Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ardhi Tjahjoko Optimistis Persija Bisa Tampil Maksimal Hadapi Persebaya
DKI Jakarta
24 jam yang lalu
Ardhi Tjahjoko Optimistis Persija Bisa Tampil Maksimal Hadapi Persebaya
2
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
9 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
3
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
10 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
4
BMKG Prakirakan Hujan Membasahi Sejumlah Wilayah Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Hujan Membasahi Sejumlah Wilayah Jabodetabek Hari Ini
5
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
KOI
10 jam yang lalu
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
6
‎Bank Jakarta Banjir Pembukaan Rekening, Dana Rp5 Miliar Terhimpun di FinFest
Ekonomi
14 jam yang lalu
‎Bank Jakarta Banjir Pembukaan Rekening, Dana Rp5 Miliar Terhimpun di FinFest
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Yon Mardiono: Perlu Penambahan Pemain Junior untuk Pelatnas Tenis SEA Games

Yon Mardiono: Perlu Penambahan Pemain Junior untuk Pelatnas Tenis SEA Games
Yon Mardiono. (Ist)
Jum'at, 30 Mei 2025 18:00 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA -  Sebagai persiapan regenerasi dan prospek kejayaan tenis meja Indonesia ke depan maka pemusatan latihan nasional (Pelatnas) SEA Games Thailand 2025 sebaiknya tidak hanya menempa para pemain senior hasil seleksi nasional (Seleknas) Tenis Meja Piala Menpora 2025 yang berjalan lancar dan sukses di GBK Arena, Senayan, Jakarta, 25-29 Mei lalu.

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sebagai penanggung jawab Seleknas dan pelaksanaan pelatnas disarankan memasukkan para pemain junior sebagai pelapis.

“Seleknas ini bagus karena menjadi langkah obyektif dalam pemilihan pemain untuk pembentukan tim nasional. Sebelumnya kan dalam menghadapi perhelatan SEA Games pemilihan pemain tidak obyektif. Comot sana comot sini. Jadi ini langkah bagus yang obyektif untuk mencari pemain untuk Pelatnas,” kata mantan pemain nasional yang kini menjadi Sekretaris Jenderal Indonesia Pingpong League (Sekjen IPL) Yon Mardiyono di sela-sela pertandingan hari terakhir Seleknas Piala Menpora, Kamis (29/5/2025) malam.

Menyambut langkah bagus Kemenpora untuk kebangkitan prestasi tenis meja Indonesia itu, Yon mengusulkan, Pelatnas segera digelar usai Seleknas. Selain menentukan pemain yang dipanggil ke Pelatnas tentunya perlu juga segera menunjuk kepala pelatih dengan obyektif.

“Setelah pelatih kepala ditunjuk maka pelatih-pelatih dari pemain yang masuk Pelatnas juga dipanggil dan diajak untuk memberikan masukan serta bahkan membantu di Pelatnas. Mereka juga bisa diajak untuk memberikan masukan meskipun keputusan dan tanggung jawab tetap pada pelatih kepala,” ujar Yon yang juga pendiri dan pembina Onic Sport Club.

Dalam perbincangan dengan para awak media, sebelum melangkah lebih jauh soal persiapan tim SEA Games, Yon secara khusus mengusulkan agar di Pelatnas nanti juga bisa digembleng para pemain muda atau junior. Dia menyatakan, jika nanti yang dipilih 8 pemain putra dan 8 putri untuk Pelatnas maka perlu dilapis dengan pemain junior 4 putra dan 4 putri.

“Ini sebagai langkah penyiapan regenreasi dan prospek ke depan. Semangat kebangkitan tenis meja Indonesia melalui Seleknas ini harus dijadikan momentum menyiapkan langkah ke depan juga. Dengan masuknya para pemain junior ini maka kita akan memiliki pemain-pemain muda yang mumpuni ke depannya,” tegasnya.

Pemain junior, kata Yon, harus diberi ruang karena yang senior sekarang untuk dunia tidak bisa berbuat banyak. “Bukan berarti kita pesimistis. Tapi, kita harus mengukur lebih jauh. Jangka menengah kita ambil yang berusia 19 tahun, jangka panjang yang 12-13 tahun,” tuturnya.

Evaluasi Lewat Turnamen

Terkait persiapan SEA Games 2025 Thailand, Yon menegaskan tidak perlu melakukan Pelatnas di luar negeri. Dia mengusulkan lebih baik tetap basecamp di dalam negeri namun perlu diperkuat dengan mendatangkan pemain sparring dari luar negeri.

Langkah ini, katanya, selain lebih hemat dari sisi biaya juga akan bisa lebih efektif karena bisa memenuhi kebutuhan yang diprogramkan di Pelatnas.

“Misalnya kita Pelatnas di luar negeri belum tentu apa yang kita butuhkan bisa dipenuhi. Kita akan di atur mereka. Sebaliknya kalau mengundang pemain ke sini maka kita yang atur. Itu pengalaman saya,” kata Yon.

Sebaliknya, ujar Yon, kalau mengundang pemain ke Indonesia, selain akan lebih murah juga mereka bisa diminta untuk memberikan latihan yang dibutuhkan. Karena, mereka yang dijadikan sparring tidak perlu menetap sampai lima bulan penuh tetapi diganti setiap bulan karena pingpong itu yang pertama memang bagus tapi setelah sebulan sudah biasa lagi.

“Selain itu kita bisa menebarkan ilmu mereka bukan saja kepada atlet Pelatnas tetapi juga ke orang-orang yang suka melihat Pelatnas. Ini kan bisa jadi contoh bagi yang melihat atlet luar itu,” ungkapnya.

Dia juga menekankan Pelatnas itu sifatnya evaluasi sehingga tidak perlu ada seleksi lewat pertandingan lagi diantara pemain yang dibina.

“Kalau dalam lima bulan dilakukan seleksi maka tidak akan murni  mengingat masing-masing pemain menyimpan ilmunya  yang baru akan dikeluarkan saat seleksi. Jadi, saat Pelatnas hanya saling intip aja. Jangan sampai saat pelatnas sembunyi-sembunyi dan saat seleksi baru dikeluarin. Padahal musuh kita orang luar maka di Pelatnas harus habis-habisan dalam latihan sehingga benar-benar siap nantinya melawan mereka,” ujarnya.

Kalau dilakukan seleksi pemain lagi, kata Yon, hasilnya akan sama karena pemainnya itu-itu saja. ”Tidak bisa jadi acuan untuk melawan luar negeri. Karena mereka sudah saling bertemu. Yang masuk 8 besar kekuatannya tidak jauh berbeda,” tegasnya.

Sebagai wahana untuk mengevaluasi perkembangan pemain yang nantinya akan dipilih masuk tim ini, Yon menyatakan bisa dilakukan melalui banyak mengikuti pertandingan di evenat-event internasional.

“Misalnya nanti ada event IPL Asia Tenggara di Thailand, Juli. Kemudian ada UAH International Super Series V 2025, Juni, yang akan diikuti pemain-pemain ASEAN. Itu bisa jadi evaluasi,” terangnya.

Dengan memperbanyak ikut turnamen internasional juga bisa diuji mental  pemain dalam menghadapi pemain luar di luar negeri. Tidak hanya bagus saat bertanding di dalam negeri melawan pemain sendiri. “Kita ingin pemain yang juga tangguh bersaing di luar negeri. Bukan hanya jago kandang.” ***

wwwwww