Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
17 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
12 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
23 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
16 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
12 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
16 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Olympic

Harusnya Jokowi Tinggalkan Legacy yang Baik, Bukan Malah Naikkan BBM

Harusnya Jokowi Tinggalkan Legacy yang Baik, Bukan Malah Naikkan BBM
Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Mulyanto. (Foto: Istimewa)
Minggu, 21 Agustus 2022 12:34 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi merupakan kebijakan yang berpotensi menyengsarakan rakyat. Alih-alih membuat rakyat susah, Presiden Joko Widodo seharusnya meninggalkan legacy yang baik jelang berakhirnya masa jabatan kepala negara di 2024.

Demikian hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Mulyanto kepada GoNews.co melalui pesan Whatsapp, Minggu (21/8/2022).

"Kebijakan yang memihak rakyat tentu lebih penting dibandingkan dengan opsi pembangunan lainnya di tahun politik dan akhir masa jabatan Presiden, agar pemerintahan Jokowi husnul khotimah," kata Mulyanto.

Mulyanto menilai, keputusan pemerintah menaikan BBM bukan pada waktu yang tepat. Sebab, itu justru hanya akan membuat masyarakat makin menderita setelah dua tahun lebih terdampak Covid-19.

Anggota Komisi VII DPR ini lantas mengurai inflasi tahunan saat ini sudah mencapai 3,94 persen, tertinggi sejak Oktober 2015.

Oleh karenanya, kenaikan BBM bersubsidi dikhawatirkan akan membuat inflasi melejit ke angka 7 atau 8 persen. Sebab kenaikan harga BBM bersubsidi akan mendorong secara berantai kenaikan harga barang dan jasa lainnya secara luas. "Ini tentu akan mencekik kehidupan rakyat dan menambah angka kemiskinan," tegasnya.***

wwwwww