Bendera One Piece Berkibar, Simbol Pop Kultur yang Menyuarakan Ketidakpuasan Rakyat
![]() |
| Gerakan pengibaran bendera jolly roger One Piece jelang HUT RI viral di media sosial. |
JAKARTA – Di tengah perayaan kemerdekaan yang kian dekat, gelombang ekspresi publik muncul dalam bentuk tak biasa. Bendera bajak laut dari manga One Piece, Jolly Roger bertopi jerami, terlihat berkibar di sejumlah titik. Bagi sebagian, ini hanyalah lelucon pop kultur. Namun bagi lainnya, ini adalah bentuk simbolik dari keresahan yang semakin dalam terhadap kondisi sosial-politik saat ini.
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan menilai fenomena ini sebagai ekspresi kekecewaan yang kreatif namun serius. Ia menyebut, masyarakat kini memilih jalur simbol untuk menyampaikan kritik—bukan lewat orasi, melainkan lewat ikon yang dikenal luas generasi muda.
"Simbol bisa lebih kuat dari pidato panjang. Ini bentuk protes yang muncul dari generasi yang tumbuh dengan One Piece, dan kini menggunakan dunia fiksional itu untuk menyampaikan kenyataan hidup mereka," ujar Anthony, Jumat (1/8/2025).
Bendera hitam dengan lambang tengkorak bertopi jerami itu bukan sekadar ikon manga. Dalam cerita One Piece, bendera bajak laut menjadi simbol perlawanan terhadap sistem yang menindas, serta cita-cita kebebasan dan keadilan. Dan ketika simbol itu dikibarkan di dunia nyata, maknanya pun melampaui sekadar fandom.
Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad memandang fenomena ini dengan lebih waspada. Ia menyebut munculnya bendera tersebut sebagai bagian dari upaya sistematis untuk mengganggu persatuan bangsa menjelang HUT ke-80 RI.
"Kami mendapat laporan dari lembaga keamanan dan intelijen soal potensi gerakan yang ingin memecah belah bangsa. Imbauan saya, mari kita tetap bersatu dan tidak terprovokasi," kata Dasco, Kamis (31/7/2025).
Namun sejauh ini, tak ada bukti kuat bahwa pengibaran bendera tersebut adalah bagian dari gerakan terkoordinasi atau bermotif separatis. Sebaliknya, bagi sebagian anak muda, ini hanyalah bentuk penyaluran frustrasi mereka atas sistem yang dianggap tak berpihak.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam era digital dan budaya pop, protes tak lagi hanya berlangsung di jalan. Dunia fiktif bisa menjadi medium aktual untuk menyuarakan tuntutan akan keadilan, kebebasan, dan perubahan. ***
| Editor | : | Muhammad Rafdinal Ardianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Voli, Metropolitan, DKI Jakarta |












