Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
21 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
21 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
3
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
20 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
4
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
20 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
5
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
20 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
6
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Sepakbola
20 jam yang lalu
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Home  /  Berita  /  Olympic

PLN Diminta Belajar dari Proyek Kereta Cepat Indonesia-China agar Hindari Kerugian

PLN Diminta Belajar dari Proyek Kereta Cepat Indonesia-China agar Hindari Kerugian
Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto. (Dok PKS)
Selasa, 23 Mei 2023 19:28 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, minta PLN cermat dan ekstra hati-hati dalam menjalin kerjasama pengembangan transisi Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET) dengan perusahaan konstruksi China.

Menurut Mulyanto, PLN harus lebih berhati-hati memilih mitra kerja untuk menjalankan program stategis nasional (PSN). Jangan sampai, kesalahan memilih vendor, menyebabkan program strategis nasional menjadi mangkrak atau membengkak biayanya.

Seperti diberitakan, pekan ini PLN secara resmi menjalin kerjasama dengan China Communications Construction Dreging Co., Ltd, untuk membangun dan mengembangkan infrastruktur EBET di Indonesia.

"Harusnya peristiwa yang terjadi di proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) dapat menjadi pelajaran berharga bagi manajemen PLN dalam memilih mitra kerjasama.

Di proyek itu Indonesia sangat dirugikan karena harus membayar bunga lebih besar dan waktu pekerjaan yang molor lebih lama. Dari proyek bisnis to bisnis, jadi melibatkan negara. Ujung-ujungnya Indonesia terjebak utang yang lebih besar," ujar Mulyanto, Selasa (23/5/2023).

Karena itu Mulyanto minta PLN jangan terburu-buru membuat komitmen terkait mega proyek ini. PLN harus cermat dan profesional dalam bekerja sama dengan perusahaan asing, serta mengutamakan negara yang sudah berpengalaman menjalani program transisi EBET ini.

"Semua proyek strategis nasional tidak harus dikerjasamakan dengan perusahaan China. Apa memang sudah ada arahan seperti itu?" singgung Mulyanto.

Wakil Ketua FPKS DPR RI itu menegaskan Indonesia adalah negara berdaulat yang tidak boleh diatur oleh kepentingan asing manapun. Berbagai kerjasama yang dikembangkan harus mengutamakan dan menguntungkan kepentingan nasional.***

wwwwww