Industri Hijau Siap Ciptakan 1,7 Juta Lapangan Kerja, Tapi Butuh Dana Tambahan
![]() |
JAKARTA – Masa depan hijau Indonesia tak hanya soal lingkungan, tapi juga peluang ekonomi besar. Industri rendah emisi diproyeksikan mampu menyerap hingga 1,7 juta tenaga kerja dan menyumbang Rp638 triliun terhadap PDB nasional pada 2030, asalkan didukung investasi yang cukup.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menegaskan, arah kebijakan dan pendanaan yang terfokus akan menentukan keberhasilan transformasi menuju industri beremisi rendah.
"Dengan investasi memadai, industri hijau dapat mengakselerasi pertumbuhan," ujar peneliti IESR, Juniko, Selasa (22/7/2025).
Namun, tantangannya besar. Untuk mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) 2030, dibutuhkan investasi sekitar Rp4.650 triliun. Saat ini baru terpenuhi Rp2.261 triliun, meninggalkan kesenjangan sebesar Rp2.389 triliun.
IESR menyoroti lima pilar utama menuju nol emisi bersih (NZE) di sektor industri: dekarbonisasi sistem kelistrikan, bahan bakar rendah emisi, efisiensi energi, efisiensi sumber daya, serta teknologi bersih dan penangkapan karbon (carbon capture, utilization, and storage/CCUS).
Sayangnya, hingga 2023, baru 217 dari 450 industri yang melaporkan penerapan manajemen energi, jauh dari target efisiensi 5,28 juta ton setara minyak (MTOE) pada 2030 sebagaimana diamanatkan PP No. 33 Tahun 2023.
IESR mencatat beberapa industri Indonesia menunjukkan intensitas energi yang sudah relatif baik secara global. Namun, komitmen jangka panjang dan langkah ambisius tetap diperlukan.
International Energy Agency (IEA) mengingatkan bahwa efisiensi energi harus ditingkatkan dua kali lipat menjadi lebih dari 4 persen per tahun hingga 2030. Bandingkan dengan target nasional yang masih 1,8 persen per tahun.
Industri hijau bukan sekadar wacana. Di tengah tantangan iklim dan tekanan global, sektor ini justru menawarkan solusi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. ***
| Editor | : | Muhammad Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Voli, Metropolitan, Ekonomi, DKI Jakarta, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat |













