Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
14 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
13 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
3 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
3 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
5
Peringatah HSP ke-98, Menpora Erick Ingatkan Semangat Sumpah Pemuda Itu Harus Hidup
Kemenpora
3 jam yang lalu
Peringatah HSP ke-98, Menpora Erick Ingatkan Semangat Sumpah Pemuda Itu Harus Hidup
6
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
3 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Home  /  Berita  /  Olympic

Beberkan 6 Menteri Berkinerja Rendah, Pengamat: Pembuat Gaduh, Layak ditendang Jokowi

Beberkan 6 Menteri Berkinerja Rendah, Pengamat: Pembuat Gaduh, Layak ditendang Jokowi
Ilustrasi Kabinet Jokowi-Ma'ruf. (foto: Istimewa)
Kamis, 11 November 2021 18:52 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Pengamat komunikasi politik Jamiluddin Ritonga menilai, ada beberapa pos menteri yang layak direshuflle Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurutnya, menteri yang layak direshuflle tersebut adalah menteri berkinerja rendah dan pembuat gaduh.

'Menteri berkinerja rendah, pembuat gaduh, layak ditendang Presiden Jokowi pada reshuffle Jilid II jika terjadi," kata Jamiluddin Ritonga melalui pesan whatsapp kepada GoNews.co, Kamis (11/11/2021).

Diantara menteri yang berkinerja rendah, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerard Plate.

Kemudian, Kementeri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo. "Dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin," ungkapnya.

Jamiluddin menyebutkan, Ida Fauziyah, tidak ada solusi yang mumpuni dalam mengatasi tingginya pengangguran di Indonesia akibat dampak pandemi Covid-19. "Para pengangguran terus bertambah akibat tidak seimbangannya permintaan dengan lowongan kerja tersedia," ujarnya.

Budi Gunadi Sadikin juga tidak cukup menonjol dalam penanganan Covid-19. Sebagai Menteri Kesehatan, kata Dosen Universitas Esa Unggul itu, seharusny ia yang terdepan dalam penanganan pandemi Covid-19.

"Nyatanya, peran itu justru diambil Luhut Binsar Panjaitan, Airlangga Hartarto, dan Satgas Covid-19," ucapnya.

Begitu juga belum Tjahjo Kumolo tidak ada gebrakan monumental terkait reformasi birokrasi. "Bahkan gaung revolusi mental sudah tidak terdengar," kata Jamiluddin.

Johnny Gerard Plate juga tidak berbuat banyak dalam membenahi bidang komunikasi, khususnya sistem komunikasi Indonesia belum ada. "Sungguh mengerikan, negara seluas ini tidak mempunyai sistem komunikasi Indonesia," tutur Jamiluddin.

Selain itu, komunikasi publik yang buruk selama pandemi Covid-19 seharusnya menjadi tanggung jawab Johnny Gerard Plate. "Namun peran itu tidak pernah diambil over, sehingga masalah komunikasi publik tetap dipegang Satgas Covid-19 dan Kementerian Kesehatan," ujarnya.

Sementara itu, Syahrul Yasin Limpo sampai sekarang belum dapat mewujudkan kemandirian pangan.

Impor pangan justeru terus meningkat. Padahal salah satu target Presiden Joko Widodo adalah terwujudnya kemandirian pangan. "Karena itu, enam menteri tersebut layak untuk direshuflle, hanya menjadi beban Presiden Jokowi," pungkasnya.***

wwwwww