Home  /  Berita  /  Politik

Jika Dia Tergoda Memilih Profesi Ini, Jalan Hidup AHY Tidak Akan Seperti Sekarang

Jika Dia Tergoda Memilih Profesi Ini, Jalan Hidup AHY Tidak Akan Seperti Sekarang
AHY saat menerima Pataka Demokrat dari SBY. (Foto: Istimewa)
Sabtu, 09 April 2022 21:12 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Kata pepatah, ada banyak jalan menuju Roma. Tapi pilihan hidup seseorang, menentukan jalan hidupnya dikemudian hari. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), misalnya. Sebagai siswa unggul pada masa-masa sekolah di SMA Taruna Nusantara dan Akademi Militer, AHY punya banyak pilihan profesi.

Andai tergoda, ia tidak akan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat seperti sekarang ini. Demikian disampaikan Wasekjen Partai Demokrat Agust Jovan Latuconsina, kawan satu angkatan AHY di SMA Taruna Nusantara maupun di Akmil.

Disela-sela perjalanan Safari Ramadan AHY di Yogyakarta dan Jateng, Jovan mengungkapkan pada saat mereka duduk di kelas tiga SMA, ada tawaran dari perusahaan penerbangan Garuda Indonesia yang akan merekrut siswa-siswi terbaik untuk menjadi pilot pesawat komersial. Mereka yang lolos seleksi akan disekolahkan di Selandia Baru dengan tanggungan penuh dan dijamin langsung diangkat menjadi pilot Garuda Indonesia.

Sebagai calon lulusan terbaik, tutur Jovan, AHY lolos seleksi tetapi saat pendalaman wawancara psikologi, dia menolak tawaran untuk jadi pilot komersial Garuda. AHY menegaskan niatnya untuk masuk Akademi Militer. "Tahun 1997, sebagai lulusan terbaik dan mendapat Garuda Trisakti Tarunatama dari SMA Taruna Nusantara, AHY mendaftar ke Akademi Militer. Tapi saat itu, proses seleksi ke Akademi Militer tidak seperti sekarang. Seleksi masih digabungkan di bawah naungan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau yang populer disebut sebagai AKABRI," urainya.

Jovan melanjutkan, sebelum masuk Akademi Angkatan atau Matra tertentu, calon siswa mengikuti seleksi umum. Jovan juga mengungkapkan, hasil seleksi umum menetapkan AHY sebagai calon taruna nomor urut satu di Akademi Angkatan Udara (AAU) dengan hasil psikologinya yang sangat memuaskan. "Dengan tinggi 182 cm, AHY diyakini bisa lolos menjadi Pilot Pesawat Tempur di TNI AU. Tapi, saat proses seleksi wawancara, AHY kembali menolak untuk menjadi Pilot dan lebih memilih masuk Akademi Militer. Padahal hasil seleksi di Akademi Militer menunjukkan nilai psikologi AHY berada pada urutan ke-4 dari 300 lebih calon taruna," ujarnya.

Dengan kerja keras di Akmil menurut Jovan, AHY bukan hanya berprestasi di bidang pendidikan tapi juga dipilih menjadi komandan Resimen Korps Taruna di Akademi Militer atau orang nomor satu di organisasi kemahasiswaan.

"Tahun 2000, AHY menjadi lulusan terbaik dengan meraih pedang Trisakti Wiratama. Selain itu AHY diberi penghargaan Adhi Makayasa oleh Presiden Abdurrahman Wahid yang diserahkan oleh Wakil Presiden Megawati Soekarno Putri di Istana Merdeka Jakarta," paparnya.

Saat AHY lulus dari Akademi Militer, Satuan Penerbang TNI AD (Penerbad) sedang mencari perwira-perwira terbaik untuk menjadi pilot helikopter. Ketika itu TNI AD sedang membeli helikopter tempur jenis MI-35 dan MI-17 dari Rusia dalam jumlah besar, sehingga butuh banyak pilot baru. Sebagai salah satu perwira lulusan terbaik, AHY ditugaskan untuk mengikuti seleksi sebagai pilot helikopter tempur.

"Lagi-lagi, AHY lulus serangkaian seleksi, tetapi pada saat pendalaman wawancara, AHY menyatakan lebih memilih menjadi prajurit Korps Infanteri di lingkungan Kostrad," tandasnya.

Andai AHY memilih kesempatan menjadi pilot komersial Garuda, atau pilot pesawat tempur TNI AU atau pilot helikopter TNI AD, belum tentu AHY akan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, dengan tren elektabilitas yang terus meningkat seperti sekarang ini. "Memang masa depan adalah milik Tuhan, bukan milik manusia. Tapi pilihan-pilihan hidup yang diambil, menentukan jalan hidupnya dikemudian hari," tutup Jovan.***

wwwwwwhttps://143.198.234.52/sonic77https://159.223.193.153/https://64.23.207.118/http://152.42.220.57/