Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
10 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
12 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
3
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
4
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
8 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
5
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
Umum
14 jam yang lalu
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
6
DPRD DKI Dorong Ancol Tingkatkan Daya Saing Lewat Inovasi Wisata
Metropolitan
12 jam yang lalu
DPRD DKI Dorong Ancol Tingkatkan Daya Saing Lewat Inovasi Wisata
Home  /  Berita  /  Olympic

Tuntut Penyerataan harga Tanah yang Digusur, Ratusan Warga Demo di Pintu Masuk PLTU Batang

Tuntut Penyerataan harga Tanah yang Digusur, Ratusan Warga Demo di Pintu Masuk PLTU Batang
Ratusan warga demo di depan pintu masuk PLTU Batang. (Foto: iNews TV/Suryono Sukarno).
Rabu, 18 Januari 2023 19:24 WIB

BATANG - Ratusan warga melakukan aksi unjuk rasa di depan pintu masuk PLTU Batang, Selasa (17/1/2023).

Mereka menuntut penyetaraan harga tanah yang sudah terbayar 10 tahun yang lalu. Warga yang demo merupakan eks pemilik lahan yang digunakan untuk pembangunan PLTU Batang. Warga yang berasal dari Desa Ujungnegoro, Karanggeneng dan Ponowareng.

Mereka menggelar orasi dan doa bersama untuk menuntut keadilan. Dalam aksi yang ke-34 ini, warga tetap menuntut penyetaraan harga tanah yang sudah terbayar 10 tahun yang lalu atau pada tahun 2012.

Mereka menganggap, pihak konsorsium atau tim pembebasan lahan tidak memenuhi azas keadilan saat transaksi jual beli dengan warga.

"Ada beberapa warga pemilik lahan yang dibayar Rp400.000. Sedangkan kami hanya menerima Rp100.000 per meter," kata korlap aksi, Darsini.

Warga mengancam akan terus melakukan aksi hingga tuntutan dipenuhi. Bahkan dalam minggu ini, warga sudah mengagendakan untuk menggelar aksi sebanyak tiga kali.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Olympic, Ekonomi, Voli, Jawa Tengah
wwwwww