential threshold 20% kursi atau 25% suara sah nasional yang sekarang berlaku, lanjutnya, membatasi pilihan rakyat atas calon pemimpin mereka.

Syarief mengatakan, semua partai politik yang telah lolos ambang batas parlemen sebaiknya dapat mengajukan calon presiden. Berdasarkan Pasal 6A ayat 2 UUD 1945, lanjutnya, pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum.

Hal itu, ujar Syarief, adalah ketentuan konstitusi yang jelas dan terang terkait hak dan peluang yang sama setiap partai politik dalam mengajukan calon presiden. "Jika kita konsisten dengan konstitusi, seharusnya memang setiap partai politik dapat mengajukan calon presiden," katanya.***

wwwwww