Kritik Pedas dan Karangan Bunga BIN, BEM UGM dan Undip Akhiri Dukungan untuk BEM SI
![]() |
| Peserta aksi membuat grafiti saat mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang tergabung dalam BEM SI Kerakyatan melakukan unjuk rasa tuntut cabut UU TNI di depan DPRD Provinsi Jawa Barat di Bandung, 30 Juni 2025. (tempo/prima mulia) |
JAKARTA – Gejolak besar mengguncang tubuh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI). Dua kampus ternama, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Diponegoro, menyatakan mundur dari aliansi yang selama ini menjadi wadah kolektif gerakan mahasiswa nasional.
Langkah tegas itu diambil usai Musyawarah Nasional XVIII BEM SI di Padang, Sumatera Barat, dinilai jauh dari semangat perjuangan mahasiswa. Musyawarah yang berlangsung sejak Kamis (17/7/2025) diwarnai kericuhan, manuver politik, dan kehadiran tokoh-tokoh elit yang dituding mencederai independensi.
Para pejabat dan aparat yang hadir antara lain Ketua Umum Partai Perindo, Menpora, Wakil Gubernur Sumbar, Kapolda, hingga BIN Daerah Sumbar. Bahkan, karangan bunga ucapan selamat dari BIN terpajang mencolok di lokasi acara.
"Ini bukan lagi forum mahasiswa, tapi seperti ajang pencitraan kekuasaan," kata Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardianto, Sabtu (19/7/2025).
Menurut Tiyo, kehadiran para elit itu justru membungkam semangat kritis mahasiswa dan menciptakan atmosfer penuh kepentingan. “Kami tak ingin jadi bagian dari forum yang kehilangan marwahnya,” tegasnya.
Tak lama berselang, BEM Undip ikut mengambil sikap. Ketua BEM Undip, Aufa Atha Ariq, menyebut kehadiran karangan bunga dari BIN sebagai simbol matinya solidaritas. “Saat mahasiswa lain direpresi aparat, di sini malah disambut karangan bunga. Ironis,” katanya, Ahad (20/7/2025).
Ariq mengatakan, hasil musyawarah internal bersama seluruh BEM di Undip sepakat untuk mundur dari BEM SI. “Kami tak ingin jadi bagian dari panggung sandiwara kekuasaan,” ucapnya.
Panitia pelaksana dari BEM Universitas Dharma Andalas menanggapi tudingan itu dengan membela diri. Ketua BEM-nya, Rifaldi, menjelaskan bahwa pejabat Forkopimda Sumbar hadir sebagai bagian dari seremoni pembukaan dan sesuai protokol tempat. “Kami tetap independen dan kritis,” ujarnya.
Ia juga mengklaim karangan bunga dari BIN tidak diketahui sebelumnya. “Begitu kami tahu, langsung kami turunkan,” katanya.
Ketua Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, menyatakan aliansi menghormati keputusan UGM dan Undip. Ia menekankan perbedaan arah gerakan adalah hal wajar. “Kami tidak bisa menahan siapa pun. Tapi kami sangat menghargai kontribusi mereka selama ini,” ujarnya, Senin (21/7/2025).
Meski demikian, Muzammil mengakui kepergian dua kampus tersebut merupakan pukulan yang harus dijadikan refleksi. “UGM dan Undip adalah pilar sejarah gerakan ini. Kami tidak akan menyangkal, keluarnya mereka meninggalkan luka,” ucapnya.
Langkah tegas itu diambil usai Musyawarah Nasional XVIII BEM SI di Padang, Sumatera Barat, dinilai jauh dari semangat perjuangan mahasiswa. Musyawarah yang berlangsung sejak Kamis (17/7/2025) diwarnai kericuhan, manuver politik, dan kehadiran tokoh-tokoh elit yang dituding mencederai independensi.
Para pejabat dan aparat yang hadir antara lain Ketua Umum Partai Perindo, Menpora, Wakil Gubernur Sumbar, Kapolda, hingga BIN Daerah Sumbar. Bahkan, karangan bunga ucapan selamat dari BIN terpajang mencolok di lokasi acara.
"Ini bukan lagi forum mahasiswa, tapi seperti ajang pencitraan kekuasaan," kata Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardianto, Sabtu (19/7/2025).
Menurut Tiyo, kehadiran para elit itu justru membungkam semangat kritis mahasiswa dan menciptakan atmosfer penuh kepentingan. “Kami tak ingin jadi bagian dari forum yang kehilangan marwahnya,” tegasnya.
Tak lama berselang, BEM Undip ikut mengambil sikap. Ketua BEM Undip, Aufa Atha Ariq, menyebut kehadiran karangan bunga dari BIN sebagai simbol matinya solidaritas. “Saat mahasiswa lain direpresi aparat, di sini malah disambut karangan bunga. Ironis,” katanya, Ahad (20/7/2025).
Ariq mengatakan, hasil musyawarah internal bersama seluruh BEM di Undip sepakat untuk mundur dari BEM SI. “Kami tak ingin jadi bagian dari panggung sandiwara kekuasaan,” ucapnya.
Panitia pelaksana dari BEM Universitas Dharma Andalas menanggapi tudingan itu dengan membela diri. Ketua BEM-nya, Rifaldi, menjelaskan bahwa pejabat Forkopimda Sumbar hadir sebagai bagian dari seremoni pembukaan dan sesuai protokol tempat. “Kami tetap independen dan kritis,” ujarnya.
Ia juga mengklaim karangan bunga dari BIN tidak diketahui sebelumnya. “Begitu kami tahu, langsung kami turunkan,” katanya.
Ketua Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, menyatakan aliansi menghormati keputusan UGM dan Undip. Ia menekankan perbedaan arah gerakan adalah hal wajar. “Kami tidak bisa menahan siapa pun. Tapi kami sangat menghargai kontribusi mereka selama ini,” ujarnya, Senin (21/7/2025).
Meski demikian, Muzammil mengakui kepergian dua kampus tersebut merupakan pukulan yang harus dijadikan refleksi. “UGM dan Undip adalah pilar sejarah gerakan ini. Kami tidak akan menyangkal, keluarnya mereka meninggalkan luka,” ucapnya. ***
| Editor | : | Muhammad Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | tempo.co |
| Kategori | : | Umum, DKI Jakarta, Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat |













