Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Marciano Beri Semangat Atlet Balap Sepeda Raih Prestasi di Youth Olympic Games Dakar 2026
Olympic
22 jam yang lalu
Marciano Beri Semangat Atlet Balap Sepeda Raih Prestasi di Youth Olympic Games Dakar 2026
2
Mulyanto: Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat
MPR RI
23 jam yang lalu
Mulyanto: Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat
3
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
Sepakbola
22 jam yang lalu
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
4
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
Nasional
23 jam yang lalu
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
5
Bernando Tavares Ungkap Alasan Persebaya Lepas Gali Freitas
Sepakbola
23 jam yang lalu
Bernando Tavares Ungkap Alasan Persebaya Lepas Gali Freitas
6
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
9 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Industri Hijau Siap Ciptakan 1,7 Juta Lapangan Kerja, Tapi Butuh Dana Tambahan

Industri Hijau Siap Ciptakan 1,7 Juta Lapangan Kerja, Tapi Butuh Dana Tambahan
Selasa, 22 Juli 2025 16:53 WIB

JAKARTA – Masa depan hijau Indonesia tak hanya soal lingkungan, tapi juga peluang ekonomi besar. Industri rendah emisi diproyeksikan mampu menyerap hingga 1,7 juta tenaga kerja dan menyumbang Rp638 triliun terhadap PDB nasional pada 2030, asalkan didukung investasi yang cukup.

Institute for Essential Services Reform (IESR) menegaskan, arah kebijakan dan pendanaan yang terfokus akan menentukan keberhasilan transformasi menuju industri beremisi rendah.

"Dengan investasi memadai, industri hijau dapat mengakselerasi pertumbuhan," ujar peneliti IESR, Juniko, Selasa (22/7/2025).

Namun, tantangannya besar. Untuk mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) 2030, dibutuhkan investasi sekitar Rp4.650 triliun. Saat ini baru terpenuhi Rp2.261 triliun, meninggalkan kesenjangan sebesar Rp2.389 triliun.

IESR menyoroti lima pilar utama menuju nol emisi bersih (NZE) di sektor industri: dekarbonisasi sistem kelistrikan, bahan bakar rendah emisi, efisiensi energi, efisiensi sumber daya, serta teknologi bersih dan penangkapan karbon (carbon capture, utilization, and storage/CCUS).

Sayangnya, hingga 2023, baru 217 dari 450 industri yang melaporkan penerapan manajemen energi, jauh dari target efisiensi 5,28 juta ton setara minyak (MTOE) pada 2030 sebagaimana diamanatkan PP No. 33 Tahun 2023.

IESR mencatat beberapa industri Indonesia menunjukkan intensitas energi yang sudah relatif baik secara global. Namun, komitmen jangka panjang dan langkah ambisius tetap diperlukan.

International Energy Agency (IEA) mengingatkan bahwa efisiensi energi harus ditingkatkan dua kali lipat menjadi lebih dari 4 persen per tahun hingga 2030. Bandingkan dengan target nasional yang masih 1,8 persen per tahun.

Industri hijau bukan sekadar wacana. Di tengah tantangan iklim dan tekanan global, sektor ini justru menawarkan solusi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. ***

wwwwww