Prabowo dan Operasi Senyap Menata Ulang Peta Kekuasaan Ekonomi
![]() |
| Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Youtube Sekretariat Presiden) |
Penulis: Duddy S. Sutandi, Pengamat Sosial
Dengan gayanya yang khas, Prabowo justru tengah melakukan operasi senyap—strategi ala militer yang sunyi tetapi efektif—untuk menutup kran aliran dana dan ruang gerak oligarki.
Restrukturisasi BUMN dan pembatasan akses oligarki ke bank-bank pelat merah adalah sinyal kuat. Pintu-pintu yang selama ini menjadi sumber kekuatan oligarki perlahan ditutup, bukan lewatg konfrontasi frontal yang gaduh, melainkan lewat langkah senyap yang sistematis.
Nasionalisme Ekonomi dan Jihad Sunyi
Apa yang dilakukan Prabowo menghidupkan kembali nasionalisme ekonomi, sebagaimana garis perjuangan Bung Karno dan Bung Hatta: kedaulatan politik mustahil tanpa kedaulatan ekonomi. Spirit Trisakti menemukan napasnya lagi, ketika negara mulai mengambil kendali dari segelintir elite rente.
Lebih jauh, ini adalah jihad sunyi melawan oligarki. Mereka adalah penjajah baru yang menghisap sumber daya publik. Prabowo memahami, perang terbuka hanya akan menimbulkan gejolak, sementara operasi senyap memastikan perubahan berjalan tanpa guncangan besar.
Danantara dan Reposisi BUMN
Pembentukan Danantara menjadi langkah penting. BUMN yang selama ini cenderung menjadi cost centre kini diarahkan menjadi profit centre bagi negara. Keputusan-keputusan finansial strategis ditempatkan langsung di bawah kendali Presiden. Dengan begitu, BUMN tidak lagi menjadi ladang subur oligarki, melainkan mesin keuangan negara yang menopang kedaulatan ekonomi.
Resonansi Historis
Langkah ini memiliki gema dalam sejarah. Soeharto pernah mengonsolidasikan Bulog di awal 1970-an untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus menutup ruang rente. Di Malaysia, Mahathir Mohamad memperkuat GLC sebagai mesin pembangunan sekaligus benteng dari dominasi asing. Kini, Prabowo melakukan hal serupa dengan konteks baru: menata BUMN dan finansial negara agar bebas dari cengkeraman oligarki.
Dimensi Global dan Pesan Moral
Di tengah turbulensi global, reposisi ini memperkuat posisi Indonesia. Pesannya jelas: Indonesia bukan pasar bebas oligarki global, melainkan negara berdaulat yang mampu mengatur dirinya sendiri.
Bagi generasi muda, ada pesan moral penting. Kepemimpinan sejati bukan soal teriakan keras atau pencitraan, melainkan strategi, keteguhan, dan keberanian melawan arus. Prabowo memberi contoh bahwa kekuatan sejati kadang lahir dalam kesenyapan.
Arsitek Perubahan
Jika konsisten, langkah ini bisa menandai berakhirnya dominasi oligarki. Prabowo bukan sekadar pewaris kekuasaan, melainkan arsitek perubahan yang menata ulang peta ekonomi dan politik nasional. Sama seperti Bung Karno yang mengguncang PBB dengan narasi kedaulatan, kini Prabowo meneguhkan arah bangsa menuju masa depan yang lebih berdaulat.
Penutup
Transformasi ini tentu tidak instan. Ia butuh kesabaran dan dukungan publik. Namun arah sudah jelas: negara kembali mengambil kendali, rakyat menjadi pemilik sah kekayaan bangsa. Jika jalan ini terus ditempuh, sejarah akan mencatat: Prabowo bukan hanya prajurit di medan perang, tetapi pemimpin transformasional yang menorehkan babak baru dalam perjalanan republik. ***
| Editor | : | Azhari Nasution |
| Kategori | : | Nasional, Kemenpora, DKI Jakarta |













