Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Marciano Beri Semangat Atlet Balap Sepeda Raih Prestasi di Youth Olympic Games Dakar 2026
Olympic
22 jam yang lalu
Marciano Beri Semangat Atlet Balap Sepeda Raih Prestasi di Youth Olympic Games Dakar 2026
2
Mulyanto: Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat
MPR RI
23 jam yang lalu
Mulyanto: Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat
3
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
Sepakbola
22 jam yang lalu
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
4
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
Nasional
23 jam yang lalu
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
5
Bernando Tavares Ungkap Alasan Persebaya Lepas Gali Freitas
Sepakbola
23 jam yang lalu
Bernando Tavares Ungkap Alasan Persebaya Lepas Gali Freitas
6
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
9 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Home  /  Berita  /  Umum

Kritik Pedas dan Karangan Bunga BIN, BEM UGM dan Undip Akhiri Dukungan untuk BEM SI

Kritik Pedas dan Karangan Bunga BIN, BEM UGM dan Undip Akhiri Dukungan untuk BEM SI
Peserta aksi membuat grafiti saat mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang tergabung dalam BEM SI Kerakyatan melakukan unjuk rasa tuntut cabut UU TNI di depan DPRD Provinsi Jawa Barat di Bandung, 30 Juni 2025. (tempo/prima mulia)
Senin, 21 Juli 2025 20:19 WIB

JAKARTA – Gejolak besar mengguncang tubuh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI). Dua kampus ternama, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Diponegoro, menyatakan mundur dari aliansi yang selama ini menjadi wadah kolektif gerakan mahasiswa nasional.

Langkah tegas itu diambil usai Musyawarah Nasional XVIII BEM SI di Padang, Sumatera Barat, dinilai jauh dari semangat perjuangan mahasiswa. Musyawarah yang berlangsung sejak Kamis (17/7/2025) diwarnai kericuhan, manuver politik, dan kehadiran tokoh-tokoh elit yang dituding mencederai independensi.

Para pejabat dan aparat yang hadir antara lain Ketua Umum Partai Perindo, Menpora, Wakil Gubernur Sumbar, Kapolda, hingga BIN Daerah Sumbar. Bahkan, karangan bunga ucapan selamat dari BIN terpajang mencolok di lokasi acara.

"Ini bukan lagi forum mahasiswa, tapi seperti ajang pencitraan kekuasaan," kata Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardianto, Sabtu (19/7/2025).

Menurut Tiyo, kehadiran para elit itu justru membungkam semangat kritis mahasiswa dan menciptakan atmosfer penuh kepentingan. “Kami tak ingin jadi bagian dari forum yang kehilangan marwahnya,” tegasnya.

Tak lama berselang, BEM Undip ikut mengambil sikap. Ketua BEM Undip, Aufa Atha Ariq, menyebut kehadiran karangan bunga dari BIN sebagai simbol matinya solidaritas. “Saat mahasiswa lain direpresi aparat, di sini malah disambut karangan bunga. Ironis,” katanya, Ahad (20/7/2025).

Ariq mengatakan, hasil musyawarah internal bersama seluruh BEM di Undip sepakat untuk mundur dari BEM SI. “Kami tak ingin jadi bagian dari panggung sandiwara kekuasaan,” ucapnya.

Panitia pelaksana dari BEM Universitas Dharma Andalas menanggapi tudingan itu dengan membela diri. Ketua BEM-nya, Rifaldi, menjelaskan bahwa pejabat Forkopimda Sumbar hadir sebagai bagian dari seremoni pembukaan dan sesuai protokol tempat. “Kami tetap independen dan kritis,” ujarnya.

Ia juga mengklaim karangan bunga dari BIN tidak diketahui sebelumnya. “Begitu kami tahu, langsung kami turunkan,” katanya.

Ketua Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, menyatakan aliansi menghormati keputusan UGM dan Undip. Ia menekankan perbedaan arah gerakan adalah hal wajar. “Kami tidak bisa menahan siapa pun. Tapi kami sangat menghargai kontribusi mereka selama ini,” ujarnya, Senin (21/7/2025).

Meski demikian, Muzammil mengakui kepergian dua kampus tersebut merupakan pukulan yang harus dijadikan refleksi. “UGM dan Undip adalah pilar sejarah gerakan ini. Kami tidak akan menyangkal, keluarnya mereka meninggalkan luka,” ucapnya. 

Langkah tegas itu diambil usai Musyawarah Nasional XVIII BEM SI di Padang, Sumatera Barat, dinilai jauh dari semangat perjuangan mahasiswa. Musyawarah yang berlangsung sejak Kamis (17/7/2025) diwarnai kericuhan, manuver politik, dan kehadiran tokoh-tokoh elit yang dituding mencederai independensi.

Para pejabat dan aparat yang hadir antara lain Ketua Umum Partai Perindo, Menpora, Wakil Gubernur Sumbar, Kapolda, hingga BIN Daerah Sumbar. Bahkan, karangan bunga ucapan selamat dari BIN terpajang mencolok di lokasi acara.

"Ini bukan lagi forum mahasiswa, tapi seperti ajang pencitraan kekuasaan," kata Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardianto, Sabtu (19/7/2025).

Menurut Tiyo, kehadiran para elit itu justru membungkam semangat kritis mahasiswa dan menciptakan atmosfer penuh kepentingan. “Kami tak ingin jadi bagian dari forum yang kehilangan marwahnya,” tegasnya.

Tak lama berselang, BEM Undip ikut mengambil sikap. Ketua BEM Undip, Aufa Atha Ariq, menyebut kehadiran karangan bunga dari BIN sebagai simbol matinya solidaritas. “Saat mahasiswa lain direpresi aparat, di sini malah disambut karangan bunga. Ironis,” katanya, Ahad (20/7/2025).

Ariq mengatakan, hasil musyawarah internal bersama seluruh BEM di Undip sepakat untuk mundur dari BEM SI. “Kami tak ingin jadi bagian dari panggung sandiwara kekuasaan,” ucapnya.

Panitia pelaksana dari BEM Universitas Dharma Andalas menanggapi tudingan itu dengan membela diri. Ketua BEM-nya, Rifaldi, menjelaskan bahwa pejabat Forkopimda Sumbar hadir sebagai bagian dari seremoni pembukaan dan sesuai protokol tempat. “Kami tetap independen dan kritis,” ujarnya.

Ia juga mengklaim karangan bunga dari BIN tidak diketahui sebelumnya. “Begitu kami tahu, langsung kami turunkan,” katanya.

Ketua Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, menyatakan aliansi menghormati keputusan UGM dan Undip. Ia menekankan perbedaan arah gerakan adalah hal wajar. “Kami tidak bisa menahan siapa pun. Tapi kami sangat menghargai kontribusi mereka selama ini,” ujarnya, Senin (21/7/2025).

Meski demikian, Muzammil mengakui kepergian dua kampus tersebut merupakan pukulan yang harus dijadikan refleksi. “UGM dan Undip adalah pilar sejarah gerakan ini. Kami tidak akan menyangkal, keluarnya mereka meninggalkan luka,” ucapnya. ***

wwwwww